
Di tengah pergeseran kebijakan energi nasional, gas bumi semakin memperkuat posisinya sebagai sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Dalam konteks ketahanan energi dan transisi menuju Net Zero Emission 2060, gas bumi dianggap sebagai penopang utama dalam menjaga ketersediaan pasokan energi yang andal.
Visi Nasional dan Tantangan Pemanfaatan Gas Bumi
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 serta Asta Cita 2024–2029, pemerintah menetapkan target peningkatan penggunaan gas bumi di sektor industri dan rumah tangga. Namun, tantangan besar masih menghadang percepatan peran gas bumi, termasuk:
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
- Keterbatasan infrastruktur jaringan pipa transmisi dan distribusi
- Ketidakpastian pasokan dari sisi hulu
- Perubahan skema pembiayaan jaringan gas rumah tangga yang tidak lagi didukung APBN sejak 2023
Abra Talattov, Kepala Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menyoroti kesenjangan antara target produksi gas bumi dan realisasi yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Meskipun ada peningkatan target pemanfaatan gas dalam Kebijakan Energi Nasional, tren produksi gas justru menurun, sehingga realisasi pemanfaatan gas dalam bauran energi jauh dari sasaran.
Masalah Sistemik di Sisi Hulu dan Infrastruktur
Kesenjangan ini mencerminkan masalah sistemik pada sisi hulu, mulai dari penambahan cadangan hingga keberlanjutan produksi. Hal ini berdampak langsung pada kepastian pasokan gas domestik. Selain itu, Abra menekankan bahwa pengembangan infrastruktur gas bumi belum mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan gas, baik secara sektoral maupun kewilayahan.
"Kondisi ini memperbesar risiko mismatch antara lokasi pasokan dan pusat permintaan, sekaligus membatasi fleksibilitas alokasi gas domestik di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional," ujar dia dalam diskusi publik yang disiarkan daring.
Tekanan Permintaan yang Semakin Kuat
Tekanan permintaan gas bumi diproyeksikan semakin kuat dari sektor ketenagalistrikan dan industri pupuk. Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 mencantumkan penambahan pembangkit berbasis gas yang signifikan, sehingga kebutuhan gas untuk sektor listrik meningkat dalam jangka menengah. Di sisi lain, Perpres No. 113 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi membuka ruang revitalisasi pabrik pupuk nasional, yang berimplikasi pada lonjakan kebutuhan gas bumi domestik sebagai bahan baku utama.
Langkah Konsisten untuk Menjaga Keseimbangan
Tanpa langkah korektif pada sisi hulu dan infrastruktur, kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan berpotensi memicu defisit gas bumi berkepanjangan dan melemahkan agenda swasembada energi nasional. Abra menilai peningkatan permintaan tersebut perlu diimbangi dengan percepatan produksi gas, penguatan alokasi gas untuk kebutuhan dalam negeri, serta integrasi perencanaan supply–demand secara menyeluruh.
Selain itu, penguatan peran negara melalui penugasan BUMN, insentif fiskal dan nonfiskal, serta kepastian regulasi jangka panjang menjadi penting. Tanpa intervensi kebijakan yang konsisten, tekanan defisit gas domestik berpotensi meningkat dan mendorong impor gas di masa depan, yang bertentangan dengan agenda swasembada energi.
Peran Gas Bumi dalam Stabilitas Energi Nasional
Hendra Gunawan, Direktur Pembinaan Program Migas, Kementerian ESDM, menyoroti tekanan struktural pada ketahanan energi nasional yang bersumber dari penurunan produksi minyak domestik, keterbatasan kapasitas kilang, serta ketergantungan impor BBM dan LPG. Disparitas antara harga keekonomian dan harga jual energi memperbesar beban subsidi sekaligus meningkatkan risiko gangguan pasokan. Dalam konteks tersebut, gas bumi ditempatkan sebagai penopang penting stabilitas energi nasional.
Gas bumi dipandang memiliki keunggulan dari sisi emisi dan keekonomian dibanding minyak dan batu bara. Hingga September 2025, pemanfaatan gas domestik telah mencapai hampir 70 persen dengan sektor industri sebagai pengguna terbesar.
Perkembangan Global dan Tantangan Indonesia
Aris Mulya Azof, Ketua Indonesian Gas Society, menguraikan pergeseran lanskap energi global, di mana permintaan minyak diperkirakan melandai pada 2030-an, sementara permintaan gas, terutama LNG, terus meningkat hingga pertengahan 2040-an dengan Asia sebagai motor pertumbuhan. Perubahan ini menempatkan gas bumi bukan sekadar bahan bakar peralihan, melainkan elemen strategis dalam sistem energi global.
Dalam konteks Indonesia, tantangan utama muncul dari ketidakseimbangan pasokan dan permintaan antarwilayah akibat karakteristik kepulauan. Ke depan, sumber gas baru cenderung berasal dari laut dalam dan membutuhkan monetisasi melalui LNG, dengan implikasi investasi besar, waktu pengembangan panjang, serta harga yang semakin terhubung dengan dinamika pasar global.
Peran Strategis Infrastruktur Gas
Mirza Mahendra, Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Gas Negara (PGN), menjelaskan peran strategis infrastruktur gas dalam mendukung agenda swasembada energi dan transformasi ekonomi hijau. Gas bumi diproyeksikan tetap menjadi bagian penting bauran energi nasional hingga 2060, seiring meningkatnya kebutuhan energi akibat elektrifikasi industri, transportasi, dan rumah tangga.
Integrasi jaringan pipa, LNG, dan skema beyond pipeline dinilai krusial untuk mengatasi ketimpangan pasokan antar wilayah. Adapun, strategi jangka panjang PGN disusun melalui pendekatan Grow, Adapt, dan Step-Out, mencakup optimalisasi aset eksisting, ekspansi infrastruktur gas, serta pengembangan bisnis rendah karbon seperti biomethane dan hidrogen.
Fokus pada Pengembangan Hulu dan Ekonomi Hijau
Edi Karyanto, Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial Pertamina Hulu Energi (PHE), memaparkan peran sektor hulu migas sebagai penopang keandalan pasokan energi nasional selama fase transisi. Dengan pengelolaan sekitar 27 persen wilayah kerja migas, PHE memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi minyak dan gas domestik. Fokus utama diarahkan pada eksplorasi berdampak tinggi, pengembangan lapangan, serta penerapan teknologi EOR dan CEOR untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Di sisi lain, peningkatan konsumsi domestik menekan surplus gas dan memperkuat kebutuhan akan dukungan infrastruktur serta kebijakan yang menjaga kelayakan ekonomi proyek gas. "Selain mempertahankan baseline produksi, PHE juga mengembangkan portofolio bisnis rendah karbon, termasuk CCS/CCUS, sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi dan ketahanan energi jangka panjang," ungkapnya.