45 Siswa Gagal Masuk Universitas Terkemuka Karena Bullying

admin.aiotrade 08 Nov 2025 3 menit 14x dilihat
45 Siswa Gagal Masuk Universitas Terkemuka Karena Bullying

Kebijakan Baru di Korea Selatan: Penolakan Pendaftar Universitas Akibat Riwayat Perundungan

Beberapa tahun terakhir, kebijakan penerimaan mahasiswa di Korea Selatan mengalami perubahan signifikan. Salah satu perubahan yang menarik perhatian adalah penolakan dua siswa dari Universitas Nasional Seoul (SNU) meskipun memiliki prestasi akademik yang luar biasa. Alasan penolakan ini bukan karena nilai mereka rendah, tetapi karena adanya catatan perundungan selama masa sekolah.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dari total 45 siswa yang gagal masuk universitas nasional utama, sebagian besar memiliki riwayat kekerasan di sekolah dasar, menengah, atau atas. Hal ini menunjukkan bahwa sistem penerimaan mahasiswa kini lebih mempertimbangkan karakter dan perilaku siswa, bukan hanya kemampuan akademik.

Pengurangan Nilai untuk Pelamar dengan Riwayat Kekerasan

Di SNU, dua siswa yang ditolak mendaftar melalui jalur nilai Ujian Kemampuan Akademik Perguruan Tinggi (CSAT). Meskipun nilai mereka tinggi, riwayat kekerasan di sekolah menyebabkan diskualifikasi. Sejak tahun ajaran 2014, SNU telah menerapkan pengurangan hingga dua poin dari nilai CSAT bagi pelamar yang pernah menerima sanksi seperti dipindahkan sekolah atau dikeluarkan.

Di Korea, siswa dapat mendaftar ke universitas melalui dua jalur utama: penerimaan awal yang mempertimbangkan catatan sekolah dan wawancara, serta penerimaan reguler yang mengandalkan nilai CSAT. Namun, seiring perubahan kebijakan, banyak universitas mulai memperhatikan riwayat kekerasan di sekolah sebagai faktor penting dalam penerimaan.

Angka Penolakan di Berbagai Universitas Nasional

Universitas Nasional Pusan menolak delapan siswa, enam dari jalur penerimaan awal dan dua dari jalur reguler, karena pengurangan nilai terkait kekerasan di sekolah. Di Universitas Nasional Kangwon, lima pelamar dari jalur awal ditolak, sementara Universitas Nasional Jeonbuk mencatat lima kasus secara keseluruhan.

Di sisi lain, Universitas Nasional Gyeongsang menolak tiga siswa pendaftar dari jalur awal, sedangkan Universitas Nasional Kyungpook menolak 22 siswa pendaftar, jumlah tertinggi di antara universitas-universitas nasional. Sementara itu, empat universitas nasional lainnya, yaitu Universitas Nasional Chonnam, Jeju, Chungnam, dan Chungbuk, tidak menolak pendaftar mana pun karena alasan ini. Alasannya adalah karena mereka hanya mempertimbangkan catatan kekerasan di sekolah dalam jalur penerimaan tertentu, seperti untuk atlet.

Perubahan Kebijakan dan Respons Masyarakat

Menurut laporan dari Korea JoongAng Daily, mulai tahun depan semua universitas di Korea diwajibkan menerapkan pengurangan nilai bagi pendaftar yang memiliki catatan kekerasan di sekolah, terlepas dari jalur penerimaannya. Perubahan kebijakan ini dipicu oleh kemarahan publik setelah terungkap bahwa putra mantan jaksa Chung Sun-sin, yang sempat ditunjuk sebagai kepala Kantor Investigasi Nasional pada 2023, pernah dipindahkan ke sekolah lain karena perundungan. Namun, ia tetap diterima di SNU hanya dengan pengurangan dua poin pada nilai CSAT.

Kekhawatiran Terkait Sengketa dan Keluhan

Seiring meluasnya kebijakan ini, kekhawatiran muncul terkait meningkatnya sengketa dan keluhan di sekolah. Semakin banyak siswa yang dituduh melakukan perundungan kini menyewa pengacara dan mengajukan gugatan administratif untuk membatalkan keputusan disipliner.

Para kritikus memperingatkan bahwa pertarungan hukum yang didorong oleh firma hukum ini berpotensi mengubah kasus kekerasan di sekolah menjadi perkara yang menguntungkan secara finansial dan menciptakan siklus yang merusak lingkungan belajar di kelas.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan