
Peristiwa Ledakan di SMAN 72 Jakarta sebagai Pemicu Perubahan
Peristiwa ledakan yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Jakarta menjadi peringatan penting bagi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menyatakan bahwa kejadian ini memicu pihaknya untuk melakukan pembenahan dan penguatan dalam sistem pendidikan agar tidak terulang kembali.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Pengalaman ini menjadi alarm bagi kami di kementerian untuk memperkuat tiga hal yang sebelum kejadian ini sudah kami usahakan perubahannya,” ujar dia dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Langkah-Langkah yang Dilakukan
Saat ini, pihaknya sedang merancang Peraturan Menteri Pendidikan Daerah dan Menengah tentang sekolah yang aman. Tujuannya adalah menciptakan suasana belajar yang aman dari segala bentuk kekerasan dan tindakan negatif seperti yang terjadi saat ini.
Beberapa langkah utama yang dilakukan antara lain:
- Mengubah paradigma pendidikan ke arah yang lebih humanis, komprehensif, dan partisipatif.
- Meningkatkan peran guru dalam Bimbingan Konseling (BK). Menurut Abdul Mu'ti, hal ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri yang menuntut seluruh guru, baik BK maupun non-BK, untuk melaksanakan tugas pembimbingan konseling.
- Membentuk duta anti kekerasan yang direkrut dan diberikan pelatihan secara komprehensif.
Peran Guru dalam Pendekatan Partisipatif
Menurut Abdul Mu'ti, pendekatan partisipatif ini melibatkan semua pihak, termasuk para duta anti kekerasan yang telah dipersiapkan. Ia menjelaskan bahwa guru pembimbing akan dihitung dengan jam mengajar, sehingga tidak harus mengajar selama 24 jam dalam seminggu.
“Jam mengajar mereka akan dikonversi sebagai guru wali murid yang mendampingi siswa,” kata dia.
Guru pembimbing ini akan mendampingi siswa, tidak hanya menangani masalah akademik tetapi juga masalah psikologis, spiritual, dan sosial. Selain itu, guru juga akan menjadi penghubung antara sekolah dengan orang tua.
Pentingnya Komunikasi antara Sekolah dan Orang Tua
Abdul Mu'ti mengungkapkan bahwa banyak kasus perundungan disebabkan oleh persoalan kehidupan keluarga serta komunikasi yang kurang baik antara sekolah dan orang tua. Menurutnya, jika komunikasi ini dapat diperbaiki maka permasalahan perundungan bisa diselesaikan.
Ia mengakui bahwa jumlah kasus perundungan di sekolah memang cukup tinggi, baik dari sisi pelaku maupun korban. Untuk itu, pihaknya berkomitmen untuk menangani permasalahan ini dengan pendekatan yang lebih humanis, komprehensif, dan partisipatif.
Tantangan dan Harapan
Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, diharapkan ke depannya lingkungan sekolah akan lebih aman dan nyaman bagi siswa. Selain itu, peningkatan komunikasi antara sekolah dan orang tua akan menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah kekerasan di sekolah.
Abdul Mu'ti menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya untuk memastikan bahwa setiap siswa merasa aman dan didukung dalam proses belajar-mengajar. Dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan kolaboratif, diharapkan dapat memberikan dampak positif pada seluruh sistem pendidikan di Indonesia.