Informasi Menarik Seputar Kota Padang
Berikut adalah sejumlah informasi menarik seputar Kota Padang yang dirangkum dalam populer Padang setelah tayang 24 jam terakhir:
1. Guru ASN Pelaku Sesama Jenis di Padang Langsung Dipecat, Tak Boleh Mengajar Mulai Hari Ini
Dinas Pendidikan (Disdik) Sumatera Barat mengambil tindakan tegas dengan langsung memproses pemecatan guru ASN di Kota Padang berinisial S (58) yang tertangkap basah diduga berhubungan sesama jenis.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Oknum ASN guru tersebut tertangkap basah bersama seorang mantan pelajar LVSZ (18) saat diduga melakukan hubungan sesama jenis di kamar mandi sebuah masjid pada Senin (15/12/2025).
Kepala Disdik Sumbar, Habibul Fuadi, menyatakan sangat prihatin dan terpukul menyikapi kasus yang mencoreng dunia pendidikan ini.
Dia menegaskan bahwa per hari ini, Selasa (16/12/2025), oknum guru ASN itu sudah tidak lagi mengajar dan sedang menjalani proses pemberhentian sebagai ASN aktif dan tenaga pendidik.
"Kami sangat menyayangkan dan merasa malu. Pihaknya membenarkan bahwa diduga pelaku ini merupakan ASN aktif di lingkungan pendidikan," tegas Habibul Fuadi saat dikonfirmasi pada Senin malam (15/12/2025).
Habibul Fuadi menegaskan saat ini Disdik Sumbar sudah melakukan pemeriksaan pada yang bersangkutan dan sedang dalam proses pemberhentian sebagai ASN dan tenaga pendidik.
Bahkan per hari ini, guru tersebut sudah tidak lagi mengajar.
"Ini menyangkut marwah guru, martabat sekolah, dan kepercayaan orang tua. Hasil pemeriksaan kami akan menjatuhkan hukuman disiplin berat untuk proses pemberhentian," ujarnya.
Ia menekankan bahwa ASN pendidikan, terutama guru, harus menjadi teladan dan bertanggung jawab moral di tengah masyarakat.
Perilaku yang mencederai nilai agama dan norma sosial tidak akan ditoleransi di lingkungan pendidikan Sumatera Barat.
Menyikapi persoalan ini, Habibul berharap agar masyarakat terutama orang tua siswa agar tetap tenang dan mempercayakan penanganan kasus pada pihak terkait.
Kronologi Penangkapan
Peristiwa memalukan ini terjadi pada Senin, 15 Desember 2025, sekitar pukul 10.45 WIB, di kamar mandi masjid yang berlokasi di Kelurahan Teluk Kabung Utara, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang.
Kapolsek Bungus Teluk Kabung, AKP Syamsurijal, membenarkan penangkapan kedua pelaku oleh pengurus masjid dan warga setempat.
"Identitas kedua pelaku, satu berinisial S (58) adalah ASN Guru, dan satu lagi LVSZ (18) adalah mantan pelajar," jelas AKP Syamsurijal.
Setelah tertangkap basah, kedua pelaku diamankan warga bersama barang bukti berupa dua unit ponsel dan satu unit kendaraan roda dua, sebelum akhirnya diserahkan ke Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang untuk diproses lebih lanjut.
2. Banjir Bandang Berulang di Batu Busuk Padang, Nenek 70 Tahun Trauma dan Pilih Mengungsi
Awan hitam yang perlahan datang dari hulu aliran Sungai Batu Busuk, mempercepat langkah Marnis menuju posko pengungsian di Mushola Al Barkah Rimbo Panjang, Batu Busuk, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (16/12/2025).
Sekitar pukul 16.03 WIB, ibu lima anak itu sudah mengangsur langkahnya ke posko pengungsian, sambil menjinjing tas kain berwarna merah.
Langkahnya pelan dan perlahan, menapaki pendakian bersudut 30 derajat.
Tanjakan sepanjang 700 meter itu, sudah rutin ia lewati selama enam hari terakhir, sejak banjir bandang makin menjadi-jadi di Batu Busuk.
“Biasanya jam 17.00 WIB, saya baru ke posko pengungsian. Tapi karena sudah mendung mau turun hujan, saya lebih cepat saja,” ujarnya.
Perempuan berusia 70 tahun itu, pergi ke posko pengungsian untuk tidur, akibat rasa cemas banjir bandang dan tanah longsor yang masih mengancam.
