Utang Negara-Negara Afrika Mengalami Peningkatan Signifikan
Kepala Uni Afrika (UA), Mahamoud Ali Youssouf, menyatakan bahwa utang negara-negara Afrika terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai, utang ini menjadi hambatan utama bagi pembangunan di kawasan tersebut.
Sebelumnya, Ethiopia mengklaim telah berhasil menurunkan utang luar negerinya hingga 80 persen. Dengan penurunan ini, Ethiopia diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa harus menambah utang luar negeri.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Tingginya Utang Menggerus Pendapatan Negara Afrika

Youssouf menyebut, utang negara-negara Afrika sudah mencapai angka 1,8 triliun dolar AS (Rp30.068 triliun). Tingginya utang luar negeri membuat pendapatan negara Afrika terus menurun.
“Banyak pemerintahan di Afrika yang mengalokasikan pendapatannya lebih banyak untuk membayar utang luar negeri dibandingkan investasi sumber daya manusia,” ujarnya.
Ia menambahkan, sekitar 57 persen dari penduduk Afrika tinggal di negara di mana alokasi pembayaran utang lebih tinggi dibanding dana sosial.
Pembayaran utang luar negeri di Afrika pada 2024 menembus 70 miliar dolar AS (Rp1.169 triliun). Alhasil, pembangunan di berbagai sektor penting seperti kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur di negara-negara Afrika terhambat.
Dorong Aksi Kolektif untuk Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan di Afrika

Youssouf mengungkapkan, utang luar negeri ini tidak hanya menjadi tantangan bagi Afrika. Namun, tingginya utang adalah bentuk dari kekurangan arsitektur finansial global.
“Sistem ini dibangun untuk dunia yang seharusnya tidak lagi ada, kebijakan dari mendapatkan keuntungan dari kredit ini menggunakan penyimpangan metrik dan mendorong ketimpangan struktural tanpa henti,” ujarnya.
Ia mengharapkan, pada acara G20 di Afrika Selatan dapat memberikan transformasi dan suara lebih untuk Afrika. Ia mengharapkan agar sesama negara Afrika saling berbagi tanggung jawab untuk memperbaiki ekonomi global.
IMF Mintak Senegal Putuskan Langkah Tangani Utang Luar Negeri

Pada hari yang sama, International Monetary Fund (IMF) menyebut, Senegal memiliki hak untuk menentukan bagaimana langkah membayar utang luar negeri. Sebab, negara Afrika Barat tersebut memiliki kerawanan tinggi terhadap utang.
Perdana Menteri Senegal, Ousmane Sonko, mengatakan, pemerintahannya berupaya untuk merestrukturisasi utang luar negeri. Senegal tengah menghadapi kesulitan dalam pembayaran utang luar negeri yang sudah lebih dari 11 miliar dolar AS (Rp183 triliun).
Pada Agustus, Sonko sudah mengumumkan rencana pemulihan ekonomi Senegal. Ia berjanji untuk membiayai 90 persen dari inisiatif kebijakan baru lewat sumber daya ekonomi lokal dan menghindari tambahan utang luar negeri.