
Sebanyak 281 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengalami dampak dari bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Mahasiswa-mahasiswa ini mendapat berbagai bentuk bantuan, termasuk bantuan biaya hidup, keringanan UKT, hingga pendampingan konseling.
Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Rustamaji, menjelaskan bahwa pihak kampus melakukan pendataan secara menyeluruh. Pendataan ini mencakup bantuan biaya hidup, keringanan UKT, kebutuhan psikososial, dan pendampingan konseling.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Bantuan yang diberikan tidak hanya terbatas pada keringanan UKT dan bantuan biaya hidup harian. Ada juga bantuan makan, paket sembako, bantuan biaya kos, serta pendampingan konseling untuk membantu mahasiswa dalam menghadapi situasi sulit ini.
UGM telah menyalurkan voucer makan dua kali sehari, voucer makan di kantin Fakultas Ekonomika dan Bisnis, serta bantuan finansial sebesar Rp 2 juta per mahasiswa. Bantuan ini disalurkan pada periode Desember hingga Januari untuk mahasiswa Fakultas Farmasi.
Rustamaji menambahkan bahwa beberapa mahasiswa berpotensi mengajukan cuti akademik karena kondisi keluarga mereka di daerah asal yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, atau sumber penghasilan.
Dari total 281 mahasiswa yang terdampak, terdiri dari 81 mahasiswa dari Aceh, 93 dari Sumatera Utara, dan 43 dari Sumatera Barat. Sebagian dari mereka masih dalam tahap verifikasi di fakultas.
"UGM berupaya memastikan tidak ada mahasiswa terdampak yang terlewat," ujar Rustamaji.
Pesan Sultan
Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk mendata mahasiswa asal Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang keluarganya terdampak bencana.
Pemda DIY akan memberikan bantuan kepada para mahasiswa terdampak bencana ini.
"Kami sudah kontak kampus-kampus di Yogyakarta sekiranya ada keluarga yang di Sumatera ini punya anak yang jadi mahasiswa di Yogya saya mohon untuk bisa kami mendapatkan nama-nama itu," kata Sri Sultan di Kepatihan Pemda DIY, Selasa (9/12).
Sultan menjelaskan bahwa secara tradisi, Pemda DIY harus membantu mahasiswa yang kebetulan di tempat asalnya mengalami bencana.
"Selama ini sudah selalu kita lakukan," katanya.
"Pada waktu gempa di Aceh, di Sumatera Barat kita melakukan hal yang sama. Semoga harapan saya nggak ada (yang terdampak). Tapi kalau ada kami akan membantu kemungkinan orang tuanya sudah tidak mampu lagi mengirim kiriman untuk mereka belajar," katanya.
Bantuan yang diberikan rencananya dalam bentuk keringanan biaya kuliah.
"Kita ringankan biaya belajar, biaya kuliah. Dan yang kedua untuk living cost. Biasanya 8 bulan. Tapi kalau masih punya problem ya (dilanjutkan)," bebernya.