
Realisasi Investasi Tahun 2025 di Kabupaten Bangka Mengalami Penurunan
Realisasi investasi di Kabupaten Bangka pada tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini diketahui berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DINPMP2KUKM) Kabupaten Bangka.
Sebelumnya, target investasi untuk tahun 2025 berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) tercatat sebesar Rp7.247.926.580.458 atau sekitar Rp7,2 triliun. Namun, hingga triwulan ketiga tahun 2025, realisasi investasi baru mencapai Rp3.926.058.502.264 atau sekitar Rp3,9 triliun. Dengan demikian, realisasi investasi di Kabupaten Bangka hanya tercapai sebesar 54,16 persen.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2024, di mana realisasi investasi mencapai 173,99 persen. Target investasi pada tahun 2024 adalah sebesar Rp4.324.255.125.898 atau sekitar Rp4,3 triliun, sedangkan realisasi mencapai Rp7.523.831.086.753 atau sekitar Rp7,5 triliun.
Menurut Kepala DINPMP2KUKM Kabupaten Bangka, Dian Firnandy, realisasi investasi hingga akhir tahun 2025 diprediksi sebesar sekitar Rp4,3 triliun. "Artinya, ada penambahan sekitar Rp1 triliun lebih pada triwulan keempat tahun 2025. Namun, pasti tidak tercapai sesuai target. Minimal 60 persen lah, tergantung pelaku usaha," ujarnya saat diwawancara pada Rabu (24/12).
Faktor Penyebab Penurunan Realisasi Investasi
Dian Firnandy menyebutkan bahwa penurunan realisasi investasi tahun 2025 disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah tingginya target investasi yang ditentukan oleh Pemerintah Provinsi Babel. Selain itu, anggaran operasional yang digunakan untuk menggaet atau mengundang pelaku usaha juga menjadi kendala.
"Kita memang kinerja tidak berbasis anggaran, tapi anggaran itu menentukan hasil," jelasnya.
Ia mengakui bahwa pada tahun lalu, pihaknya melakukan sistem jemput bola kepada pelaku usaha untuk berinvestasi di Kabupaten Bangka. Namun, pada tahun 2025, anggaran tersebut sudah tidak ada lagi, bukan hanya di Bangka, tetapi juga di seluruh Babel.
Di APBD tahun 2025, anggaran untuk operasional hanya digunakan untuk perjalanan dinas dan pengawasan. "Itu saja," tambahnya.
Selain itu, ada pula faktor pemahaman pelaku usaha yang salah mengenai LKPM. Mereka mengira bahwa melaporkan LKPM berkaitan dengan pajak. Padahal menurut Dian Firnandy, LKPM tidak memiliki hubungan langsung dengan pajak.
"Orang takut ngelapor LKPM karena dipikir berpengaruh terhadap pajak, padahal tidak seperti itu. Pajak itu tergantung transaksi," ujarnya.
Tantangan dan Harapan di Tahun 2025
Meskipun realisasi investasi di Kabupaten Bangka mengalami penurunan, Dian Firnandy tetap optimis bahwa ada potensi peningkatan di triwulan keempat tahun 2025. Namun, ia mengakui bahwa pencapaian target akan sangat bergantung pada respons dan partisipasi pelaku usaha.
Untuk meningkatkan realisasi investasi, Dian Firnandy menyarankan adanya langkah-langkah strategis, seperti penguatan komunikasi dengan pelaku usaha dan peningkatan edukasi mengenai pentingnya pelaporan LKPM.
Dengan adanya perbaikan dalam aspek regulasi dan dukungan dari pihak terkait, diharapkan realisasi investasi di Kabupaten Bangka dapat meningkat dan mendekati target yang telah ditetapkan.