
Motif Terduga Pelaku Peledakan di SMAN 72 Jakarta Mulai Terungkap
Akhirnya misteri motif terduga pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta mulai terungkap. Kepolisian mengungkap bahwa tindakan yang dilakukan oleh FN (17) dilakukan karena terpapar ideologi kekerasan. Hal ini diungkapkan oleh Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (11/11/2025).
Menurut AKBP Mayndra, ada enam tokoh ekstremis yang menjadi inspirasi bagi FN. “Nah, di sini ada suatu hal yang memprihatinkan. Ada beberapa yang menjadi inspirasi, sekitar enam figur yang tercatat,” ujar AKBP Mayndra.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Adapun keenam tokoh tersebut adalah:
- Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku penembakan di Columbine High School, Colorado, Amerika Serikat (1999).
- Dylann Roof, pelaku penembakan di Gereja Charleston, South Carolina (2015), berpaham supremasi kulit putih.
- Alexandre Bissonnette, pelaku penembakan massal di Masjid Quebec, Kanada (2017).
- Vladislav Roslyakov, pelaku penembakan di Politeknik Kerch, Krimea, Rusia (2018).
- Brenton Tarrant, pelaku penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru (2019), berpaham ecofasis, rasis, dan etnonasionalis.
- Natalie Lynn Rupnow, pelaku penembakan di Abundant Life Christian School, Wisconsin, Amerika Serikat (2024).
Menurut Mayndra, FN diduga mengagumi sejumlah figur ekstremis tersebut sehingga menjadi inspirasi melakukan aksi peledakan di SMAN 72 Jakarta.
Kebiasaan FN: Gemar Menonton Film Gore
Dari temuan tersebut, sebelumnya sosok FN terduga pelaku yang gemar menonton film gore juga sempat jadi sorotan. Kesaksian itu juga sempat diungkap oleh teman FN berinisial R.
R mengungkap kebiasaan FN menonton video atau film gore. “Dia suka nonton video gore kalau kata temen-temennya,” ungkap R. Film gore merupakan genre film horor yang menampilkan secara eksplisit tentang kekerasan fisik dan visual darah. Seperti darah mengalir, organ tubuh terlihat, mutilasi, luka terbuka, cedera fisik yang serius dan sebagainya. Istilah "gore" sendiri merujuk pada darah yang tumpah atau luka yang mengerikan.
Ironinya, meski seperti genre film horor pada umumnya untuk hiburan, tujuan film gore bisa berbeda dan mengarah pada hiburan ekstrim.
Karakteristik Film Gore
- Adegan-adegan yang tidak disembunyikan atau hanya disiratkan: luka besar, darah banyak, organ dalam tubuh mungkin terlihat.
- Fokus visual kuat pada tubuh manusia sebagai objek yang ‘terluka’ atau ‘dimutilasi’, bukan hanya efek kekerasan yang cepat atau sederhana.
- Tujuannya bisa berbeda: menakutkan, mengejutkan, memancing kejijikan (disgust), hingga hiburan ekstrim.
Meski begitu, menonton film gore tidak secara langsung membuat seseorang melakukan kekerasan. Menurut para ahli, ada faktor-faktor lain seperti kondisi psikologis, lingkungan, motivasi, akses ke alat, ideologi, dukungan sosial, dan trauma juga bisa menentukan tindakan tertentu seorang remaja.
Diduga Terpapar Konten di Media Sosial
Terkait FN yang diduga gemar menonton film gore tersebut, sebelumnya Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menduga pelaku juga terpengaruh konten-konten di media sosial. Oleh karena itu Dasco mengingatkan pihak sekolah agar lebih berhati-hati dalam mengawasi penggunaan gawai oleh siswa.
“Ya kita imbau kepada sekolah-sekolah untuk menerapkan asas kehati-hatian, terutama kepada para murid,” kata Dasco. “Mungkin tadi karena pengaruh yang dilihat di media-media sosial,” sambungnya. Meski begitu, Dasco menegaskan penyebab pasti ledakan belum bisa disimpulkan. Menurutnya, hasil penyelidikan sepenuhnya diserahkan kepada kepolisian.
Gelagat Aneh Pelaku Peledakan di SMAN 72 Jakarta
Pasca tragedi peledakan tersebut, sosok pelaku yang sering menyendiri dan tertutup jadi sorotan. Menurut keterangan sejumlah saksi, sosok FN jarang bergaul dengan teman-temannya. Ia juga dinilai kerap menunjukkan perilaku berbeda dari siswa lain.
Seorang siswa berinisial Z yang mengenal pelaku mengatakan bahwa FN sering menyendiri dan membuat gambar-gambar darah dan tembakan. “Katanya dia selalu menyendiri, sering buat gambar-gambar atau foto-foto kayak tentang darah dan tembak-tembakan gitu,” ujar Z. Z juga mengaku mendengar kabar bahwa pelaku pernah mengalami perundungan di sekolah. Meski begitu, tidak ada yang menyangka perilaku menyendiri FN itu akan berujung aksi nekat peledakan.
Sosok FN Terduga Pelaku Peledakan SMAN 72 Jakarta
Diketahui FN merupakan remaja berusia 17 tahun. Ia masih duduk di bangku kelas XII di SMAN 72 Jakarta. Diketahui latar belakang keluarga terduga pelaku yang ternyata hidup sederhana di kawasan perumahan elit. Menurut keterangan Ketua RT setempat, Danny Rumondor, FN bersama orang tuanya tinggal di rumah kawasan Jalan Mahoni 1, Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara.
Ketua RT itu mengungkap FN dan tinggal di sebuah tempat usaha kuliner atau rumah makan karena sang ayah sebagai pekerja di sana. Danny Rumondor, baik FN dan ayahnya itu sangat jarang bersosialisasi dengan warga sekitar. “”
Sama warga sini juga benar-benar nggak ada sosialisasi. Tetangga sebelah rumah pun jarang lihat, sangat jarang, kecuali dia pergi sekolah ya, dibonceng bapaknya. Dia tidak ada pernah join di sini bermain sama-sama anak di sini, nggak pernah,” kata Danny saat ditemui di lokasi. Danny mengungkap terduga pelaku sempat bersekolah di kawasan Sukapura, Jakarta Utara, saat duduk di bangku SMP. Saat itu, FN masih sering bergaul dan bermain bersama teman-temannya di sekitar komplek. Namun, setelah pindah ke jenjang SMA dan mengikuti ayahnya tinggal di Kelapa Gading, perilakunya berubah menjadi lebih tertutup.
Sifat FN yang jarang bersosialisasi seperti dikatakan tetangga atau Ketua RT senada dengan keterangan siswa lainnya. Siswa berinisial Z yang mengaku mengenal pelaku menyebut FN dikenal sebagai sosok yang tertutup. Menurut Z, terduga pelaku selalu menyendiri. Selain itu, sosok FN juga dinilai kerap menunjukkan perilaku berbeda dari siswa lain.