Bencana ini sudah hampir dua pekan silih berganti menghantam kawasan Batu Busuk, dari hanya menggerus dinding sungai sampai menghanyutkan rumah.
Kejadian berulang ini membuat Marnis takut untuk menghuni rumahnya saat malam hari, terlebih kondisinya yang sudah tua.
Terlebih anggota Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah menyarankannya untuk mengungsi, sejak hari pertama bencana.
“Saya takut merepotkan, kalau nanti air naik atau terjadi tanah longsor. Nanti anak saya dan warga kesulitan pula. Mending saya ke pengungsian,” ujarnya.

Sebenarnya Upik (sapaan akrabnya) sudah mengungsi sejak banjir bandang pertama melanda daerah tersebut, pada Selasa (25/11/2025) di posko pengungsian SMPN 44 Kota Padang.
Trauma Longsor 14 Tahun Silam Masih Membekas
Kecemasannya akan tragedi longsor 14 tahun silam masih membekas erat.
Longsor yang saat itu menimbun habis rumahnya, rumah yang saat ini kembali ia tempati setelah dibangun ulang.
“Sebenarnya satu pekan sebelum banjir bandang pertama, saya sudah kurang tidur, cemas longsor dan air naik. Bahkan kadang menumpang di rumah tetangga yang lebih aman,” ujarnya, yang tinggal bersama dua anak laki-lakinya.
Di posko pertama itu, Upik pergi dengan kendaraan roda dua, diantar anaknya atau menumpang dengan orang lain yang sedang melintas.
Kebetulan anak Upik setiap harinya tidur di rumah itu, jika tidak terjadi hujan.
“Kalau anak-anak masih muda, mereka bisa menyelamatkan diri. Tapi kalau hujan sudah turun saya larang,” ujarnya yang mengaku sudah memerintahkan anaknya untuk tidur di pengungsian mala mini.
Namun, akibat banjir bandang susulan yang makin parah membuat posko pengungsian itu dialihkan ke tempat sekarang.
Alhasil, Upik harus menempuh jalan sekitar 10 menit setiap harinya ke atas, dan 10 menit ke bawah.
Syukur-syukur ada kendaraan lewat, ia bisa menumpang.
Namun sejak lima hari terakhir sudah tidak ada kendaraan melintas akibat akses jalan putus, akibatnya langkah Upik makin panjang.
Jalan itu putus akibat dihantam banjir bandang, aliran sungai sejak banjir bandang pertama makin tidak karuan hingga menghanyutkan badan jalan.
“Ganti-ganti olahraga saja, setidaknya kaki kembali kuat,” ujarnya yang sehari-hari berladang dan mencari kayu bakar, sebelum banjir bandang melanda.
Upik mengaku, setiap pagi ia akan mengangsur jalan ke rumah, soalnya ia harus memasak untuk dirinya dan anak-anak.
Ia memilih memasak karena nasi di Posko Pengungsian baru datang pada siang hari, sedangkan ia sudah terbiasa sarapan makan nasi.
Kalau di rumah upik memasak nasi, lauknya terkadang mie, terkadang cabai merah giling dicampur minyak panas dan telur ayam.
“Kalau siang masih aman, air naik atau segala macamnya saya masih bisa lihat jadi bisa antisipasi. Malam yang agak susah,” ujarnya.
Upik baru kembali ke pengungsian pada sore hari, untuk pergi kesana biasanya ia membawa kain sarung, mukena, jaket dan kain selimut, semuanya ia masukan dalam tas kain.
Kalau malam Upik tidak terlalu bingung di pengungsian masalah perut, soalnya selalu ada makanan yang diantarkan dari dapur umum.
Dalam pendakian panjang itu, air muka Upik terlihat datar, helaan nafasnya masih teratur.
Ia melangkah dengan gontai, sesekali kepalanya menoleh ke kanan melihat aliran Sungai dan hamparan rumah yang sudah rata dengan tanah.
Upik berharap cuaca serupa ini bisa segera berakhir, ia ingin kembali menjalankan aktivitas hariannya, ke ladang dan mencari kayu.
“Kalau saya berharapnya, cepat normal. Sudah capek pula seperti ini terus hampir satu bulan,” ujarnya.
Belum selesai Upik menapaki pendakian itu, hujan sudah turun di Batu Busuk, alat berat langsung menepi, tim gabungan bergegas pergi dan para warga kembali berjalan keluar mengambil motornya yang di parkir di sekitar jembatan.
3. Jasad Anaknya Ditemukan, Ibu Korban Banjir Bandang Agam Langsung Pingsan Saat Terima Jenazah
Jasad korban banjir bandang Agam ditemukan dan diserahkan kepada pihak keluarga di RS Bhayangkara Padang, Polda Sumatera Barat, Senin (15/12/2025).
Saat menerima penyerahan jenazah secara simbolis, ibu korban langsung pingsan di ruang penjemputan.
Ia adalah ibu dari korban banjir bandang bernama Nabila Salsabila, pelajar SMA asal Korong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aie, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam.
Tubuhnya limbung hingga jatuh pingsan saat menerima penyerahan jenazah putri tercintanya secara simbolis dari Polda Sumbar.
Penyerahan dilakukan setelah Polda Sumbar memastikan identitas korban melalui proses Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri.
Beberapa kali sang ibu ditenangkan oleh suaminya, Afrizul. Namun duka kehilangan anak yang telah dua pekan dicari itu begitu berat untuk ditanggung.
Tangisnya pecah, seiring kepastian bahwa Nabila adalah salah satu korban yang berhasil diidentifikasi.
Sebelumnya, jenazah Nabila sempat dimakamkan oleh Polda Sumbar di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bungus, Kota Padang, karena belum diketahui identitasnya.
Namun setelah proses DVI Mabes Polri melalui pencocokan data antemortem dan postmortem memastikan identitas korban, keluarga memutuskan memindahkan makam Nabila ke TPU keluarga di Pasaman Barat.
Kesedihan yang sama tergambar jelas di wajah Afrizul. Ia berusaha tegar, namun mata yang sembab dan air mata yang terus mengalir tak mampu disembunyikan.
Dengan suara bergetar, Afrizul menceritakan momen pertama kali menerima kabar tentang putrinya.
“Kami baru diberi tahu kemarin sore oleh pihak Polda Sumbar. Diminta datang ke RS Bhayangkara untuk penjemputan anak kami, Nabila Salsabila, yang sudah dua minggu kami cari,” ujarnya lirih, saat ditemui aiotrade.
Afrizul datang bersama keluarga besar. Ia mengaku baru mengetahui bahwa putrinya telah lebih dulu dimakamkan beberapa hari lalu.
Meski demikian, keluarga sepakat memindahkan Nabila ke makam keluarga.
“Kami memang kurang tahu pasti sebelumnya. Tapi kami dengar Nabila sudah dimakamkan. Keluarga ingin dia dimakamkan di Pasaman Barat, di makam keluarga,” jelasnya.
Afrizul mengatakan, identitas Nabila diketahui melalui tes DNA. Setelah dua pekan pascabencana galodo, kondisi jenazah korban lainnya sudah sulit dikenali secara visual.
“Nabila dikenali lewat tes DNA. Korban lainnya sudah sulit dikenali karena waktu sudah lama,” katanya.
Nabila merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Jakarta, Nabila tumbuh sebagai anak yang dikenal penurut dan ringan tangan.
Afrizul menyebut putrinya kerap membantu mengelola rumah tahfiz yang ia dirikan sepulang merantau.
“Sejak menikah saya merantau ke Jakarta dan punya tiga anak. Namanya orang Minang, sejauh apa pun merantau, pasti pulang kampung. Saat pulang itu kami mendirikan rumah tahfiz untuk anak-anak TK dan SD. Sudah berjalan tiga tahun, dan Nabila sering membantu,” kenangnya.
Kini, sosok yang kerap membantu ayahnya itu telah pergi untuk selama-lamanya.
Saat penjemputan jenazah, Afrizul tampak mengenakan baju koko hitam, bersorban cokelat, dan peci putih.
Sorban itu beberapa kali digunakannya untuk menghapus air mata yang jatuh. Sang istri mengenakan gamis hitam dengan cadar senada, berdiri tertunduk di sisi suaminya.
Sementara itu, keluarga besar tampak menunggu di luar ruang penjemputan.
Mereka bersiap mengantarkan Nabila Salsabila menuju peristirahatan terakhir, mengiringi kepergian seorang anak, seorang pelajar, yang menjadi salah satu korban dari ganasnya bencana banjir bandang di Sumatera Barat.