Pemakaman Pertama Korban Penembakan Massal di Bondi Beach
Pemakaman pertama bagi para korban penembakan massal di Pantai Bondi telah digelar, menandai awal dari rangkaian upacara duka yang dihadiri oleh ribuan pelayat dari berbagai latar belakang. Serangan brutal ini menewaskan sedikitnya 15 orang dan melukai puluhan lainnya, memicu kekhawatiran publik terhadap isu radikalisasi pelaku serta kemungkinan kegagalan sistem intelijen dalam mencegah tragedi tersebut.

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Upacara Pemakaman untuk Eli Schlanger
Salah satu korban yang dimakamkan adalah Eli Schlanger, seorang ayah lima anak yang dikenal sebagai “Rabbi Bondi” di kalangan komunitas setempat. Upacara penghormatan untuk Schlanger diadakan di Sinagoge Chabad Bondi, tempat ia selama ini aktif membina dan melayani umat. Dalam sambutannya, Alex Ryvchin dari Dewan Eksekutif Komunitas Yahudi Australia mengenang Schlanger sebagai sosok yang penuh dedikasi dan kebaikan.
“Siapa pun yang mengenalnya tahu bahwa dia adalah salah satu yang terbaik di antara kita. Kehilangannya meninggalkan luka mendalam bagi komunitas kami,” ujarnya dengan nada haru.
Upacara Pemakaman untuk Yaakov Levitan
Pada sore harinya, upacara pemakaman kedua dilaksanakan untuk rabi Yaakov Levitan, seorang pria berusia 39 tahun yang juga dikenal luas atas kiprah sosial dan kegiatan amalnya. Levitan meninggalkan seorang istri dan empat anak. Banyak pelayat mengenangnya sebagai figur yang tanpa pamrih membantu sesama, baik di dalam maupun di luar komunitas Yahudi.
Pelaku Penembakan dan Motif Mereka
Pihak berwenang menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh dua orang bersenjata, yaitu Sajid Akram dan putranya, Naveed Akram. Menurut hasil penyelidikan awal, aksi mereka dirancang secara sengaja untuk menebar ketakutan dan kepanikan, khususnya di kalangan komunitas Yahudi di Australia.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menegaskan bahwa kedua pelaku telah terpapar dan diradikalisasi oleh apa yang ia sebut sebagai “ideologi kebencian”.
“Semua indikasi menunjukkan bahwa serangan ini dimotivasi oleh ideologi ISIS,” kata Albanese dalam wawancara dengan stasiun televisi nasional ABC.
Pertanyaan Publik tentang Kegagalan Intelijen
Seiring dengan berjalannya penyelidikan, muncul pula pertanyaan publik mengenai apakah aparat keamanan sebenarnya dapat bertindak lebih cepat untuk mencegah serangan tersebut. Diketahui bahwa Naveed Akram sempat menarik perhatian badan intelijen Australia pada tahun 2019. Namun, pada saat itu ia tidak dikategorikan sebagai ancaman yang signifikan.
Polisi kini juga tengah menyelidiki kemungkinan keterkaitan kedua pelaku dengan jaringan ekstremis Islam di luar negeri, termasuk dugaan bahwa mereka bertemu dengan kelompok radikal selama kunjungan ke Filipina pada November lalu.
Detail Serangan di Pantai Bondi
Dalam serangan yang berlangsung sekitar 10 menit tersebut, Sajid dan Naveed Akram membawa senjata laras panjang dan menembaki area Pantai Bondi secara membabi buta. Aksi mereka baru terhenti setelah aparat kepolisian tiba di lokasi dan menembak Sajid Akram, yang tewas di tempat pada usia 50 tahun.
Sementara itu, Naveed Akram yang berusia 24 tahun turut tertembak dalam insiden tersebut. Ia kini masih menjalani perawatan di rumah sakit dan berada di bawah pengawasan ketat polisi setelah sadar dari kondisi koma.
Respons dari Pemimpin Negara
Tragedi ini juga memicu reaksi keras dari para pemimpin Australia, yang sepakat untuk memperketat undang-undang kepemilikan senjata api. Sebelumnya, aturan yang berlaku memungkinkan Sajid Akram memiliki hingga enam pucuk senjata api, sebuah fakta yang kini menuai kritik tajam.
Selain itu, serangan ini kembali mengangkat tudingan bahwa Australia dinilai lamban dalam menangani dan memerangi antisemitisme. Isu ini mendapat perhatian internasional, termasuk dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
“Saya menuntut agar pemerintah negara-negara Barat melakukan segala upaya yang diperlukan untuk memerangi antisemitisme serta menjamin keselamatan dan keamanan komunitas Yahudi di seluruh dunia,” ujar Netanyahu dalam pernyataan resminya.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Hingga kini, penyelidikan masih terus berlanjut, sementara Australia berusaha memulihkan rasa aman masyarakatnya di tengah duka mendalam akibat salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.