
Pemerintah Indonesia dan AS Berupaya Menjalin Kerja Sama di Sektor Mineral Kritis
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Badan Pengelola Investasi Daya Anugrah Nusantara (Danantara) telah melakukan pembicaraan dengan pihak Amerika Serikat terkait akses ke komoditas mineral kritis. Pembicaraan ini menjadi bagian dari negosiasi tarif antara kedua negara.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Airlangga, pertemuan tersebut dilakukan antara Danantara dan badan ekspor di AS. Selain itu, ada juga perusahaan asal Amerika yang sudah berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia yang menangani mineral kritis. Hal ini disampaikannya saat berada di Pondok Indah Mall, Jakarta, pada Jumat (26/12).
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa akses terhadap mineral kritis tersedia bagi pihak asing. Airlangga menambahkan bahwa salah satu contoh akses yang sudah diberikan sejak tahun 1967 adalah tembaga oleh Freeport McMoran.
Minat Negara Lain Terhadap Perusahaan Pemrosesan Mineral
Selain AS, beberapa negara lain seperti Jepang dan Tiongkok juga menunjukkan minat terhadap Perusahaan Pemrosesan Elektrolit (PSEL). Dalam hal ini, Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi, menyebutkan bahwa minat dari AS terhadap pengembangan sumber daya mineral kritis Indonesia masih dalam tahap awal atau "omon-omon".
Airlangga menekankan bahwa mineral kritis bukanlah sesuatu yang baru bagi Indonesia dan AS. Sebaliknya, kerja sama ini sudah berlangsung sejak lama.
Proses Perundingan Tarif Resiprokal Antara Indonesia dan AS
Saat ini, Indonesia dan AS sedang menyelesaikan pembicaraan mengenai tarif resiprokal. Pemerintah berharap dokumen ini dapat segera rampung dan ditandatangani langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump pada Januari 2026.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, mengatakan bahwa perundingan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat masih berlangsung. Informasi ini disampaikan kepada aiotrade.co.id pada Rabu (10/12).
Sebelumnya, sempat muncul kabar bahwa kesepakatan tarif 19% untuk barang dari Indonesia batal berlaku. Seorang pejabat AS kepada Reuters menyampaikan bahwa Indonesia mulai menarik kembali sejumlah komitmen yang sebelumnya disepakati pada Juli lalu.
“Mereka menarik diri dari apa yang sudah kami sepakati pada Juli,” kata pejabat yang berbicara dengan syarat anonim, sebagaimana diberitakan oleh Reuters pada Selasa (9/12).
Potensi Kerja Sama di Sektor Pertambangan
Dengan adanya pembicaraan antara Indonesia dan AS, potensi kerja sama di sektor pertambangan dan pengolahan mineral kritis semakin terbuka. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk memfasilitasi akses dan investasi dari negara-negara mitra strategis, termasuk AS, dalam rangka memperkuat sektor ekonomi dan industri nasional.
Kerja sama ini tidak hanya akan memberikan manfaat ekonomi tetapi juga meningkatkan kapasitas industri lokal melalui transfer teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, Indonesia berharap bisa lebih mandiri dalam mengelola sumber daya alam yang dimilikinya.