Ahli Gizi Bocorkan Perbedaan Kualitas Daging Lokal dan Impor

admin.aiotrade 24 Okt 2025 2 menit 31x dilihat
Ahli Gizi Bocorkan Perbedaan Kualitas Daging Lokal dan Impor


Membuat steak sendiri di rumah seringkali menimbulkan kekecewaan, meskipun resep sudah diikuti dengan cermat. Hasilnya sering kali terasa berbeda dari steak yang disajikan di restoran. Daging yang dibuat sendiri bisa terasa lebih keras atau kurang juicy, membuat perbedaan yang signifikan. Apa sebenarnya yang menyebabkan hal ini?

Menurut Emilia Achmadi, Ahli Gizi Olahraga lulusan Universitas Oklahoma, perbedaan utama antara daging sapi lokal dan impor dipengaruhi oleh beberapa faktor. "Dari sisi protein, tidak terlalu banyak berbeda, tetapi jumlah lemaknya bisa sangat berbeda," ujarnya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain jumlah lemak, kualitas daging juga dipengaruhi oleh perawatan yang diberikan kepada sapi. Sapi yang dirawat dengan baik akan tumbuh menjadi besar hingga beratnya mencapai 500 kilogram. Perawatan yang baik juga memengaruhi kandungan protein dalam daging, sehingga kualitasnya lebih baik.


Perbedaan lainnya terletak pada jenis pakan yang diberikan. Sapi yang diberi makan menggunakan grass fed (rumput segar) memiliki kandungan omega-3 yang jauh lebih tinggi. Sebaliknya, jika sapi diberi pakan berupa biji-bijian (grain fed), maka kandungan lemak esensialnya akan berbeda.

"Karena itu, daging merah dari sapi yang diberi makan rumput segar sering dikatakan lebih sehat, karena kandungan omega-3 yang lebih tinggi. Selain itu, ada juga lemak jenuh seperti conjugated linoleic acid (CLA)," kata Emilia.

Di sisi lain, proses memasak daging juga memengaruhi kualitas keseluruhan. Menurut Emilia, daging yang tidak lembut dan berkualitas rendah akan lebih sulit diolah menjadi hidangan steak yang enak.


Freddie Salim, Chef Owner Silk Bistro, juga mengungkapkan bahwa daging impor, seperti dari Australia, biasanya lebih empuk karena sapi yang dipelihara dengan sangat baik. Sapi-sapi tersebut hidup bebas di padang rumput organik dekat laut dan dijaga agar tidak stres.

Saat sapi akan dipotong, biasanya diberikan waktu istirahat terlebih dahulu. Pihak yang melakukan pemotongan juga menggunakan teknologi stun untuk langsung mematikan sapi. "Mereka secepat mungkin dibuat mati dengan stun, lalu langsung tergeletak, tapi tidak langsung disayat. Sapi digantung dulu, lalu dikuliti baru diturunkan," ujar Freddie.

Di Indonesia, pemotongan daging masih mengacu pada ajaran agama dan memerlukan tata laksana khusus di tempat pemotongan hewan. "Saya tidak membahas ajarannya, tapi begitu daging sapi langsung dibabat, dia jadi stres dan itu yang membuat daging menjadi keras," katanya.

Selain cara potong, Freddie menambahkan bahwa perbedaan juga terletak pada jenis pakan, lingkungan sekitar, dan cara perawatan sapi. Sapi di Indonesia cenderung lebih suka diikat dalam satu tempat, dibanding dilepas begitu saja. Hal ini turut memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan