Aksi Besar di Belem, Rakyat Brasil Minta Solusi Iklim di COP30

admin.aiotrade 15 Nov 2025 3 menit 13x dilihat
Aksi Besar di Belem, Rakyat Brasil Minta Solusi Iklim di COP30

Ratusan Orang Turun ke Jalan untuk Menuntut Solusi atas Pemanasan Global

Ribuan orang diperkirakan turun ke jalan di Kota Belem pada hari Sabtu (15/11) untuk menuntut "solusi nyata" terhadap pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Aksi ini digelar saat kota tersebut menjadi tuan rumah Konferensi Iklim PBB (COP30) dan berada di tengah negosiasi yang berlangsung sengit.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Aksi ini diberi nama "Great People’s March" dan berlangsung setelah dua protes masyarakat adat di awal pekan yang sempat mengganggu jalannya konferensi. Peserta aksi terdiri dari masyarakat adat, nelayan, kelompok muda, hingga para pekerja. Mereka berkumpul di pasar lokal pada pukul 07.30 waktu setempat dan berjalan sekitar 4,5 kilometer, berhenti beberapa blok sebelum kompleks COP30.

“Kami menuntut reparasi atas kerusakan yang ditimbulkan oleh korporasi dan pemerintah, terutama terhadap komunitas yang terpinggirkan,” kata anggota tim koordinasi aksi dari Movement of People Affected by Dams, Iury Paulino.

Ia menegaskan bahwa secara historis, rakyatlah yang membangun solusi nyata. Gerakan ini bertujuan untuk mengecam krisis iklim sekaligus menyampaikan proposal kepada dunia.

Meskipun rute aksi tidak melewati area konferensi, aparat keamanan tetap siaga tinggi. Pada Selasa, sekelompok demonstran adat memaksa masuk ke area Parque da Cidade, lokasi COP30 yang dibangun di bekas bandara hingga sempat terlibat bentrok dengan petugas keamanan. Sejumlah petugas mengalami luka ringan.

Pada Jumat, puluhan demonstran adat memblokade pintu masuk selama dua jam untuk menyoroti perjuangan mereka di Amazon.

Negosiasi COP30 Berada di Titik Kritis

Di dalam lokasi konferensi, pembahasan berjalan hati-hati. Menjelang akhir pekan pertama, presidensi COP30 yang dipegang Brasil dijadwalkan memaparkan strategi untuk menjembatani berbagai tuntutan negara peserta.

Isu utama mencakup target iklim yang lemah, pendanaan dari negara kaya ke negara berkembang untuk meningkatkan ketahanan iklim, serta transisi menuju ekonomi rendah emisi. Perdebatan juga mengemuka mengenai trade barriers seperti pajak karbon perbatasan Uni Eropa, hingga apakah COP perlu menetapkan target dan tenggat waktu transisi keluar dari energi fosil.

Sejumlah pihak menilai negosiasi masih tertahan sambil menunggu kedatangan para menteri pekan depan yang harus merampungkan kesepakatan sebelum konferensi ditutup pada 21 November.

“Jika presidensi tidak mengambil alih kepemimpinan, COP ini bisa berakhir kosong,” ujar seorang negosiator dari Afrika yang menyampaikan kekhawatirannya.

Namun pandangan optimistis juga muncul. “Para pihak datang ke sini untuk menghasilkan hasil positif dari COP ini,” kata Sekjen Kementerian Jerman, Jochen Flasbarth.

Seorang diplomat Barat menambahkan, presidensi Brasil mendorong negara-negara memperlakukan konsultasi mereka sebagai sesi terapi atau ruang aman untuk menyampaikan kekhawatiran. Delegasi juga diminta mengirimkan masukan tertutup mengenai perkembangan pembahasan, yang oleh Brasil disebut “love letters”.

“Negosiasi ini seperti roller coaster, kadang naik, kadang turun,” ujar Kepala Negosiator Brasil, Liliam Chagas.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan