Peran Ekonomi Karbon dalam Mendorong Energi Berkelanjutan
Pakar Energi dan Teknologi Berkelanjutan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Sanggono Adisasmito, menekankan pentingnya aspek Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dalam mendorong penyediaan energi dan teknologi berkelanjutan di masa depan. Hal ini disampaikan dalam rangkaian kegiatan Carbon Digital Conference Indonesia (CDC) 2025 yang berlangsung di Aula Barat ITB pada tanggal 8-9 Desember 2025.
Dalam sambutan pembukaan CDC 2025 dengan tema From Capture to Credit: Digital Pathways for Indonesia’s Carbon Future, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, Prof. Lavi Rizki Zuhal, menyampaikan bahwa ITB bersama dengan Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA) serta pemangku kepentingan internasional, berupaya membangun berbagai penyelesaian berbasis Keilmuan serta Sumber Daya Manusia untuk Teknologi Rendah Karbon.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Prof. Sanggono, yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Keahlian Energi dan Teknologi Berkelanjutan (ETB), Fakultas Teknologi Industri ITB, sekaligus sebagai Head of the Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS, menjelaskan bahwa Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) kini memasuki fase baru: bukan hanya aspek Teknologi, tetapi juga aspek Nilai Komersial Karbon.
Menurutnya, karbon dioksida (CO₂) yang berhasil disimpan di bawah permukaan bumi dapat menjadi komoditas perdagangan antarnegara dan antarlembaga.
“Ke depan, industri yang mengemisikan CO₂ melampaui batas regulasi memiliki dua pilihan, yaitu membeli Sertifikat Karbon atau mengurangi Emisi melalui penerapan Teknologi,” ujarnya.

Konferensi ini menghadirkan pemangku kepentingan dari Industri, Bisnis, Pemerintah, hingga Akademisi untuk membahas arah Ekonomi Karbon dan penerapan Teknologi Dekarbonisasi di Indonesia. Pakar CCS dari ITB, Dr. Anggit Raksajati, telah memimpin Sesi Pleno pada CDC 2025 dengan topik Overview of Worldwide CCS and CCUS Projects. Pada Sesi tersebut, Dr. Aqsha, Dosen pada Program Studi Sarjana Teknik Bioenergi dan Kemurgi ITB, menyampaikan pentingnya kebijakan Nasional di Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE). Konferensi ini menguatkan peran ITB dalam mendukung beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG ke-7 untuk Affordable and Clean Energi serta SDG ke-13 untuk Climate Action.
Enam Kerja Sama Strategis ITB untuk Perkuat Ekosistem CCS
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Mohammad Rachmat Sule, Manager of the Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS, mengungkapkan bahwa ITB kini memperluas kolaborasi dengan enam Lembaga dan Perusahaan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Kerja sama tersebut meliputi:
- CO2 Capture and Storage Research Centre (CO2CRC Ltd. Australia) – Pusat Unggulan CCUS Internasional yang memperkuat Kolaborasi Riset dan Teknologi.
- China Oil and Gas Field Exploration and Development Technology Alliance Ltd dan PT Huafu Hope Indonesia – Perusahaan Layanan Enhanced Oil Recovery (EOR) dari Tiongkok yang akan mendukung pemanfaatan CO₂ untuk peningkatan Produksi Migas.
- Envana Software Solutions – Penyedia teknologi perhitungan Emisi CO₂ dan Gas Rumah Kaca (GRK) secara interaktif.
- PT Samator Indo Gas Tbk – Produsen Gas Industri Nasional (termasuk CO₂), untuk mendukung integrasi rantai pasok CCS.
- Wavelet Inc. (Japan) – Pengembang Teknologi Monitoring CCS untuk keamanan dan verifikasi penyimpanan CO2.
- PT Cirebon Energi Prasarana – Pengelola PLTU Unit 2 Cirebon Power yang tengah mengupayakan strategi Dekarbonisasi untuk Pembangkit Listrik.
Dr. Rachmat Sule menjelaskan bahwa fungsi the Indonesia Center of Excellence for CCS and CCUS adalah mendukung semua pihak yang ingin mengurangi emisi gas rumah kaca melalui teknologi yang tepat dan tidak membebani biaya produksi.
“Dekarbonisasi tidak boleh menjadikan harga produk melambung. Kami membantu pemilihan teknologi yang efektif namun tetap murah, serta mendampingi bisnis prosesnya, termasuk peluang perdagangan karbon,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa ITB telah melakukan riset CCS dan CCUS sejak 2012, dan pada 2023 dipercaya Kementerian ESDM, melalui Direktorat Jenderal Migas, untuk menyusun regulasi CCS pertama di Indonesia dalam bentuk Peraturan Menteri.
Pemanfaatan CO₂ Mengubah Paradigma Limbah Menjadi Material yang Bermanfaat
Direktur Riset dan Inovasi ITB, Prof. Elfahmi, mengapresiasi penyelenggaraan konferensi yang dihadiri partisipan dari berbagai negara yang fokus pada pemanfaatan CO₂. Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum penting dalam mengubah persepsi terhadap CO₂—dari limbah menjadi material yang bernilai ekonomi.
“Selama ini sektor energi menghasilkan CO₂ yang berdampak buruk pada lingkungan. Melalui Riset dan Teknologi Pemanfaatan CO₂, kita membuka peluang baru bagi energi yang lebih bersih,” ujarnya.

Prof. Elfahmi menambahkan bahwa berbagai inisiatif CCS–CCUS kini mulai memasuki tahap konstruksi di Indonesia. Ia juga menyebut hadirnya kepala daerah dalam kegiatan ini sebagai bentuk dukungan konkret terhadap upaya dekarbonisasi nasional.
Dengan terbangunnya kolaborasi global, regulasi yang mulai terbentuk, dan meningkatnya kesadaran industri terhadap ekonomi karbon, ITB berharap Indonesia dapat mempercepat transisi menuju energi berkelanjutan yang terjangkau dan kompetitif di pasar internasional.