3 Hari Mati Listrik di Aceh Utara Rusakkan Alat Elektronik, Warga Minta Ganti Rugi PLN

admin.aiotrade 01 Okt 2025 3 menit 14x dilihat
3 Hari Mati Listrik di Aceh Utara Rusakkan Alat Elektronik, Warga Minta Ganti Rugi PLN

ACEH UTARA, aiotrade
Beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, masih mengalami pemadaman listrik pada hari Rabu (1/10/2025). Wilayah yang terdampak meliputi Muara Batu, Nisam, Nisam Antara, Dewantara, Syamtalira Bayu, Syamtalira Arun, Samudera, dan beberapa daerah lainnya. Pemadaman ini menyebabkan berbagai aktivitas masyarakat terganggu.

Salah seorang warga Desa Keude Mane, Kecamatan Muara Batu, Mulyadi, mengungkapkan bahwa pemadaman listrik membuat aktivitas warga menjadi terhenti. Ia menjelaskan bahwa listrik sempat menyala kembali, tetapi hanya sebentar dan arusnya tidak stabil. “Lampunya hanya redup saja,” ujarnya. Menurutnya, kondisi ini bisa merusak peralatan rumah tangga. “Ini harus ditanggung oleh PLN,” tambahnya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Mulyadi juga menyoroti dampak dari pemadaman listrik terhadap aktivitas anak-anak. Ia menyatakan bahwa kegiatan mengaji pada malam hari terpaksa dihentikan karena tidak ada aliran listrik. “Tidak cukup sekadar minta maaf. Bagaimana peralatan warga yang rusak gara-gara arus listrik tidak stabil? Apa tanggung jawab PLN?” tanyanya dengan nada kesal.

Hal serupa dialami oleh Muammar, seorang warga Desa Keude Bayu, Kecamatan Syamtalira Bayu. Ia menilai bahwa PLN harus memberikan kompensasi atas kerusakan peralatan elektronik milik warga. Menurutnya, pemadaman listrik menyebabkan aktivitas kantor terhenti. “Untuk menghidupkan genset, butuh biaya tambahan. Seberapa mampu kita menghidupkan genset? Hanya satu atau dua jam saja mampu kita lakukan. Selebihnya tak mampu lagi,” jelas Muammar.

Ia menegaskan bahwa kerusakan peralatan elektronik seperti televisi dan kulkas harus menjadi tanggung jawab PLN. “Bagaimana kompensasinya? Masak hanya sekadar minta maaf?” tanyanya dengan nada protes.

Pemadaman listrik yang terjadi di wilayah-wilayah tersebut telah memicu keluhan dari masyarakat setempat. Banyak warga yang merasa kecewa dengan kualitas layanan yang diberikan oleh PLN. Mereka berharap pihak perusahaan dapat segera menyelesaikan masalah ini dan memberikan solusi yang memadai untuk menghindari gangguan serupa di masa depan.

Selain itu, warga juga meminta agar PLN lebih transparan dalam menjelaskan penyebab pemadaman listrik dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mencegah terulangnya kejadian ini. Dengan adanya komunikasi yang baik antara PLN dan masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan dan kenyamanan bagi pengguna layanan listrik.

Masalah pemadaman listrik ini juga menjadi perhatian serius bagi pemerintah setempat. Beberapa pihak terkait sedang mencari solusi jangka panjang agar pasokan listrik dapat kembali stabil dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam situasi seperti ini, masyarakat berharap agar PLN dapat segera mengambil tindakan yang cepat dan efektif. Tidak hanya menyelesaikan masalah secara teknis, tetapi juga memberikan perlindungan dan kompensasi yang layak bagi warga yang terkena dampak. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap layanan listrik dapat dipulihkan dan tercipta hubungan yang lebih harmonis antara pihak perusahaan dan pelanggan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan