
Angka Partisipasi Sekolah di Kabupaten Bekasi Terus Menurun
Angka partisipasi sekolah (APS) di Kabupaten Bekasi terus mengalami penurunan di setiap jenjang pendidikan. Jumlah siswa yang bersekolah mulai dari sekolah dasar, menengah pertama, hingga menengah atas/sederajat, terus berkurang. Bahkan, berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), hingga November 2025, terdapat 37.708 anak di Kabupaten Bekasi yang tidak bersekolah.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan label Kabupaten Bekasi sebagai daerah penyumbang investasi tertinggi di Jawa Barat. Di balik tingginya nilai investasi, rupanya banyak anak-anak tidak bersekolah di Kabupaten Bekasi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pada data lainnya, yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS), angka partisipasi murni (APM) di setiap jenjang pendidikan di Kabupaten Bekasi, terus menurun. Seperti diketahui, APM merupakan persentase penduduk yang bersekolah sesuai dengan kelompok usianya.
Pada tingkat sekolah dasar, APM mencapai 97,43% pada 2024. Persentase itu terbilang baik, karena berarti hampir seluruh anak pada usia SD (7-12 tahun) di Kabupaten Bekasi bersekolah.
Akan tetapi, pada jenjang SMP, partisipasi sekolah di Kabupaten Bekasi anjlok menjadi hanya 85,88%. Dengan data tersebut, berarti ada 11,55% siswa SD yang tidak melanjutkan ke SMP.
Sementara itu, partisipasi sekolah di jenjang SMA/sederajat hanya 59,15%. Persentase ini bahkan lebih rendah dibandingkan APM 2023 yang mencapai 63,19 persen.
Turunnya APM di tiap jenjang pendidikan bisa jadi disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya pindah tempat tinggal ke daerah lain atau mungkin tidak melanjutkan alias putus sekolah. Namun, jika ditinjau dari tingkat lama sekolah, putus sekolah bisa jadi penyumbang tertinggi rendahnya angka partisipasi sekolah di Kabupaten Bekasi.
Berdasarkan data BPS 2025, rata-rata lama sekolah di Kabupaten Bekasi hanya mencapai 10,07 tahun atau hingga kelas X SMA/sederajat.
Anak Tidak Sekolah Menjadi Sorotan
Di sisi lain, jumlah anak tidak sekolah (ATS) turut menjadi sorotan. Berdasarkan data Verval ATS Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen tahun 2025, sebanyak 37.718 anak di Kabupaten Bekasi tercatat sebagai ATS. Dari jumlah tersebut, 18.734 anak belum pernah mengenyam pendidikan formal, 10.076 anak putus sekolah di tengah jalan, dan 8.908 anak berhenti setelah lulus tanpa melanjutkan ke jenjang berikutnya.
”Memang ini menjadi perhatian kita semua. Pendidikan menjadi modal dasar suatu daerah. Investasi paling masuk akal untuk membangun kualitas manusia. Maka memang akan kami lakukan rapat menyeluruh terkait ini. Kami panggil seluruh pihak yang terkait, karena ini bukan hanya persoalan di Dinas Pendidikan tapi semua harus hadir,” kata Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bekasi Boby Agus Rahman.
Upaya Peningkatan Partisipasi Sekolah
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi Imam Faturahman mengakui jumlah tersebut tergolong tinggi dan bahkan cenderung meningkat setiap tahun ajaran baru. Sejumlah faktor menjadi penyebab, mulai dari keterbatasan akses sekolah, kondisi ekonomi keluarga, hingga faktor sosial budaya.
Untuk itu, kata Imam, penyelesaian persoalan ini harus dilakukan secara komprehensif dengan kolaborasi lintas sektor. Salah satunya, kata Imam, melakukan pendampingan di tiga desa dan satu kelurahan yang menjadi lokasi paling tinggi ATS. Dari pendampingan ini ditargetkan ATS turun hingga 20%.