3 Syarat Kapal Lintasi Selat Hormuz Menurut IRGC Iran

3 Syarat Kapal Lintasi Selat Hormuz Menurut IRGC Iran
3 Syarat Kapal Lintasi Selat Hormuz Menurut IRGC Iran

Update Terbaru Situasi di Timur Tengah

Pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Delegasi AS dan Iran diperkirakan akan tiba di Pakistan akhir pekan ini untuk melanjutkan negosiasi pada hari Senin, menurut sumber dari Iran. Meskipun demikian, beberapa poin masih menjadi kendala dalam pembicaraan tersebut.

Presiden AS Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan. Namun, seorang pejabat senior Iran meragukan konsistensi AS dalam menjaga komitmen mereka. Hal ini menunjukkan bahwa proses negosiasi masih sangat dinamis dan penuh tantangan.

Selat Hormuz: Kunci Perdagangan Global

Selat Hormuz, yang merupakan jalur laut penting bagi perdagangan minyak global, kembali dibuka setelah beberapa waktu ditutup oleh Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengumumkan bahwa selat tersebut akan dibuka untuk semua kapal komersial selama periode gencatan senjata. Pengumuman ini disampaikan melalui unggahan di akun X-nya pada Jumat, 17 April.

Beberapa jam setelah pengumuman tersebut, harga minyak dunia turun hingga 11 persen. Pembukaan selat ini dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump "memaksa" Israel melakukan gencatan senjata di Lebanon. Meski begitu, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan tiga syarat bagi kapal yang ingin melewati Selat Hormuz:

  • Kapal-kapal tersebut haruslah kapal komersial dan pelayaran kapal militer dilarang, serta kapal maupun muatannya tidak boleh terkait dengan negara-negara musuh.
  • Kapal harus melewati rute yang ditentukan oleh Iran.
  • Pelayaran kapal harus dikoordinasikan dengan pasukan Iran yang bertanggung jawab atas pelayaran tersebut karena CENTCOM, sebelum perang, telah mengkonfirmasi pengelolaan Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Sumber yang mengetahui informasi tersebut lebih lanjut menekankan bahwa penerapan beberapa prasyarat, termasuk gencatan senjata di Lebanon, merupakan kunci keputusan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Gencatan Senjata di Lebanon

Gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Hizbullah tampaknya sebagian besar tetap berlaku. Namun, Lebanon menuduh Israel melakukan beberapa pelanggaran gencatan senjata. Meski demikian, situasi di wilayah tersebut masih cukup stabil.

Ancaman Infrastruktur Iran

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kembali mengancam akan menyerang infrastruktur listrik Iran jika gencatan senjata gagal. Berdasarkan hukum internasional, menargetkan infrastruktur energi suatu negara secara sengaja dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

Kapal-kapal yang Kembali ke Iran

Dua puluh satu kapal telah berbalik arah dan kembali ke Iran sejak blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman dimulai pada 13 April, kata Komando Pusat AS pada Jumat malam. Sejak dimulainya blokade, 21 kapal telah mematuhi arahan dari pasukan AS untuk berbalik dan kembali ke Iran.

Perusahaan pelayaran tetap berhati-hati dalam melintasi selat tersebut, hanya segelintir kapal yang melewati jalur air penting itu pada hari Jumat. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun selat sudah dibuka, para pemain bisnis masih merasa waspada terhadap situasi politik yang terus berubah.