5 Alasan Proyek Tol Sepi dan Merugi, Tidak Layani Rakyat, Solusinya?

admin.aiotrade 07 Nov 2025 2 menit 15x dilihat
5 Alasan Proyek Tol Sepi dan Merugi, Tidak Layani Rakyat, Solusinya?
5 Alasan Proyek Tol Sepi dan Merugi, Tidak Layani Rakyat, Solusinya?

Masalah Jalan Tol di Indonesia: Rendahnya Penggunaan dan Kebijakan yang Tidak Efektif

Beberapa ruas jalan tol di Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam hal penggunaan. Meski telah beroperasi penuh, volume lalu lintas di sejumlah jalan tol ini jauh di bawah ekspektasi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk tingginya tarif dan kurangnya konektivitas dengan jalur distribusi.

Masalah ini muncul setelah Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyampaikan bahwa ada 21 ruas jalan tol di Indonesia dengan tingkat trafik di bawah 50 persen dari asumsi dalam Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT). Menurutnya, banyak Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang realisasi volume lalu lintasnya jauh lebih rendah dari yang diharapkan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS), M. M. Gibran Sesunan, menilai bahwa masalah utama terletak pada perencanaan pemerintah sendiri. Ia menyebut studi kelayakan yang menjadi dasar pembangunan tol selama ini terlalu optimistis dan tidak realistis terhadap kondisi ekonomi serta pola mobilitas masyarakat.

"Sebagai akibatnya, banyak proyek yang akhirnya merugi dan sulit memenuhi standar pelayanan minimum," ujar Gibran. Ia juga menyoroti mahalnya tarif sebagai faktor penghambat utama. Contohnya, tarif kendaraan golongan 1 di Jalan Tol Manado-Bitung mencapai Rp 1.200 per kilometer untuk sekali melintas, angka yang dinilai memberatkan sektor logistik dan transportasi barang.

Kondisi serupa terjadi di Bengkulu-Taba Penanjung, Krian-Legundi-Bunder-Manyar, Kanci-Pejagan, dan sejumlah tol lainnya yang juga dilaporkan sepi pengguna. Beberapa contoh tol yang dibangun dengan orientasi logistik tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur yang telah dihadirkan belum sepenuhnya memberikan nilai tambah untuk rantai pasok nasional.

Padahal, peningkatan akses logistik memiliki peran besar sebagai tulang punggung konektivitas ekonomi dan dapat mendorong penguatan pertumbuhan ekonomi. Potensi ruas tol eksisting yang belum maksimal ini menunjukkan lemahnya koordinasi dan pengawasan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) di bawah Kementerian PU.

Hingga kini, belum ada langkah konkret untuk menurunkan tarif atau meninjau ulang desain bisnis tol-tol yang gagal menarik pengguna. Padahal, permasalahan rendahnya trafik pada hingga 21 ruas jalan tol ini berpotensi menjadi "bom waktu" seperti kegagalan pengembalian investasi yang dapat menghambat pengembangan dan pembangunan proyek jalan tol baru di masa depan, hingga terhambatnya pertumbuhan ekonomi.

Banyak tol baru dibangun tanpa koneksi memadai ke kawasan industri, pelabuhan, atau pusat ekonomi. "Tanpa integrasi wilayah dan kebijakan pentarifan yang berpihak pada pengguna, pembangunan tol hanya menjadi monumen beton," ujar Gibran.

Pemerintah pun diimbau untuk segera mengaudit BPJT dan meninjau ulang asumsi bisnis dalam proyek tol. Tujuannya agar investasi triliunan rupiah benar-benar memberikan manfaat ekonomi, bukan sekadar menambah daftar panjang jalan tol yang sepi pengguna.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan