
Kasus Kematian Mahasiswa Universitas Udayana yang Diduga Terjadi Akibat Perundungan
Timothy Anugerah Saputra (TAS), seorang mahasiswa semester VII jurusan Sosiologi di Universitas Udayana, meninggal dunia setelah jatuh dari lantai 4 Gedung FISIP pada Rabu (15/10/2025). Kejadian ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan teman-temannya. Namun, informasi terbaru mengungkap bahwa korban diduga menjadi korban perundungan oleh enam mahasiswa lainnya.
Beberapa hari setelah kematian TAS, beredar chat yang memprihatinkan di mana keenam pelaku tersebut justru mengolok-olok kematian korban. Hal ini memicu kecaman publik dan menimbulkan pertanyaan tentang sikap serta tanggung jawab mereka.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Identitas Pelaku Perundungan
Berikut adalah identitas keenam pelaku perundungan:
- Vito Simanungkalit, Wakil Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra
- Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama, Kepala Departemen Kajian, Aksi, Strategis, dan Pendidikan
- Maria Victoria Viyata Mayos, Kepala Departemen Eksternal
- Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana, Wakil Ketua Departemen Minat dan Bakat
- Leonardo Jonathan Handika Putra, Wakil Ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Udayana
- Putu Ryan Abel Perdana Tirta, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FISIP Unud
Keenam pelaku ini secara bersama-sama menyampaikan permintaan maaf melalui akun Instagram masing-masing. Mereka menunjukkan wajah lesu dan tampak menyesali perkataan mereka. Salah satu dari mereka, Vita, bahkan tampak wajahnya memerah, diduga akibat menangis.
Pernyataan Permintaan Maaf
Berikut kutipan pernyataan permintaan maaf dari keenam pelaku:
-
Leonardo Jonathan Handika Putra
"Saya memohon maaf atas polemik yang saat ini sedang ramai diperbincangkan di media sosial terhadap ketikan dan perilaku saya yang telah menghina kepada almarhum. Saya tidak membenarkan terhadap perilaku saya. Saya menyesal atas perilaku yang telah saya lakukan. Saya memohon maaf sebesar-besarnya terhadap almarhum dan keluarga. Saya juga turut berduka cita terhadap almarhum dan juga keluarga. Saya siap atas konsekuensi yang nantinya diberikan kepada saya dan saya juga siap untuk mundur dari jabatan wakil ketua BEM FKP Udayana." -
Maria Victoria Viyata Mayos
"Pertama-tama saya mengucapkan turut berduka cita kepada keluarga dan kerabat almarhum TAS. Saya sangat menyesal atas tindakan saya dan ketika saya yang sangat tidak pantas kepada almarhum. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga dan kerabat juga pihak yang kecewa terhadap tindakan saya. Di sini saya ingin riskan bahwa saya sama sekali tidak kenal dan juga saya tidak terikat dalam perlindungan kepada almarhum semasa hidupnya. Namun saya menyadari peristiwa ini, saya sangat mengaku salah di sini. Saya siap menerima konsekuensi dan juga sanksi dari pihak kampus. Dengan peristiwa ini merupakan pembelajaran bagi saya untuk bertindak selalu hati-hati dan hijab dalam perkataan juga perbuatan. Saya bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi." -
Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama
"Saya ingin menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf yang tulus atas tindakan saya di media sosial yang telah merugikan banyak. Pertama-tama saya ingin menyampaikan dukacita yang sangat mendalam atas berpulangnya almarhum. Kepergian almarhum merupakan bilangan yang sangat besar bagi banyak orang. Saya berdoa semoga almarhum mendapatkan tempat yang baik di sisi Tuhan yang Maha Esa serta keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan kekuatan dan ketabahan. Dengan penuh penyesalan saya mengakui bahwa apa yang saya lakukan tidak pantas, tidak berempati, dan tidak menghormati suasana duka. Saya menyadari sepenuhnya bahwa tindakan tersebut telah menyakiti hati keluarga, teman-teman almarhum, serta banyak pihak lain. Saya bertanggung jawab penuh atas kesalahan saya ini dan menyatakan permohonan maaf sedalam dalamnya." -
Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana
"Saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan yang terjadi di sini. Saya ingin meminta maaf terutama kepada keluarga korban termasuk kak Timoti dan saya ingin meminta maaf juga kepada pihak yang merasa tersinggung juga pihak yang dirugikan oleh perbuatan saya. Di sini saya berkomitmen untuk membenahi diri saya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Saya siap menerima sanksi dari organisasi yang saya ikuti dan dari pihak fakultas di sini. Sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga korban dan juga kepada mahasiswa sosiologi juga teman-teman almarhum." -
Vito Simanungkalit
"Pertama-tama saya ingin berbelasungkawa yang sangat dalam kepada pihak keluarga dari Timoti dan kerabat terdekat Timoti. Saya memohon maaf dengan ucapan dan ketikan saya yang memang sangat tidak layak yang saya lontarkan terhadap chat itu. Saya memohon maaf sedalam-dalamnya dan sebesar-besarnya. Saya seharusnya tidak melakukan itu, tetapi saya mengakui bahwasanya itu kesalahan yang sangat berat. Saya siap menerima sanksi dari pihak mana pun, termasuk dari pihak prodi universitas maupun dari fakultas. Saya tadi sudah melakukan sidang bersama BBM, saya sudah di skor satu semester akan mendapat nilai D dari fakultas dan dikeluarkan dari hima secara tidak hormat dan dilarang mengikuti kepanitiaan selanjutnya. Dengan kejadian ini merupakan tamparan keras bagi saya agar ke depannya mampu menjaga omongan dan lebih berempati dalam keadaan apapun." -
Putu Ryan Abel Perdana Tirta
"Saya Putu Ryan Abel Perdana Tirta selaku bagian dari adanya kericuhan yang sedang terjadi baik di internal kampus saya hingga sudah sampai melibatkan pihak stakeholder baik penggiringan opini publik dan sebagainya. Izin untuk menyampaikan klarifikasi atas kericuhan yang sedang terjadi. Saya pribadi mengakui kesalahan saya tersebut dan meminta maaf sebesar-besarnya terhadap keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Di sisi lain, adanya berita-berita yang sudah tersebar luas, bahwa tindakan yang saya lakukan tersebut terjadi setelah almarhum mengambil tindakan tragis tersebut. Saya dengan kesadaran penuh sangat menyesal dengan tindakan yang sudah saya lakukan dan dengan besar hati saya menerima sanksi yang nantinya akan diberikan kepada saya. Termasuk konsekuensi dengan melepas segala atribut saya termasuk jabatan yang saya emban sebagai bagian dari ormawa."
Penyebab Kematian Korban
Setelah dilaksanakan pemeriksaan dan penanganan, diketahui bahwa TAS mengalami pergeseran dan patah pada tulang pinggul kiri dan kanan, tulang lengan bagian atas patah, dan tulang sendi kanan patah. Namun, TAS mengalami pendarahan pada organ dalam dan kesadaran terus menurun, hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada pukul 13.03 WITA.
Berdasarkan hasil penyelidikan, korban diduga mengalami bullying atau perundungan oleh enam mahasiswa dan mahasiswi di percakapan grup WhatsApp (WA). Perundungan tersebut berupa menyamakan foto saat korban jatuh dari Gedung FISIP dengan selebgram Kekeyi, serta chat bernada keji dan tidak empati yang mengatakan, “nanggung bgt klok bnuh diri dri lantai 2 yak.”
Tangkap layar atau screenshot percakapan bernada bullying ini pun telah beredar di media sosial hingga menuai beragam kecaman dari warganet.