Perusahaan yang untung dari perang AS-Iran

📅 2026-05-09 | ⏰ 23:05:00 WIB 👁️ Dibaca: 26 kali
Perusahaan yang untung dari perang AS-Iran

Perang di Timur Tengah Membawa Peluang bagi Beberapa Sektor Usaha

Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran tidak hanya memicu lonjakan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi global, tetapi juga membuka peluang besar bagi sejumlah sektor usaha. Gangguan distribusi energi akibat penutupan efektif Selat Hormuz membuat harga minyak dan gas bergejolak. Kondisi ini berdampak pada anggaran rumah tangga, perusahaan, hingga pemerintah di berbagai negara. Namun di sisi lain, beberapa perusahaan justru mencatat kenaikan pendapatan selama konflik berlangsung.

Perusahaan Minyak dan Gas Menikmati Lonjakan Laba


Sektor energi menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari konflik Timur Tengah. Sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz, sehingga terganggunya jalur tersebut langsung memicu kenaikan harga energi global. Perusahaan minyak besar Eropa tercatat memperoleh keuntungan dari volatilitas harga tersebut, terutama karena memiliki divisi perdagangan energi.

BP membukukan laba 3,2 miliar dolar AS pada kuartal I-2026 atau naik lebih dari dua kali lipat dibanding periode sebelumnya. Shell juga melaporkan laba kuartal pertama sebesar 6,92 miliar dolar AS. Sementara itu, TotalEnergies mencatat kenaikan laba hampir sepertiga menjadi 5,4 miliar dolar AS pada tiga bulan pertama 2026. Di AS, ExxonMobil dan Chevron memang mengalami penurunan laba akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah. Meski begitu, kedua perusahaan tetap melampaui proyeksi analis dan memperkirakan keuntungan akan terus meningkat seiring harga minyak yang masih tinggi.

Bank Besar Kecipratan Untung dari Volatilitas Pasar


Lonjakan aktivitas perdagangan di pasar keuangan juga mendorong keuntungan bank-bank besar dunia. JP Morgan mencatat pendapatan divisi perdagangan sebesar 11,6 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut turut membawa perusahaan mencetak salah satu laba kuartalan terbesar dalam sejarahnya. Kenaikan laba juga terjadi pada kelompok bank besar lain seperti Bank of America, Morgan Stanley, Citigroup, Goldman Sachs, dan Wells Fargo. Secara total, enam bank besar AS tersebut membukukan laba 47,7 miliar dolar AS selama tiga bulan pertama 2026.

Peningkatan aktivitas perdagangan terjadi karena investor memindahkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang dianggap lebih aman. Fluktuasi pasar selama perang juga mendorong investor memanfaatkan pergerakan harga untuk mencari keuntungan.

Industri Pertahanan Kebanjiran Permintaan


Sektor pertahanan turut menjadi salah satu pihak yang paling cepat memperoleh dampak positif dari konflik. Perang di Timur Tengah dinilai mendorong peningkatan investasi pada sistem pertahanan udara, rudal, teknologi anti-drone, hingga perangkat militer lain di Eropa dan AS. Selain itu, banyak pemerintah juga mulai meningkatkan pengadaan untuk mengisi kembali stok senjata mereka.

BAE Systems memperkirakan penjualan dan laba perusahaan akan tumbuh kuat tahun ini seiring meningkatnya belanja pertahanan global. Sementara itu, Lockheed Martin, Boeing, dan Northrop Grumman melaporkan antrean pesanan tertinggi pada akhir kuartal pertama 2026. Meski demikian, saham perusahaan pertahanan mulai mengalami tekanan sejak pertengahan Maret karena muncul kekhawatiran valuasi sektor tersebut sudah terlalu tinggi.

Energi Terbarukan Ikut Terdorong


Konflik Iran juga memicu peningkatan minat terhadap energi terbarukan sebagai alternatif ketergantungan pada bahan bakar fosil. Perusahaan energi bersih seperti NextEra Energy mencatat kenaikan harga saham hingga 17 persen sepanjang tahun ini. Perusahaan energi angin asal Denmark, Vestas dan Orsted, juga melaporkan kenaikan laba di tengah meningkatnya perhatian terhadap sektor energi terbarukan.

Di Inggris, Octopus Energy menyebut penjualan panel surya dan pompa panas meningkat tajam sejak akhir Februari. Penjualan panel surya bahkan dilaporkan naik hingga 50 persen. Kenaikan harga bensin selama konflik juga turut meningkatkan permintaan kendaraan listrik, terutama yang diproduksi perusahaan asal China.