Aksi ambil untung menghiasi kenaikan IHSG jelang akhir tahun 2025

admin.aiotrade 19 Des 2025 4 menit 13x dilihat
Aksi ambil untung menghiasi kenaikan IHSG jelang akhir tahun 2025

Tren IHSG di Akhir Tahun 2025 dan Strategi Investasi yang Tepat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 0,68% pada akhir perdagangan Kamis (18/12/2025), dengan posisi berada di level 8.618. Meskipun demikian, IHSG telah meningkat sebesar 21,73% sejak awal tahun ini, atau year to date (YTD). Peningkatan ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia memiliki kinerja yang kuat sepanjang tahun 2025.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Kondisi ini membuka peluang bagi investor untuk melakukan profit taking di akhir tahun. Hal ini terutama karena tidak ada lagi katalis lanjutan yang mendorong pertumbuhan pasar saham hingga akhir tahun 2025. Misalnya, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% pada Desember 2025. Meskipun BI Rate sudah turun lima kali sepanjang tahun ini, langkah ini diambil saat The Fed memangkas suku bunga ke kisaran 3,5%-3,75% di bulan terakhir tahun 2025.

Persepsi Investor dan Analisis Pasar

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan bahwa aksi profit taking menjadi hal wajar dilakukan oleh investor. Mereka akan fokus pada rebalancing atau realokasi portofolio investasi untuk tahun 2026. “Investor akan berpindah ke sektor yang sejalan dengan rencana kerja pemerintah Indonesia di tahun 2026, seperti MBG, koperasi desa, dan ketahan energi,” ujarnya.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, melihat bahwa penguatan lanjutan pasar saham sudah tipis, bahkan hingga kuartal I 2026. “Untuk beberapa saham yang sudah naik tinggi, ruang penguatan relatif terbatas. Namun, masih banyak saham lainnya yang justru masih menyimpan potensi penguatan hingga dipublikasikannya laporan keuangan tahun 2025,” katanya.

Investor bisa melakukan profit taking jika target imbal hasil sudah tercapai atau butuh likuiditas. “Atau juga jika ada saham lain yang sedang diburu dan diprediksi akan naik banyak,” tambahnya.

Pandangan Rita Efendy tentang Strategi Investasi

Pengamat Pasar Modal, Rita Efendy, berpandangan bahwa kenaikan IHSG yang sudah cukup tinggi menandakan pasar saat ini berada di fase mature rally. Alhasil, strategi paling aman saat ini adalah selektif dan parsial. Investor bisa mengambil sebagian profit pada kepemilikan saham mereka yang sudah naik signifikan, sembari tetap menggenggam saham yang masih punya katalis hingga kuartal I 2026.

“Jadi ambil sebagian kas untuk jaga-jaga jika ada gejolak di awal tahun 2026, mengingat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkadang membuat keputusan unik. Jadi, bukan jual semua, tetapi sebagian saja. Posisinya mungkin kira-kira 50% cash dan 50% saham,” katanya.

Keputusan taking profit di akhir tahun juga identik dengan aksi window dressing untuk sebagian portfolio yang sudah priced-in. Investor institusi juga cenderung sudah mengunci kinerja akhir tahun.

Saham yang Layak Dikurangi dan Potensi Investasi

Rita menjelaskan bahwa saham yang layak dikurangi adalah yang sudah naik tinggi secara teknikal, atau saham yang hanya berbasis sentimen jangka pendek dan banyak disukai oleh investor ritel. “Dana hasil taking profit sebaiknya parkirkan sementara di cash, reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, atau obligasi jangka pendek sambil menunggu peluang masuk kembali (re-entry) setelah liburan Nataru,” ungkapnya.

Nico melihat ada beberapa sektor saham yang bisa dipegang hingga kuartal I 2026. Untuk jangka pendek, investor bisa memperhatikan kinerja saham yang sudah oversold, sehingga berpotensi untuk mengalami kenaikan dalam waktu dekat. “Saham-saham yang masih bisa dicermati di akhir tahun dan digenggam hingga kuartal awal tahun depan bisa dari sektor perbankan, komoditas, consumer goods, dan consumer non-cyclical,” ujarnya.

Sektor yang Menarik untuk Diperhatikan

Rita mengatakan bahwa pasar saham Indonesia masih ada ruang penguatan hingga Maret 2026, namun cenderung lebih selektif. Setiap awal tahun biasanya selalu diikuti rotasi sektor dan katalis laporan kinerja. Sektor yang relatif menarik untuk diperhatikan adalah sektor perbankan yang harganya sudah turun banyak, sehingga valuasinya murah. Lalu, sektor energi dan komoditas terpilih, seperti emas, yang bisa menguat lantaran ada dedolarisasi.

“Kemudian, sektor nikel, sektor infrastruktur selektif, dan sebagian saham konglomerasi yang masih ada story, baik itu yang mau IPO anak usaha atau mau merger/akuisisi,” katanya.

Menurut Rita, investor pun bisa fokus pada saham dengan tren teknikal yang tengah menanjak, fundamental kuat, berdividen menarik, dan isu menarik di kuartal I 2026. “Strategi yang lebih tepat adalah trailing profit, bukan mengejar target agresif,” ungkapnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan