
Kekuatan Militer Iran yang Membuat Barat Terkejut
Selama lebih dari lima minggu, kawasan Timur Tengah diguncang oleh serangan rudal dan drone Iran yang diarahkan ke Israel, negara-negara Teluk, serta pangkalan militer Amerika Serikat. Intensitas serangan justru meningkat menjelang gencatan senjata yang dimediasi Pakistan pada 8 April 2026. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana Iran masih memiliki persenjataan dalam jumlah besar setelah gempuran balasan masif dari Barat?
Anomali Stok Rudal
Data yang dihimpun oleh Dmitri Alperovitch, pendiri Silverado Policy Accelerator, menunjukkan bahwa pada puncak konflik (2 Maret), rata-rata peluncuran harian mencapai 215 rudal dan 567 drone. Jika ditotal selama 38 hari perang, Iran sedikitnya telah menembakkan 1.900 rudal balistik dan 5.200 drone. Angka ini menciptakan "anomali matematika" bagi intelijen Barat.
Sebelum perang, intelijen Israel memperkirakan stok rudal Iran hanya berkisar di angka 2.500 unitangka yang diamini oleh mayoritas analis Barat. "Ada ketidaksesuaian besar antara klaim intelijen dengan realitas di lapangan," ujar Dmitri Alperovitch dalam keterangannya yang dikutip situs Telepolis.
Jika kita menjumlahkan rudal yang sudah ditembakkan dengan klaim AS bahwa mereka telah menghancurkan atau melumpuhkan dua pertiga stok Iran, maka totalnya mencapai 3.560 rudal. Itu 40 persen lebih banyak dari estimasi awal stok mereka. Secara teori, Iran seharusnya sudah kehabisan rudal beberapa minggu lalu, tapi kenyataannya mereka justru meningkatkan intensitas serangan.
Kapasitas Produksi yang Terlupakan
Kesalahan estimasi ini diduga kuat berasal dari ketidaktahuan Barat atas skala industri militer Iran yang telah dibangun selama empat dekade. Carl Parkin dari Center for Nonproliferation Studies mengungkapkan bahwa kapasitas produksi Iran jauh lebih besar dari yang diperkirakan.
Berdasarkan analisis citra satelit terbaru pada September 2025, Parkin mengidentifikasi adanya 44 hingga 56 lubang pengecoran (casting pits) untuk bahan bakar padat rudal di tiga lokasi utama: Shahroud, Khojir, und Parchin. "Washington kemungkinan besar melewatkan lini produksi terbaru di Shahroud yang baru rampung pada 2024," ungkap Carl Parkin.
Dengan infrastruktur tersebut, Iran mampu memproduksi antara 136 hingga 217 rudal bahan bakar padat setiap bulan jika beroperasi penuh. Ini adalah kapasitas industri tingkat tinggi, bukan sekadar perakitan skala kecil.
Strategi Drone: Kuantitas adalah Kekuatan
Di sektor drone, diskrepansi antara asumsi Barat dan kenyataan jauh lebih lebar. Centre for Information Resilience melaporkan bahwa Iran mampu memproduksi hingga 10.000 drone per bulan dari berbagai tipe. Selama perang, Iran hanya menggunakan maksimal 25 persen dari kapasitas produksi bulanan mereka.
Meskipun AS mengklaim telah menggempur fasilitas produksi, para ahli menilai hal itu tidak banyak mengubah keadaan secara struktural. "Desain drone Shahed yang sederhana bukanlah kelemahan, melainkan fitur utama," jelas Kelly Grieco dari Stimson Center.
"Drone ini dirancang agar bisa dirakit di bengkel mana pun selama data konstruksi dan rantai pasokan komponen terjaga. Menghancurkan pabrik besarnya tidak akan menghentikan produksi dalam jangka panjang."
Infrastruktur Bawah Tanah yang Kebal
Faktor penentu lainnya adalah "Kota Rudal" bawah tanah Iran. Laporan dari Soufan Center menyebutkan bahwa meskipun 77 persen pintu masuk terowongan yang terlihat berhasil dihantam serangan udara, aktivitas di dalam situs tersebut kembali pulih dengan cepat. Sebuah fasilitas di dekat Yazd, yang tertanam 450 meter di bawah lapisan granit, dilaporkan kembali beroperasi hanya dalam hitungan jam setelah serangan.
Tantangan di Depan Mata
Amerika Serikat menghadapi tantangan besar dalam memulihkan sistem pertahanan militernya setelah konflik dengan Iran. Seorang pejabat militer senior mengungkapkan bahwa stok sistem pertahanan rudal AS kini berada dalam kondisi kritis, nyaris habis akibat penggunaan sistem pertahanan secara besar-besaran selama perang yang berlangsung enam minggu sejak dimulai pada 28 Februari lalu.
Selama konflik yang berlangsung, Amerika Serikat bersama sekutunya mengerahkan berbagai sistem pertahanan rudal untuk menghadapi serangan besar-besaran dari Iran, khususnya ancaman rudal balistik dan drone. Sistem yang digunakan mencakup THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) untuk mencegat ancaman di ketinggian tinggi, Patriot untuk pertahanan jarak menengah. Serta sistem pertahanan milik Israel seperti Arrow dan Davids Sling yang berfungsi melindungi wilayah dari serangan berlapis.
Intensitas pertempuran yang tinggi membuat penggunaan amunisi pertahanan meningkat tajam. Berdasarkan data dari Royal United Services Institute (RUSI) yang dikutip dari Arab News, sekitar 4.200 amunisi pertahanan telah digunakan hanya dalam 16 hari pertama perang. Angka ini menunjukkan betapa masifnya serangan yang harus dihadapi, sehingga sistem pertahanan harus terus aktif mencegah ancaman yang datang hampir tanpa jeda.
Namun kondisi tersebut berdampak langsung pada menipisnya stok rudal pencegat di lapangan. Pada puncak konflik, beberapa sistem utama dilaporkan berada dalam kondisi kritis karena tingkat penggunaan yang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan pengisian ulang.
Pemulihan Makan Waktu Bertahun-tahun
Sementara itu, pemulihan stok sistem pertahanan Amerika Serikat diperkirakan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat menyusul besarnya penggunaan amunisi selama konflik yang berlangsung. Direktur Badan Pertahanan Rudal Pentagon, Heath Collins, dalam sidang Kongres menegaskan bahwa dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk mengembalikan kapasitas persediaan ke kondisi normal.
Hal ini dipengaruhi oleh skala penggunaan rudal pencegat yang sangat besar selama perang, sehingga cadangan yang ada terkuras dalam waktu relatif singkat. Kendala utama dalam proses pemulihan terletak pada terbatasnya kapasitas produksi serta tingginya biaya pembuatan sistem pertahanan. Produsen sistem THAAD, Lockheed Martin, diketahui hanya mampu memproduksi kurang dari 100 rudal pencegat per tahun, dengan harga mencapai sekitar 15 juta dolar AS per unit. Kondisi ini membuat proses pengisian ulang stok tidak dapat mengimbangi kecepatan penggunaan di medan perang.