
Peran Wartawan dalam Denyut Kehidupan Berbangsa
Dalam suasana hangat yang tercipta di sebuah pertemuan media, Ketua MPR RI Ahmad Muzani berbicara dengan nada penuh penghargaan. Di hadapan para pewarta yang hadir dalam acara Media Gathering Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP), ia tidak sekadar menyampaikan pidato formal, tetapi menggugah kesadaran akan makna jurnalisme dalam denyut kehidupan berbangsa.
“Wartawan adalah kata dan mata hati rakyat,” ujarnya pelan namun tegas, seolah ingin memastikan setiap kalimatnya terserap penuh. “Mereka menyampaikan pikiran-pikiran dan pertanyaan berdasarkan keinginan rakyat.” Bagi Muzani, wartawan bukan sekadar penyampai kabar. Mereka adalah jembatan yang menghubungkan suara rakyat dengan lembaga negara. Ia menilai, MPR RI akan kehilangan sebagian jiwanya jika tidak berinteraksi dengan dunia jurnalistik yang menjadi corong publik.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Dukungan dan peran kawan-kawan wartawan selama ini membantu kami menjalankan tugas di MPR,” katanya. “Banyak ide yang muncul dari pertanyaan wartawan—ide yang kadang bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya.” Ia lalu menengok sejarah. Dalam narasinya, peran wartawan di Indonesia bukan hal baru. Di masa perjuangan kemerdekaan, para pewarta bukan hanya menulis berita, tetapi juga menyalakan bara semangat nasionalisme.
Muzani menyinggung satu nama yang menurutnya pantas dikenang: M. Tabroni, seorang wartawan asal Madura. Dalam Kongres Pemuda I tahun 1926, Tabroni disebut berperan penting memperjuangkan penggunaan istilah “Indonesia” untuk menyatukan semangat kebangsaan.
“Beliau mengatakan, kita harus menggunakan kata Indonesia. Ini penting untuk menyatukan kita,” tutur Muzani. “Dan semangat itu hidup sampai sekarang—semangat yang kita rawat melalui media.” Dalam pandangannya, wartawan adalah bagian dari sistem pendengaran bangsa. Mereka peka terhadap denyut kehidupan rakyat—gelisah, gembira, atau marah—dan mengubahnya menjadi suara yang bisa didengar oleh para pengambil keputusan.
“Itulah yang selalu ingin kami dengar dan dapatkan kabarnya,” kata Muzani. “Karena di balik setiap berita, ada realitas sosial yang mesti kami pahami.” Namun, ia juga mengakui, menjaga ideologi negara bukan pekerjaan mudah. MPR RI, kata dia, sering menghadapi pasang surut perhatian publik.
“Saat negara dalam keadaan baik-baik saja, tugas menjaga ideologi sering dianggap tak penting,” ujarnya. Padahal, menurut Muzani, ideologi tidak boleh tidur. Ia harus tumbuh dalam kesadaran masyarakat, dipelihara lewat dialog, pendidikan, dan tentu saja, media. “Pemahaman tentang berbangsa dan bernegara harus terus ditumbuhkembangkan di semua lapisan,” tegasnya.
Dalam konteks itu, peran wartawan kembali menjadi sentral. Mereka bukan hanya melaporkan, tetapi juga mengedukasi. Dalam setiap berita, kata Muzani, ada potensi membangkitkan kesadaran kolektif tentang apa artinya menjadi Indonesia. Ia menyadari, wacana tentang amandemen konstitusi sering menciptakan perdebatan di masyarakat.
“Kami tahu, ada yang menghendaki amandemen, dan ada pula yang berpikir cukup sampai di sini,” ujarnya. “Di sinilah kemitraan kami dengan wartawan menjadi penting—untuk menjernihkan pemahaman publik.” Nada suaranya lembut, tapi pesan yang disampaikan sarat makna: bahwa tugas wartawan dan MPR sebenarnya beririsan. Keduanya sama-sama bekerja untuk kepentingan rakyat, hanya dengan cara yang berbeda.
Dalam setiap kata yang diucapkan Muzani, terselip kesadaran bahwa demokrasi membutuhkan dua sayap untuk terbang: lembaga yang mendengar, dan media yang bersuara. Tanpa salah satunya, keseimbangan bisa runtuh. Menutup pertemuan itu, ia menegaskan kembali pandangannya bahwa wartawan bukan sekadar profesi, tetapi bagian dari denyut nadi bangsa.
“Selama rakyat masih berbicara, wartawan akan tetap menjadi suaranya,” katanya. Dan di ruangan itu, tepuk tangan para pewarta menggema pelan—bukan sekadar bentuk apresiasi, melainkan pengakuan bahwa dalam setiap berita yang mereka tulis, tersimpan tanggung jawab besar: menjadi mata hati rakyat, seperti yang dikatakan Ketua MPR RI itu.