
Pendanaan untuk Pengembangan Usaha
PT Darma Henwa Tbk (DEWA), salah satu emiten pertambangan yang tergabung dalam Grup Bakrie, baru saja mendapatkan fasilitas kredit dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 1 triliun. Dana ini akan digunakan sebagai modal kerja dan investasi perusahaan. Pinjaman tersebut terdiri dari dua bagian, yaitu fasilitas modal kerja senilai Rp 850 miliar dengan jangka waktu dua tahun dan fasilitas investasi sebesar Rp 150 miliar dengan jangka waktu lima tahun. Kedua jenis pinjaman ini memiliki tingkat bunga efektif sebesar 7% per tahun.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Direktur DEWA, Mukson Arif Rosyidi, menjelaskan bahwa dana kredit ini akan digunakan untuk membeli unit alat berat baru. Sementara itu, fasilitas kredit modal kerja akan digunakan untuk mengambil alih seluruh pekerjaan subkontraktor pada proyek PT Kaltim Prima Coal. Selain itu, dana tersebut juga akan digunakan untuk meningkatkan volume pekerjaan di proyek PT Arutmin Indonesia serta mendukung pengembangan proyek perusahaan ke depan.
Penguasaan Saham oleh Anak Perusahaan DEWA
Selain mendapatkan pendanaan, DEWA juga baru saja mengumumkan bahwa entitas anaknya, PT Mahadaya Imajinasi Nusantara (MIN), resmi menguasai 99,75% saham perusahaan tambang emas PT Gayo Mineral Resources (GMR). MIN merupakan perusahaan yang dimiliki oleh anak usaha DEWA lainnya, PT Sabina Mahardika, dengan porsi kepemilikan saham sebesar 99,89%. Sementara itu, DEWA menjadi pengendali Sabina melalui kepemilikan saham yang mencapai 99,89%.
Dengan pengambilalihan ini, komposisi pemegang saham GMR kini terdiri dari MIN yang memegang 40.000 saham Seri A dan 63.829.603 saham Seri B atau setara 99,75% kepemilikan. Sisanya, sebanyak 160.000 saham Seri A atau 0,25%, dimiliki oleh Atlas Energy Investment Ltd.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya telah menyetujui perubahan kepemilikan saham tersebut setelah mengevaluasi persyaratan administrasi, teknis, lingkungan, dan finansial.
Bidang Usaha Sabina Mahardika
Sabina Mahardika selama ini bergerak di bidang konsultasi manajemen, perdagangan besar mesin dan peralatan, serta penyewaan tanpa hak opsi. Perusahaan itu memiliki penyertaan 99,89% pada MIN, yang kini menguasai 99,75% saham GMR. MIN sendiri menjalankan usaha konsultasi manajemen, layanan kehumasan, manajemen investasi, hingga perdagangan berjangka.
Berdasarkan laman LinkedIn Gayo Mineral Resources, perusahaan itu memegang izin eksplorasi emas yang berlaku sejak 3 Juli 2017 hingga 8 Maret 2025, mencakup area seluas 34.550 hektare di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. GMR saat ini sedang mengembangkan tambang bawah tanah emas dan tembaga di wilayah tersebut.
Program Buyback Saham
Tidak hanya melakukan aksi akuisisi, DEWA juga sedang menyiapkan program pembelian kembali saham atau buyback. Perseroan menyebut bahwa nilai buyback telah direvisi menjadi Rp 950 miliar dari rencana awal sebesar Rp 1,6 triliun. Dana tersebut akan diambil dari kas internal perusahaan.
“Perkiraan nilai nominal seluruh saham yang akan dibeli kembali adalah maksimal 10% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan,” demikian penjelasan manajemen DEWA dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Jumat (12/12).