
Perundingan Tingkat Tinggi AS dan Iran Berakhir Tanpa Kesepakatan
Perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serat (AS) dan Iran yang digelar di Islamabad, ibukota Pakistan, pada Minggu (12/4/2026), berakhir tanpa mencapai kesepakatan. Pertemuan ini dilakukan dalam konteks gencatan senjata sementara selama dua pekan dalam konflik yang masih berlangsung antara AS-Israel dan Iran.
Ini merupakan pertemuan pertama antara kedua negara dalam lebih dari satu dekade sejak Revolusi Islam Iran 1979. Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyalahkan pihak AS atas kegagalan perundingan. Ia menyebut bahwa delegasi Iran telah membawa sejumlah inisiatif berorientasi ke depan, namun AS gagal membangun kepercayaan.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin delegasi Washington, juga mengakui bahwa perundingan berakhir tanpa hasil. Ia menyampaikan bahwa kabar buruknya adalah tidak adanya kesepakatan, dan menurutnya hal tersebut lebih merugikan Iran dibandingkan AS.
Perundingan yang berlangsung selama lebih dari 21 jam dinilai tidak menghasilkan terobosan signifikan, tetapi juga belum sepenuhnya gagal karena masih membuka ruang dialog lanjutan.
Pernyataan AS
Pemerintah AS menilai kegagalan perundingan terutama disebabkan oleh penolakan Iran terhadap tuntutan utama Washington, yakni komitmen tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Menurut Vance, hal tersebut merupakan tujuan utama Presiden AS Donald Trump dalam perundingan.
Washington juga menegaskan telah menyampaikan garis merah dan bahkan menawarkan apa yang disebut sebagai proposal terbaik dan final. Meski demikian, Trump sempat memberi sinyal bahwa kesepakatan bukan satu-satunya tujuan. Ia menyatakan bahwa mereka sedang bernegosiasi dan bahwa pencapaian kesepakatan atau tidak tidak terlalu berpengaruh karena mereka telah menang.
Namun, pengiriman delegasi tingkat tinggi ke Islamabad menunjukkan bahwa AS tetap memandang serius proses diplomasi tersebut.
Pernyataan Iran
Sebaliknya, Iran menyalahkan AS karena dinilai mengajukan tuntutan yang tidak masuk akal dan berlebihan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa keberhasilan diplomasi bergantung pada itikad baik dan keseriusan pihak lawan.
Ia menyebut bahwa berbagai isu telah dibahas dalam perundingan, termasuk Selat Hormuz, program nuklir, kompensasi perang, pencabutan sanksi, hingga penghentian total konflik. Iran juga menekankan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dalam satu pertemuan bukanlah hal yang mengejutkan. Diplomasi tidak pernah berakhir, kata Baqaei.
Ghalibaf menambahkan bahwa kini keputusan ada di tangan AS, apakah mampu membangun kepercayaan dengan Iran atau tidak.
Sikap Pakistan sebagai Mediator
Sebagai tuan rumah dan mediator, Pakistan menyerukan agar kedua pihak tetap mempertahankan gencatan senjata dan melanjutkan dialog. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menegaskan pentingnya menjaga komitmen terhadap gencatan senjata demi mencegah konflik kembali memanas.
Kami berharap kedua pihak melanjutkan dialog dengan semangat positif demi mencapai perdamaian yang berkelanjutan, ujarnya. Pakistan juga menyatakan akan terus berperan memfasilitasi komunikasi antara Washington dan Teheran ke depan.
Poin-Poin Utama yang Menjadi Kendala
Kegagalan perundingan tak lepas dari sejumlah isu krusial yang menjadi titik perbedaan mendasar antara kedua negara:
-
Program Nuklir Iran
Isu ini menjadi pusat konflik. AS menuntut jaminan tegas bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir maupun kemampuan untuk membuatnya. Sementara Iran bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil, meski membuka peluang negosiasi jika sanksi dicabut. Ketegangan meningkat setelah AS keluar dari kesepakatan nuklir 2015 dan kembali menjatuhkan sanksi, yang kemudian direspons Iran dengan meningkatkan tingkat pengayaan uranium hingga 60 persen. -
Status Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi titik panas lain dalam perundingan. Iran disebut mengusulkan penerapan biaya bagi kapal yang melintas, sementara AS menuntut jalur tersebut dibuka bebas tanpa pungutan. Penutupan jalur ini secara de facto telah memicu krisis energi global, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut. Lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global pun menjadi dampak langsung dari situasi ini. -
Perluasan Gencatan Senjata ke Lebanon
Iran juga mendorong agar gencatan senjata mencakup konflik yang melibatkan sekutunya di kawasan, termasuk kelompok Hizbullah di Lebanon. Namun, Israel menolak memasukkan operasi militernya di Lebanon ke dalam kesepakatan tersebut. Perbedaan ini memperumit upaya mencapai kesepakatan yang lebih luas dan komprehensif.
Meski belum menghasilkan kesepakatan, perundingan AS-Iran tetap membuka peluang dialog lanjutan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tetapi, dengan perbedaan mendasar yang masih tajam, masa depan gencatan senjata dan stabilitas kawasan Timur Tengah masih dipenuhi ketidakpastian. Para analis menilai, selama isu-isu inti seperti nuklir dan Selat Hormuz belum menemukan titik temu, jalan menuju kesepakatan damai masih akan panjang dan penuh tantangan.