
Memahami Sikap Keras Suami dan Cara Menghadapinya
Banyak istri merasa bingung saat menghadapi suami yang bersikap keras terhadap anak-anak. Meski sudah berusaha menerapkan pola asuh lembut dari kelas parenting, sering kali suami tetap beranggapan bahwa anak perlu “dikerasi” agar jera. Hal ini bisa menjadi sumber ketegangan dalam rumah tangga jika tidak dikelola dengan baik.
Menurut dr Aisah Dahlan, konselor keluarga dan trainer Prophetic Parenting, sikap keras seorang ayah biasanya bukan tanpa sebab. Banyak laki-laki tumbuh dari didikan keras masa kecil yang membentuk pola serupa ketika menjadi orang tua. "Bisa jadi si Ayah ini punya inner child, punya luka memori waktu kecil. Karena dulu dia dibegitukan juga oleh orang tuanya," ujarnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ia menegaskan, pola kekerasan bukan bagian dari ajaran Islam maupun prophetic parenting. Dalam Islam, kekerasan itu tidak ada. Jika pun disebut ‘memukul’ anak yang tidak salat di usia sepuluh tahun, itu bukan pukulan yang menyakiti, tapi hanya sentuhan lembut sambil mengingatkan.
Lima Kiat untuk Menghadapi Suami yang Keras
Bagaimana cara menghadapi suami yang keras agar tidak menimbulkan pertengkaran rumah tangga? Berikut lima kiat dari dr Aisah Dahlan:
-
Pahami bahwa suami membawa luka masa lalu
Langkah pertama adalah memahami bahwa suami keras bukan karena benci, tapi karena meniru pola didikan masa kecilnya. “Kita maklumi dulu, karena dia juga punya inner child yang luka. Itu bukan pembenaran, tapi agar kita tahu akar masalahnya,” ujar dr Aisah. -
Jangan menegur di depan anak
Menurut dr Aisah, laki-laki tidak suka dikoreksi di depan orang lain, apalagi anak-anak. Teguran sebaiknya dilakukan secara pribadi dan dengan nada lembut. “Kalau ditegur di depan anak, suami bisa makin defensif dan merasa benar. Jadi bicaralah berdua saja,” katanya. -
Doakan suami dengan kelembutan hati
Inilah kunci terpenting menurut dr Aisah Dahlan, doa dan memaafkan. “Gunakan ayat Ali Imran 159, karena rahmat Allah engkau bersikap lembut pada mereka. Jadi kalau belum lembut, berarti rahmatnya belum turun,” ujarnya. Ia menyarankan istri untuk menyebut nama suaminya dalam doa, memaafkannya, dan memohon agar Allah menurunkan kelembutan ke hatinya. “Katakan dalam doa: ‘Ya Allah, saya maafkan suamiku… ampuni dia.’ Lakukan itu terus, nanti Allah turunkan rahmat-Nya,” tutur dr Aisah. -
Terapkan bahasa kasih dalam keluarga
Dr Aisah menekankan pentingnya komunikasi dengan bahasa kasih. Menurutnya, perubahan kecil dalam cara bicara bisa melunakkan hati siapa pun, termasuk suami yang keras dan anak-anak yang mudah tantrum. “Coba deh, gunakan teknik bahasa kasih. Anak dan suami akan lebih mudah luluh. Banyak yang berubah setelah mencoba,” ungkapnya. -
Jadilah ibu yang terus belajar dan tangguh
Sebagai istri dan ibu, perempuan memiliki peran besar dalam menjaga suasana hati keluarga. Karena itu, dr Aisah mendorong para ibu untuk terus belajar ilmu parenting dan memperkuat mental spiritualnya. “Perempuan itu harus belajar terus. Taklim ke mana-mana bukan sekadar untuk anak, tapi juga untuk mendampingi suami,” ujarnya.
Rahmat Allah dalam Keluarga
Menurut dr Aisah Dahlan, kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda hadirnya rahmat Allah dalam sebuah keluarga. Dengan doa, pemahaman, dan komunikasi yang baik, istri bisa menjadi agen perubahan yang menuntun suami menuju pola asuh penuh kasih. “Kalau Allah yang ajarkan, hasilnya luar biasa,” pungkas dr Aisah.