Rombongan Pengusaha Agribisnis AS Akan Berkunjung ke Filipina
Pada 1316 April 2026 mendatang, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) akan mengirimkan rombongan besar yang terdiri dari pengusaha agribisnis ke Manila, Filipina. Misi ini bertujuan untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi para petani, peternak, dan produsen asal Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara. Rombongan ini dipimpin oleh pejabat tinggi USDA dan melibatkan perwakilan dari 58 perusahaan serta asosiasi perdagangan.
Misi dagang ini akan dipimpin oleh Pejabat Tinggi USDA, Michelle Bekkering. Ia memimpin delegasi yang terdiri dari 58 perusahaan dan perwakilan dari empat departemen pertanian tingkat negara bagian, yaitu Idaho, Kansas, Nebraska, dan Wisconsin.
Susunan Tim AS yang Berangkat ke Filipina

Upaya ini merupakan langkah konkret pemerintah AS untuk meningkatkan ekspor produk unggulan mereka ke pasar global. Rombongan tersebut mewakili berbagai sektor industri makanan, mulai dari produk susu, daging, biji-bijian, makanan olahan, hingga minuman beralkohol. Organisasi berskala besar seperti American Egg Board, American Peanut Council, dan US Dairy Export Council turut ambil bagian dalam misi ini.
"USDA berkomitmen memberikan akses pasar yang lebih baik dan peluang yang adil bagi para petani, peternak, dan pengusaha agribisnis AS di luar negeri," kata Bekkering.
Kehadiran perwakilan negara bagian seperti Nebraska Corn Board dan Dairy Farmers of Wisconsin bertujuan menawarkan pasokan protein dan gandum berkualitas tinggi. Di sektor swasta, perusahaan seperti Ocean Gold Seafoods, PacRim Wines & Spirits, BNutty Peanut Butter, hingga Dragonfly Cakes juga hadir untuk menyasar konsumen kelas menengah serta memenuhi kebutuhan industri restoran dan ritel Filipina.
Alasan Filipina Jadi Pasar Penting bagi AS

Filipina saat ini menjadi tujuan ekspor produk pertanian dan makanan terbesar ke-10 bagi Amerika Serikat. Setiap tahun, nilai ekspor pertanian AS ke negara berpenduduk 118 juta jiwa tersebut mencapai sekitar 3,4 miliar dolar AS (Rp57,77 triliun). Selain populasinya yang besar, konsumen Filipina juga memiliki preferensi kuat terhadap produk AS yang dinilai terjamin kualitasnya.
Pertumbuhan ekonomi Filipina terus mendorong daya beli kelas menengah terhadap produk impor berkualitas. Di sisi lain, dominasi penduduk usia muda menciptakan tren konsumsi baru yang mengarah pada makanan praktis dan sehat.
"Karena Filipina adalah salah satu pasar yang paling cepat berkembang di Asia, misi ini akan mempertemukan penjual asal Amerika secara langsung dengan pembeli yang bisa diandalkan," jelas Bekkering.
Lebih dari sekadar mitra bisnis, Filipina adalah sekutu strategis AS di kawasan Asia Pasifik. Kerja sama ekonomi ini menjadi elemen kunci dalam menjaga stabilitas kawasan. Kunjungan pada tahun 2026 ini juga terasa spesial karena bertepatan dengan perayaan 80 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Lewat misi ini, USDA menargetkan AS dapat mempertahankan posisinya sebagai pemasok utama yang memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan impor pangan Filipina.
Jadwal Kegiatan Rombongan Selama Empat Hari di Manila

Selama berada di Manila, rombongan delegasi AS akan menjalani agenda yang padat. Mereka dijadwalkan melakukan pertemuan bisnis (B2B), meninjau industri lokal, dan mengikuti sesi pemaparan dari para pakar pasar setempat. Rangkaian kegiatan ini dirancang agar para pengusaha AS dapat memahami tren konsumen Filipina secara langsung, sekaligus mempelajari regulasi dagang yang berlaku.
Para delegasi akan dipertemukan dengan pembeli skala besar dan pemilik jaringan ritel untuk menjajaki kontrak kerja sama jangka panjang. Produk yang ditawarkan sangat beragam, meliputi daging sapi, babi, produk susu, bahan pakan ternak, hingga etanol. Melalui pendampingan dari tim Foreign Agricultural Service (FAS) USDA, berbagai kendala teknis perdagangan diharapkan dapat diatasi.
"Misi dagang ini akan menghubungkan produsen Amerika dengan pembeli utama di Filipina, membuka lebih banyak peluang ekonomi, dan memastikan produk pertanian kita tetap bisa bersaing di tingkat dunia," tegas Wakil Menteri Pertanian AS, Luke J. Lindberg.
Setelah Filipina, USDA berencana melanjutkan ekspansi promosi serupa ke Australia dan Vietnam demi membangun jaringan perdagangan agribisnis yang solid di masa mendatang.