
Kedatangan Deputi BGN ke Bali dan Pembahasan Program SPPG
Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Tigor Pangaribuan, mengunjungi Bali pada Jumat (7/11) lalu. Kehadirannya dalam kunjungan tersebut bertujuan untuk meninjau perkembangan program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sedang berlangsung di wilayah Kabupaten Klungkung.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam pertemuan tersebut, Dr. Tigor menyampaikan bahwa saat ini sudah terdapat 110 dapur yang beroperasi di Bali. Dari jumlah tersebut, empat dapur masih dalam proses pembangunan, sementara satu dapur lainnya masih dalam tahap survei. Ia menjelaskan bahwa target dari program ini adalah mencapai sebanyak 1.049.967 penerima manfaat. Namun, hingga saat ini baru tercapai sekitar 275.127 orang.
Menurut Dr. Tigor, rencana pengoperasian seluruh dapur SPPG di Bali direncanakan akan selesai sepenuhnya pada Februari 2026. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Gubernur Bali, Wayan Koster, karena program SPPG di Bali telah mencapai 30 persen pelaksanaan.
Dr. Tigor berharap dengan adanya SPPG, penanganan masalah KEK (Kekurangan Energi Kronis) dan stunting dapat dipercepat melalui pola asuh 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, serta balita non-PAUD. Hal ini penting dilakukan agar kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak dan ibu, dapat meningkat secara signifikan.
Usulan Gubernur Koster untuk Meningkatkan Serapan Pangan Lokal
Mendengar penjelasan tersebut, Gubernur Koster menyarankan agar selama pelaksanaan program SPPG di Bali, perlu dipikirkan cara antisipasi jika terjadi kekurangan bahan pangan. Ia menegaskan bahwa hasil pertanian di Bali cukup memadai untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Oleh karena itu, Gubernur Koster berharap Badan Gizi Nasional (BGN) dapat meningkatkan penggunaan pangan lokal dalam program SPPG. Produk-produk seperti sayur mayur, telur, ikan, ayam, hingga buah-buahan Bali bisa menjadi bahan utama dalam penyediaan makanan bergizi.
"Serapan pangan lokal Bali harus ditingkatkan dalam program ini," ujar Gubernur Koster.
Respons Positif dari Deputi BGN
Usulan yang diajukan oleh Gubernur Koster mendapatkan respon positif dari Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Dr. Tigor Pangaribuan. Ia menilai bahwa langkah ini sangat penting untuk memastikan kelancaran dan keberlanjutan program SPPG di Bali.
Selain itu, ia juga menekankan bahwa kerja sama antara pemerintah daerah dan BGN sangat diperlukan untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, diharapkan program SPPG dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat Bali.
Tantangan dan Peluang dalam Pelaksanaan SPPG
Meskipun ada progres yang baik dalam pelaksanaan SPPG, masih ada tantangan yang perlu dihadapi. Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku yang cukup dan stabil. Untuk itu, perlu adanya strategi yang tepat dalam mengelola pasokan makanan, termasuk memperkuat jaringan distribusi dan memastikan kualitas produk yang digunakan.
Selain itu, pendidikan dan sosialisasi terhadap masyarakat juga penting dilakukan agar mereka memahami manfaat dari program SPPG. Dengan kesadaran yang tinggi, partisipasi masyarakat akan meningkat, sehingga program dapat berjalan lebih maksimal.
Kesimpulan
Program SPPG di Bali memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya pada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan BGN, serta penggunaan pangan lokal yang optimal, program ini dapat menjadi salah satu solusi efektif dalam mengatasi masalah gizi di Bali.
Pengembangan program ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia, sehingga upaya peningkatan kesehatan masyarakat secara nasional dapat tercapai.