
Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 254 Orang, Pemerintah Tetapkan Hari Berkabung Nasional
Serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Israel di Lebanon pada Rabu (8/4/2026) menewaskan sebanyak 254 orang. Angka ini dirilis oleh Badan Pertahanan Sipil Lebanon setelah serangan tersebut menghancurkan beberapa area komersial dan perumahan padat penduduk di pusat Beirut. Selain itu, lebih dari 1.165 orang terluka dalam insiden tersebut.
Pemerintah Lebanon merespons dengan menetapkan hari Kamis (9/4/2026) sebagai hari berkabung nasional. Pengumuman ini dilakukan di tengah gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih rapuh. Gencatan senjata ini diberlakukan kurang dari 48 jam sebelum serangan Israel terjadi.
AS dan Iran sama-sama menyatakan kemenangan setelah menyetujui gencatan senjata selama dua minggu. Tujuan dari negosiasi ini adalah untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang di seluruh Timur Tengah dan memicu gejolak ekonomi global. Namun, kesepakatan ini segera retak ketika Israel melakukan serangan terberatnya di Lebanon, termasuk di pusat Beirut yang padat penduduk.
Serangan Israel dilakukan tanpa peringatan, menargetkan area-area penting di ibu kota. Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, mengatakan bahwa negaranya menghadapi "eskalasi berbahaya" setelah Israel meluncurkan "lebih dari 100 serangan udara" di seluruh negeri. Ia juga meminta bantuan organisasi internasional untuk membantu sektor kesehatan.
Kantor perdana menteri Lebanon mengumumkan bahwa hari Kamis akan menjadi "hari berkabung nasional untuk para martir dan korban luka dari serangan Israel yang menargetkan ratusan warga sipil yang tidak bersalah dan tidak berdaya." Penutupan administrasi publik dan penurunan bendera juga diperintahkan.
Beberapa jam kemudian, Hizbullah mengatakan telah menembakkan roket ke arah Israel sebagai tanggapan atas "pelanggaran" gencatan senjata AS-Iran. Israel menegaskan bahwa pertempuran mereka melawan kelompok Lebanon itu bukan bagian dari gencatan senjata. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa jika Iran ingin membiarkan negosiasi gagal karena Lebanon, itu adalah pilihan mereka.
Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengancam gencatan senjata dengan menyebut bahwa "dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi" telah dilanggar. Ia menyebut tiga dugaan pelanggaran AS terhadap rencana gencatan senjata, yaitu serangan berkelanjutan di Lebanon, drone yang memasuki wilayah udara Iran, dan penolakan hak negara itu untuk melakukan pengayaan uranium.
Di Lebanon, kepala hak asasi manusia PBB Volker Turk menyebut skala pembunuhan itu "mengerikan." Serangan tanpa peringatan di seluruh ibu kota Beirut memicu adegan mengerikan dan panik. Ali Younes, seorang warga yang sedang menunggu istrinya di dekat Corniche al-Mazraa, mengatakan orang-orang mulai berlari ke kiri dan ke kanan, sementara asap mengepul.
Lebih dari 1.700 orang telah tewas di Lebanon sejak Israel melancarkan serangan udara dan invasi darat bulan lalu. Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan bahwa mereka akan "memenuhi tugas kami dan memberikan tanggapan" jika Israel tidak menghentikan serangannya, sementara Hizbullah mengatakan mereka memiliki "hak" untuk menanggapi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negara itu tetap siap untuk menghadapi Iran jika perlu, karena masih memiliki "tujuan yang harus diselesaikan." Militer Israel mengatakan mereka terus mengejar tujuan "melucuti senjata" Hizbullah di Lebanon.
Kepala Pentagon Pete Hegseth juga bersumpah bahwa pasukan Amerika tetap siaga jika konflik kembali memanas.
Peringatan Israel dan Sikap Hizbullah
Saat asap mengepul di ibu kota, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memperingatkan pemimpin Hizbullah Naim Kassem bahwa "gilirannya akan tiba." Pada tahun 2024, Israel telah membunuh pemimpin Hizbullah sebelumnya, Hassan Nasrallah, dengan serangan udara.
Katz menyebut serangan hari Rabu sebagai pukulan terbesar terhadap Hizbullah sejak serangan yang menyebabkan pager yang digunakan oleh ratusan anggotanya meledak hampir bersamaan pada September 2024.
Sebelum serangan baru tersebut, seorang pejabat Hizbullah mengatakan kepada AP bahwa kelompok tersebut memberi kesempatan kepada para mediator untuk mengamankan gencatan senjata di Lebanon, tetapi “kami belum mengumumkan kepatuhan kami terhadap gencatan senjata karena Israel tidak mematuhinya.” Ia berbicara dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang untuk berkomentar di depan umum.
Pejabat Hizbullah itu mengatakan kelompok tersebut tidak akan menerima kembalinya status quo sebelum 2 Maret, ketika Israel melakukan serangan hampir setiap hari di Lebanon meskipun gencatan senjata secara nominal telah berlaku sejak perang Israel-Hizbullah terakhir yang berskala penuh berakhir pada November 2024.
“Kami tidak akan menerima jika Israel terus berperilaku seperti sebelum perang ini terkait dengan serangan,” katanya.
Hizbullah telah menembakkan rudal melintasi perbatasan beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu perang regional. Israel menanggapi dengan pemboman besar-besaran terhadap Lebanon dan invasi darat.
Kepala staf militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengatakan serangan itu bertujuan untuk melindungi warga Israel bagian utara yang telah menjadi sasaran tembakan hebat. Militer Israel mengatakan telah membunuh ratusan pejuang Hizbullah.
Lebih dari 1 juta orang telah mengungsi di Lebanon.