
Aku seperti hidup di dunia hitam putih tanpa warna, melangkah di jalan tak berujung dengan hujan tak berhenti turun. Narasi yang diucapkan Aqilla (Titi Kamal) di awal film "Air Mata di Ujung Sajadah 2" cukup menggambarkan kesepian yang dialaminya. Seorang perempuan yang mulai menapak sukses di dunia marketing, bekerja keras mempersiapkan presentasi untuk sebuah perusahaan, tetapi tidak bahagia.
Baskara (Faqih Alaydrus), anak kandungnya yang harus direlakannya diasuh oleh pasutri Arif (Fedi Nurul) dan Yumna (Citra Kirana) jauh di Solo. Pasutri tersebut mengadopsi Baskara ketika masih kecil tanpa sepengetahuan Aqilla. Ibu Baskara meninggal, dan hanya setelah tujuh tahun kemudian, Aqilla diberitahu bahwa Baskara bukanlah anak kandungnya. Hal ini menyebabkan guncangan besar dalam hidupnya, menjadi cerita sekuel pertama.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Untuk mengobati kesepiannya, Aqilla merayakan ulang tahun Baskara sendirian dengan kue dan lilin yang ditiupnya sendiri, baik saat ulang tahun ke sembilan maupun kesepuluh. Namun, Arif, Yumna, dan Baskara tidak bisa dihubungi, membuat Aqilla semakin gundah. Akhirnya, teman-temannya menganjurkannya untuk pergi ke Solo mencari tahu. “Jangan pura-pura bahagia.”
Dia akhirnya bertemu dengan Baskara yang menyambutnya gembira dengan sebutan Bu Aqilla dan menerima hadiah mainan legonya. Meski Mbok Atun menyambutnya dengan sikap sinis. Baskara belum tahu bahwa perempuan yang datang itu adalah ibu kandungnya. Namun, dia merasakan kasih sayang yang kuat dari Aqilla, seperti saat membantu pekerjaan rumah dan menyuapkan makanan.
Namun, di mana Yumna, Arif, dan neneknya? Musibah datang menimpa keluarga itu. Arif meninggal karena kecelakaan motor, sehingga Yumna harus bekerja keras sebagai pedagang batik. Nenek Baskara (Yenny Rachman) terpukul, meskipun adik Arif, Fathan (Daffa Wardhana), datang dari Kalimantan. Keduanya terpisah sejak kecil karena Fathan harus ikut ayahnya yang bercerai, sementara Arif tinggal bersama ibunya.
Cerita menjadi menarik karena Yumna di satu sisi takut kehilangan Baskara jika diambil oleh ibu kandungnya, tetapi di sisi lain ia harus berjuang sebagai pedagang kecil—sama seperti nasib Aqilla di sekuel pertama. Film "Air Mata di Ujung Sajadah 2" mempertemukan dua ibu, dua perempuan yang mandiri, mempertahankan seorang anak yang sama-sama mereka cintai. Tentu saja menguras air mata. Sementara Baskara akhirnya tahu apa yang terjadi pada dirinya?
Catatan pertama saya, film ini praktis mempertunjukkan adu tegar dua tokoh utama perempuan memperebutkan hati Baskara, tetapi di sisi lain siapa yang paling ikhlas. Karena sutradaranya perempuan, Key Mangunsong, maka nuansa keibuannya terasa. Begitu juga sikap nenek, seorang perempuan yang berusaha tegar kehilangan anaknya.
Dalam sebuah adegan, ketika nenek dan Mbok Atun ketiduran hingga jam 2 siang, padahal harus menjemput Baskara begitu manusiawi, sementara Fathan juga tidak bisa menjemput, hingga Yumna tergopoh-gopoh menjemput Baskara.
Catatan kedua, kehadiran tokoh Fathan sepertinya ingin membuka kemungkinan adanya sekuel ketiga film ini. Di sekuel keduanya, dia digambarkan dekat dan bersimpati dengan Aqilla, namun di sisi lain dia juga harus melindungi iparnya, sekalipun tidak bisa meninggalkan pekerjaan di Kalimantan. Nah, bagaimana hubungan mereka, apakah akan jadi segitiga dalam sekuel berikutnya?
Rasanya, jika sekuel ketiga memang akan dibuat, harus menjadi pamungkas yang menarik seperti trilogi "Surga yang Tak Dirindukan".