Lonjakan Harga BBM Akibat Konflik Geopolitik
Pada akhir Februari 2026, terjadi lonjakan signifikan dalam harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara. Peristiwa ini dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran yang menyebabkan gangguan pasokan minyak global, khususnya di jalur strategis seperti Selat Hormuz. Sejumlah data menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM tidak hanya terjadi di satu atau dua negara, tetapi mencakup banyak wilayah di seluruh dunia.
Penyebab Kenaikan Harga BBM
Konflik Iran membuat pasar energi global menjadi sangat volatil. Banyak negara mengalami kenaikan harga BBM karena pasokan minyak terganggu dan biaya distribusi meningkat. Menurut laporan Visual Capitalist, perubahan harga BBM diamati di 128 negara sejak 23 Februari 2026 hingga 13 April 2026. Negara-negara dengan pasar BBM yang lebih terbuka cenderung mengalami kenaikan harga lebih cepat karena harga BBM langsung mengikuti fluktuasi pasar global.

Dampak pada Negara Tanpa Subsidi
Visual Capitalist juga menyoroti bahwa negara-negara dengan subsidi rendah atau sistem harga liberal mengalami lonjakan harga BBM yang lebih besar dibandingkan negara dengan kontrol harga pemerintah. Meskipun negara dengan kontrol harga pemerintah mampu menahan kenaikan harga BBM, hal ini dapat menimbulkan tekanan fiskal jangka panjang.
Selain itu, negara-negara yang bergantung pada impor minyak, terutama di Asia, lebih rentan terhadap gejolak harga akibat konflik geopolitik. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan mereka terhadap pasokan minyak dari luar negeri.

Daftar Negara dengan Kenaikan Harga BBM Terbesar
Berdasarkan data Visual Capitalist (Global Petrol Prices), berikut adalah daftar 15 negara dengan kenaikan harga BBM tertinggi sejak perang di Timur Tengah:
- Myanmar: naik 101,1 persen
- Filipina: naik 72,6 persen
- Malaysia: naik 68,1 persen
- Laos: naik 45,6 persen
- Zimbawe: naik 42,9 persen
- Pakistan: naik 42 persen
- Uni Emirat Arab: naik 40,8 persen
- Kamboja: naik 40,4 persen
- Nepal: naik 39,5 persen
- Panama: naik 38,5 persen
- Guatemala: naik 37,7 persen
- Tanzania: naik 37 persen
- Peru: naik 35,6 persen
- Amerika Serikat: naik 35,1 persen
- Malawi: naik 34,4 persen

Dampak Konflik Terhadap Pasar Minyak Global
Konflik antara AS dan Iran memicu peningkatan harga minyak global. Salah satu contohnya adalah ketika Iran kembali menutup Selat Hormuz, yang menyebabkan harga minyak melonjak sebesar 6 persen. Situasi ini juga memicu maraknya penjualan BBM ilegal di Hong Kong, yang menjadi salah satu pusat perdagangan minyak internasional.
Selain itu, harga minyak sempat menembus ambang batas 100 dolar AS per barel. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi para pemangku kebijakan dan pengusaha di sektor energi. Bos PLN mengatakan bahwa situasi ini merupakan "wake up call" bagi Indonesia untuk segera melakukan langkah-langkah mitigasi terhadap kenaikan harga BBM.