
Kondisi Pengungsi di Aceh Utara yang Menggemparkan
Banyak warga Aceh Utara masih menghadapi kesulitan pasca banjir yang melanda wilayah tersebut. Dengan jumlah pengungsi mencapai 71.637 orang yang tersebar di 226 titik pengungsian, kondisi mereka sangat memprihatinkan. Tenda yang disediakan oleh pemerintah tidak cukup layak untuk menampung seluruh keluarga pengungsi.
Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil atau akrab disapa Ayahwa, menyampaikan kekecewaannya terhadap keterlambatan bantuan tenda dari pemerintah pusat. Ia bahkan secara langsung meminta Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf, untuk segera mengirimkan tenda pengungsi yang layak. Permintaan ini juga disampaikan kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, saat kunjungan resmi ke Aceh Utara.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Kasihan pengungsi kita, tenda swadaya dan seadanya. Semua tenda milik desa sudah digunakan, tapi belum memadai juga. Kita harap Mensos membantu mengirimkan tenda layak untuk pengungsi secepatnya,” ujar Ayahwa pada Rabu (17/12/2025).
Kebutuhan Tenda yang Mendesak
Bupati menjelaskan bahwa tenda berukuran 4 x 4 meter, yang sering disebut sebagai tenda keluarga, sangat dibutuhkan. Tujuannya agar setiap keluarga memiliki satu tenda yang dapat digunakan secara mandiri. Namun, saat ini satu tenda bisa menampung dua atau tiga kepala keluarga, sehingga membuat kondisi semakin memburuk.
“Sekarang satu tenda bisa dua atau tiga kepala keluarga. Kita sudah minta sejak awal sampai hari ini kita minta terus ke Kemensos dan BNPB,” tambahnya.
Data Korban Banjir yang Menyedihkan
Selain masalah tenda, data terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 1.111 orang mengalami kerugian akibat bencana ini. Selain itu, 163 orang dilaporkan meninggal dunia, dan enam orang masih dalam pencarian. Kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir juga meliputi 12 daerah irigasi dan 8 daerah irigasi tersier. Luas area pertanian yang terdampak mencapai 14.509 hektar, dengan sawah yang kini dipenuhi lumpur sisa banjir setinggi satu hingga dua meter dan tidak dapat digunakan lagi.
Masalah Tenda yang Viral di Media Sosial
Persoalan tenda sempat menjadi viral di media sosial, khususnya di Aceh Tamiang. Kabar yang menyebut tenda pengungsian di Aceh Tamiang baru dipasang untuk menyambut Presiden Prabowo Subianto yang berkunjung dibantah oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menanggapi kabar itu, BNPB menyebut jika pemasangan dilakukan setelah akses jalan terbuka pasca banjir besar yang mengisolasi wilayah tersebut.
Kondisi warga sejak banjir bandang dan longsor melanda pada 26 November 2025 memilukan. Warga terpaksa bertahan di pengungsian darurat menggunakan tenda seadanya dari terpal. Ada juga yang terpaksa menumpang di rumah kerabat. Baru pada 11 Desember 2025, setelah jalur darat berhasil ditembus, BNPB bisa memasang tenda pengungsian utama.
Tenda bertuliskan BNPB banyak terpasang rapi di jembatan sungai Tamiang, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Artinya, ada jeda sekitar dua pekan (±15 hari) di mana tenda resmi BNPB belum hadir di lokasi bencana. Kondisi ini memperburuk penderitaan warga yang kehilangan rumah, kesulitan air bersih, dan harus antre makanan dalam keadaan penuh lumpur.
Penjelasan dari BNPB
Direktur Perencanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Brigjen M. Arief Hidayat, menegaskan bahwa informasi yang beredar kurang tepat dan perlu diluruskan agar masyarakat memahami kondisi di lapangan secara utuh. “Tenda BNPB dipasang segera setelah akses jalan ke Aceh Tamiang berhasil dibuka oleh petugas. Bukan karena kedatangan Presiden Prabowo Subianto. Begitu jalur terbuka, tim langsung bergerak membawa perlengkapan dan tenda untuk warga,” kata Arief, Jumat (12/12/2025).
Menurutnya, terbukanya akses memang berdekatan dengan jadwal kunjungan Presiden sehingga muncul persepsi keliru. Padahal, di lokasi bencana mana pun, penyaluran logistik termasuk pemasangan tenda selalu dilakukan setelah jalur distribusi terbuka.
Kesimpulan
Masalah tenda pengungsi di Aceh Utara dan Aceh Tamiang tetap menjadi isu penting yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah pusat. Meski beberapa langkah telah diambil, seperti pemasangan tenda BNPB setelah akses jalan terbuka, kondisi pengungsi tetap memprihatinkan. Diperlukan koordinasi yang lebih baik antara pemerintah daerah dan pusat agar bantuan dapat diberikan secara cepat dan merata.