Dolar Menguat di Tengah Sentimen Geopolitik

📅 2026-05-10 | ⏰ 04:34:36 WIB 👁️ Dibaca: 27 kali
Dolar Menguat di Tengah Sentimen Geopolitik


Di Balik Artis Dunia.CO.ID JAKARTA.

Indeks dolar Amerika Serikat (DXY) memiliki potensi untuk kembali menguat, terutama setelah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat. Berdasarkan data dari Trading Economics, indeks dolar (DXY) berada pada level 97,84 pada Jumat (8/5/2026), dengan penurunan sebesar 0,32% dalam seminggu terakhir dan koreksi sebesar 0,49% secara year to date (ytd).

Menurut analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, pasca serangan AS ke beberapa fasilitas militer Iran, dolar AS berpeluang kembali menguat. Perkembangan ini terjadi karena harapan perdamaian yang sempat muncul mulai memudar setelah terjadinya baku tembak di Selat Hormuz. Hal ini menyebabkan pasar kembali masuk ke mode risk-off, yaitu situasi di mana investor lebih memilih aset aman seperti dolar AS.

Selain faktor sebagai safe haven, dolar juga didukung oleh statusnya sebagai petrodollar. Ketika risiko energi global meningkat, permintaan transaksi berbasis dolar AS akan ikut meningkat.

Brahmantya menjelaskan beberapa sentimen yang dapat memengaruhi pergerakan DXY ke depan:

  • Perkembangan konflik AS-Iran: Selama tensi geopolitik tinggi, permintaan terhadap dolar cenderung tetap kuat.
  • Data ekonomi AS: Terutama angka tenaga kerja seperti Nonfarm Payrolls. Jika data tetap solid, tekanan terhadap Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga akan berkurang, hal ini positif bagi dolar.
  • Harga minyak: Semakin tinggi harga energi, semakin kuat peran dolar dalam perdagangan global karena sebagian besar transaksi energi masih berbasis dolar AS.

Brahmantya memproyeksikan bahwa indeks dolar (DXY) akan bergerak di kisaran 99 hingga 102 pada kuartal II tahun 2026, dengan bias menguat jika konflik berlanjut dan data ekonomi AS tetap solid.

Sementara itu, rupiah berpotensi berada di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.800 per dolar AS pada periode yang sama. Tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi dolar yang menguat, kenaikan harga energi, serta potensi arus keluar modal dari pasar negara berkembang saat sentimen pasar cenderung defensif.

Ketika geopolitik memanas dan harga energi naik, dolar hampir selalu kembali menjadi pusat perhatian pasar. Selama konflik belum benar-benar reda, dolar AS masih punya ruang untuk menguat dan menekan seluruh mata uang lainnya termasuk rupiah, jelas Brahmantya.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menambahkan bahwa fokus utama saat ini adalah respons Iran terhadap proposal perdamaian. Yang paling penting adalah pembukaan Selat Hormuz. Sentimen ke depan tentu saja akan dipengaruhi oleh harga minyak yang tinggi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut Lukman, indeks dolar saat ini sulit diperkirakan karena situasi masih sangat dinamis. Sebagai gambaran kasar, jika harga minyak terus bertahan tinggi, maka ekonomi AS yang paling kuat di antara mata uang utama dunia, dan The Fed akan bisa lebih agresif, sehingga DXY diperkirakan akan lebih tinggi.

Rupiah juga sama, sangat terbebani harga minyak yang tinggi, terang Lukman.

Apabila tidak ada perubahan signifikan, Lukman memperkirakan rupiah bisa mencapai Rp 18.000 per dolar AS pada kuartal II tahun 2026. Sebaliknya, jika harga minyak mentah turun ke kisaran US$ 70 hingga US$ 80 per barel, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa kembali ke Rp 16.500 per dolar AS.