
Pembangunan Hunian Sementara untuk Masyarakat Terdampak Bencana
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) saat ini sedang melakukan pembangunan hunian sementara bagi masyarakat yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Program ini dilaksanakan melalui Direktorat Jenderal Prasarana Strategis dengan dukungan dari BUMN Karya sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut pernyataan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, pelaksanaan hunian sementara dilakukan sesuai dengan arahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Saat ini, lokasi yang telah ditetapkan berada di Aceh Tamiang dan Bener Meriah. Prioritas diberikan kepada Aceh Tamiang karena kesiapan lahan sudah terpenuhi.
Berdasarkan data Kementerian PU per 28 Desember 2025, jumlah rumah rusak berat di tiga provinsi tersebut mencapai 47.149 unit. Dari total tersebut, sebanyak 29.542 unit ditangani melalui pembangunan hunian sementara, sementara 17.057 unit lainnya mendapatkan bantuan Dana Tunggu Hunian.
Hunian sementara menjadi kebutuhan utama dalam fase transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan. Dody menegaskan bahwa Kementerian PU terus berkoordinasi dengan BNPB untuk memastikan percepatan pembangunan berjalan sesuai arahan.
Situasi di Aceh
Di Provinsi Aceh, jumlah rumah rusak berat tercatat sebanyak 38.169 unit. Pemerintah membangun 28.236 unit hunian sementara atau sekitar 74 persen dari total kerusakan. Sementara 9.996 unit lainnya dibantu melalui Dana Tunggu Hunian.
Salah satu lokasi pembangunan hunian sementara adalah di Kompleks DPRK, Kabupaten Aceh Tamiang. Hingga 30 Desember 2025 pukul 11.00 WIB, kata Dody, satu blok hunian yang berisi 12 unit modular telah memasuki tahapan pembangunan rangka. Adapun proses pemasangan atap dan panel dinding tengah berlangsung. Pondasi umpak untuk blok kedua juga telah rampung, sementara konstruksi blok ketiga mulai dikerjakan. Tujuh blok yang mampu menampung 336 orang ditargetkan berdiri seluruhnya pada Januari 2026.
Progres di Sumatera Utara dan Sumatera Barat
Di Sumatera Utara, dari total 6.322 unit rumah rusak berat, pembangunan hunian sementara mencakup 876 unit atau sekitar 14 persen. Dody mengatakan, sebanyak 4.833 unit lainnya memperoleh bantuan Dana Tunggu Hunian. Progres pembangunan terus didorong seiring kesiapan lahan dan logistik di lapangan.
Adapun di Sumatera Barat, tercatat 2.658 unit rumah rusak berat. Pemerintah merencanakan pembangunan 430 unit hunian sementara atau sekitar 16 persen, sementara 2.228 unit sisanya dibantu melalui Dana Tunggu Hunian.
Fasilitas Pendukung dan Konstruksi Hunian Sementara
Hunian sementara yang dibangun dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti dapur umum, area cuci, mushola, serta sarana sanitasi yang memadai. Fasilitas tersebut disiapkan untuk menjamin kebutuhan dasar masyarakat selama masa penampungan.
Dari sisi konstruksi, hunian sementara menggunakan sistem modular agar proses pembangunan berlangsung cepat dan aman. “Bangunan dirancang dengan rangka baja ringan, papan semen, lantai multipleks, serta atap zincalume untuk menjamin kekuatan, kenyamanan, dan kelayakan huni bagi warga terdampak bencana,” kata Dody.