Berbagai Jenis Bencana yang Mengancam Bali
BPBD Bali menyebutkan bahwa terdapat 14 jenis bencana yang berpotensi terjadi di wilayah ini. Dari ke-14 jenis tersebut, sebanyak 10 di antaranya memiliki risiko tinggi. Salah satu yang paling sering terjadi adalah banjir. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, dalam rapat koordinasi terkait penanganan dan pencegahan banjir di DPRD Bali, pada Rabu 1 Oktober 2025.
Kajian resiko bencana ini telah ditetapkan dalam sebuah peraturan gubernur, karena akan menjadi pedoman bagi seluruh sektor, mengingat bencana adalah urusan bersama. Meskipun tanggung jawab utama tetap ada pada pemerintah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Jadi setelah ini yang pertama sebenarnya daftar resikonya ini apa? Ini bukan nilai statis. Ketika suatu daerah dikatakan berhasil dalam penanggulangan bencana, warna merah pada tabel akan berubah menjadi kuning, yang kuning berubah menjadi hijau, maka itulah dikatakan berhasil,” ujar Teja.

Lebih lanjut, ia memberikan contoh dari tahun 2020, ketika terjadi pandemi Covid-19 dan tabel berwarna merah sekarang berubah menjadi hijau, karena kapasitasnya meningkat. Maksudnya, seperti sudah banyak laboratorium dan rumah sakit yang mampu menangani kasus-kasus tersebut.
Banjir yang terjadi pada 10 September 2025 tidak hanya melanda Denpasar, tetapi juga Jembrana, Klungkung, Karangasem, Gianyar, dan Tabanan. Hanya kabupaten Buleleng yang relatif aman dari dampak banjir.
Dilihat dari jumlah 159 desa dari total 716 desa yang terdampak banjir. Kerusakan secara perekonomian seperti para pedagang pasar, warung, hingga tambak perikanan di Jembrana mencapai total 856. Sementara itu, kerusakan rumah mencapai sekitar 133 unit, dengan berbagai tingkat kerusakan mulai dari ringan hingga berat. Terdapat juga 3 TPS3R yang terdampak banjir.
“Nah untuk korban meninggal dunia memang sangat disayangkan sekali, jumlahnya 18 jiwa dan pencarian sudah dihentikan. Jadi ada 4 yang dinyatakan hilang, dan 18 yang meninggal dunia serta 1 luka berat yang mengalami patah rusuk, tapi sekarang sudah keluar dari rumah sakit,” jelasnya.
Jumlah pengungsi banjir sebanyak 812 orang, namun dalam waktu singkat setiap hari berangsur turun. Bencana ini terjadi, sejauh ini mungkin persepsi banyak orang disebabkan karena hujan, disebabkan tata ruang, tapi baginya di Badan Penanggulangan Bencana, bencana itu dapat terjadi apabila ancaman bertemu dengan kerentanan.
Faktor-faktor yang Menyebabkan Banjir
Pada saat terjadi banjir di Bali, terdapat hujan dan gelombang pasang pada tanggal 10 September 2025. Di mana hujan sebagian besar terjadi di bagian selatan Bali, dengan jumlah hujan ekstrem sebesar 390 mm per hari. Sedangkan angka ekstrem pada kisaran 150 mm, dengan angka 390 mm berarti 2 kali ekstrim plus 90. Hal ini terjadi di 20 titik di bagian selatan, di mana curah hujan ini adalah rekor baru, belum pernah terjadi rekor seperti itu dalam sejarah Bali.
Faktor ancaman kedua adalah pada tanggal 9 September 2025 malam, sampai dini hari masih pengaruh bulan Purnama sehingga terjadi gelombang pasang. Jam 11 malam waktu itu, terjadi gelombang pasang 2,6 meter dan dini hari masih 1,6 meter dan cukup mengganggu kelancaran air mengalir ke laut.
“Ketika ancaman bertemu dengan kerentanan, ini masalah kita bersama tentang sampah, kemudian kapasitas sungai, juga ada masalah sedimentasi, pembangunan di sempadan,” sambungnya.
Badan-badan sungai juga agak terganggu, terutama di Denpasar dengan titik-titik terparahnya di belokan-belokan yang ada pada badan sungai, di antaranya di wilayah Pasar Badung, Hassanudin, Jalan Pulau Biak dan Jalan Nusa Kambangan.

Prinsipnya memang perlu meningkatkan tutupan lahan hijau, sepanjang seluruh aliran sungai, terutama aliran daerah Tukad Badung.
Daerah Aliran Sungai yang Perlu Diperhatikan
Kalau dilihat sungai-sungai yang bermasalah kemarin, terutama daerah aliran Jembrana, itu adalah daerah sungai Loloan dan Das Bilukpoh. Kemudian untuk yang melewati Denpasar ini, Das Ayung, Das Yehpoh, Das Mati, Das Badung, dan Das Singapadu. Berikutnya juga Das Tanah Ampoh, Das Tetengan, Das Alap, Das Cicing, dan Das Campuan. Artinya ini adalah karakter Das yang perlu menjadi atensi ke depan.
Jadi kesimpulannya sebagai terakhir, apa yang terjadi pada tanggal 10 September 2025 adalah terdapat rekor baru curah hujan, kemudian air pasang pada saat hujan ekstrem, area tata tutupan lahan yang masih perlu optimalkan. Juga tata ruang masih PR, law enforcement ke depan lebih dikuatkan kembali, tata kelola sampah dan belum ada sistem peringatan dini banjir.
“Oleh karena itu, apa yang bisa kita lakukan ke depan tentu teorinya cuma satu, mitigasi. Mitigasi itu ada dua hal, mitigasi struktural dan non-struktural,” tutupnya.