Kehidupan Keluarga Tatang di Rumah Sederhana yang Penuh Kebersamaan
Tatang (71) dan istrinya, Rusmiati (68), tinggal di rumah dua lantai berukuran 3x4 meter bersama anak, menantu, dan cucu-cucu mereka. Rumah yang ditinggali 11 orang tersebut bertempat di RT 15 RW 01 Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Alhasil, mereka harus berhimpitan saat beraktivitas pada siang maupun malam hari.
Rumah sederhana miliknya merupakan peninggalan orang tuanya. Ia lahir dan besar di rumah tersebut sejak 1950-an hingga kini menjalani masa tua. Rumah tersebut pernah terbakar saat kebakaran besar di Menteng pada 1962. Orang tuanya kemudian membangunnya kembali pada 1968. "Lalu orang tua saya meninggal. Saya tinggal di sini sama istri, anak, sampai sekarang sama cucu-cucu," jelas Tatang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
"Ya sejak dulu sampai sekarang belum pernah direnovasi. Paling hanya ditambal sedikit kalau ada yang bocor, kami perbaiki tangga kalau ada yang lepas," lanjutnya. "Kami mau perbaikan besar tidak ada uang. Boro-boro perbaikan, buat makan saja sehari-hari sulit," tuturnya.
Saat ini, Tatang dan Rusmiati sudah tidak lagi bekerja. Setahun belakangan, mereka berhenti berjualan makanan karena lokasi dagangan digusur. Sebelumnya, mereka berjualan makanan dan minuman di wilayah Tugu Proklamasi, Menteng. "Tapi saya jualannya kan di pinggiran. Saya kena gusuran. Kalau mau tebus tempat jualan yang ada sekarang kan mahal," ungkapnya. "Jadi kalau pas ada sedikit modal, saya jualan gorengan dan nasi uduk di depan rumah sini. Tapi setahun ini tidak ada modal, saya belum jualan lagi," tuturnya.
Sebelum berjualan, Tatang sempat menjadi petugas jaga malam di rumah salah seorang jenderal TNI di Menteng selama 22 tahun. Namun, setelah sang jenderal dan istrinya meninggal dunia, Tatang tidak lagi bekerja di rumah tersebut. Hasil kerja di keluarga jenderal tersebut ia gunakan untuk membiayai sekolah ketiga anaknya sampai SMA dan menikahkan mereka.
Sementara itu, anak-anak perempuan Tatang tidak ada yang bekerja. Dua anak menantu laki-laki Tatang bekerja serabutan sebagai pesuruh, sopir, maupun tukang parkir. Oleh karena itu, keluarga tersebut kini menyambung hidup dengan rezeki seadanya.
Tatang menjelaskan, rumah tersebut dihuni 11 orang. "Saya, istri saya, anak saya yang pertama dan suaminya beserta dua anaknya, lalu anak saya yang terakhir beserta suaminya dan tiga anaknya," imbuhnya. "Kalau malam, kami tidurnya berimpitan juga. Di lantai satu ada anak saya dan suaminya serta tiga anaknya yang tidur bersama. Lalu di lantai dua ada saya, istri saya, anak saya dan suaminya serta dua anaknya," sambungnya.
Pantauan menunjukkan bahwa lantai satu rumah dipenuhi perabotan berupa televisi, kulkas, meja makan dengan tumpukan peralatan makan, dispenser, lemari, hingga penanak nasi. Selain itu, ada sebuah kasur lantai yang digunakan tiga cucu Tatang tidur siang. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter tersebut, terdapat kamar mandi kecil dan toilet yang digunakan seluruh penghuni rumah.

Tatang dan Rusmiati kemudian mengajak melihat lantai dua rumah mereka. Pasangan tersebut naik perlahan melalui tangga kayu sederhana yang menghubungkan lantai satu dan dua. "Hati-hati ya Kak, tangganya sederhana," demikian kata Rusmiati. Tangga menuju lantai dua terdiri dari tujuh anak tangga kayu, enam di antaranya sedikit berbelok dan terasa goyang jika diinjak terburu-buru. Oleh karena itu, mereka harus melangkah pelan-pelan agar anak tangga tidak rusak.
Sesampainya di lantai dua, Tatang dan Rusmiati menunjukkan atap seng yang menaungi rumahnya. Mereka mengatakan, banyak bagian atap sudah berlubang sehingga air masuk ketika hujan turun. Ember atau wadah lain kerap dipasang untuk menampung air yang menetes di area tempat mereka beristirahat. Hujan deras yang mulai terjadi di Jakarta selalu membuat mereka was-was. "Ya di sini tempatnya seperti ini. Ini lantai dua tempat kami tidur berenam setiap malam," tutur Tatang.
Ia sambil menunjukkan lemari-lemari kayu dan plastik yang sudah usang tempat menyimpan pakaian seluruh anggota keluarganya. Di ruangan tersebut, terdapat tumpukan cucian kering yang belum dilipat tertumpuk di atas tempat tidur tanpa dipan. Sebuah jendela mengarah ke area jemuran di bagian atap. Dua kipas angin tua terus menyala untuk mengurangi hawa panas di lantai dua. "Kalau enggak ada kipas panas sekali. Makanya kami nyalakan terus. Kalau cucu tidur siang biar nyaman," kata Rusmiati.
Selain terkena air hujan, Rusmiati dan suami mengaku sering digigit tikus saat tidur pada malam hari. Cucu-cucu mereka pun mengalami hal yang sama. Tikus-tikus berasal dari lubang di dinding rumah. "Iya kalau digigit tikus sering juga. Cucu-cucu juga digigit. Untung bisa dihalau. Kalau malam memang banyak tikus," ungkap Rusmiati.
Kunjungan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman
Rumah Tatang dan Rusmiati menjadi sorotan setelah dikunjungi Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, pada Jumat (14/11/2025). Pada Jumat pekan lalu, Menteri PKP Maruarar Sirait berkunjung bersama timnya ke rumah Tatang dan Rusmiati. Tatang mengaku tidak menyangka tiba-tiba rumahnya dapat perhatian dari pejabat pusat. Meski tinggal di kawasan Menteng yang dekat pusat pemerintahan nasional, ia belum pernah mendapat bantuan perbaikan rumah.
"Saya dapatnya bansos PKH (program keluarga harapan) dan bansos beras," tutur Tatang. "Makanya saya Alhamdulillah sekali didatangi Pak Menteri Ara (Maruarar Sirait). Saya dan istri menangis." "Akhirnya doa kami dikabulkan Allah. Ada yang mau bantu renovasi rumah kami," katanya.

Menurut Tatang, Menteri Ara berkali-kali mengatakan rumah tersebut harus segera diperbaiki. "Pak Ara bilang berkali-kali, ini harus segera dibangun, harus segera dibangun. Mudah-mudahan segera dilancarkan pembangunannya." "Kami sudah siap jika harus pindah sementara waktu dari sini saat rumahnya direnovasi," tutur Tatang. Tatang juga menitip pesan kepada Menteri Ara agar ia bisa mendapat modal untuk kembali berjualan makanan. Meski sudah tua, ia mengaku masih kuat bekerja. "Saya masih semangat, masih kuat. Hanya memang tidak ada modal saja," tuturnya.