Aksi Korporasi di Akhir Tahun 2025: Divestasi dan Penjualan Aset oleh Banyak Emitter
Di tengah memasuki akhir tahun 2025, sejumlah perusahaan tercatat melakukan berbagai aksi korporasi seperti penjualan atau divestasi aset. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat posisi keuangan, serta fokus pada bisnis inti. Beberapa emiten yang terlibat dalam aksi tersebut antara lain PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), hingga PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL).
Penjualan Aset oleh PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN)
Salah satu contoh aksi korporasi terbaru adalah penjualan seluruh saham milik PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) di dalam PT Karya Pratama Propertindo. Wakil Direktur Utama APLN, Noer Indradjaja, dan Direktur APLN, Paul Christian, mengumumkan bahwa perseroan menjual seluruh kepemilikan saham kepada PT Puri Dibya Property dan PT Hartons Property Development.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Penandatanganan dokumen jual beli dilakukan pada Kamis, 11 Desember 2025. Berdasarkan laporan keuangan APLN per 30 September 2025, PT Karya Pratama Propertindo merupakan pemilik dan pengelola hotel Sofitel Bali Ubud Resort and Spa. Jumlah aset PT Karya Pratama Propertindo sebelum eliminasi mencapai Rp301,93 miliar per kuartal III/2025.
Transaksi ini diharapkan memberikan dampak positif terhadap kegiatan operasional dan kondisi finansial APLN. Dana dari hasil penjualan akan digunakan untuk mendukung operasional dan pengembangan usaha, sekaligus mengurangi beban utang perusahaan.
Divestasi Aset oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT)
Sebelumnya, dua BUMN Karya, termasuk PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), juga telah melakukan aksi divestasi aset. Melalui anak usahanya, PT Waskita Toll Road, WSKT melepas saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) senilai Rp3,28 triliun kepada PT Bakrie Toll Indonesia.
Transaksi ini efektif sejak 28 November 2025 melalui penandatanganan akta jual beli saham dan akta pengalihan piutang di hadapan notaris di Jakarta. Aksi korporasi ini mencakup penerimaan pengembalian shareholder loan dari CCT senilai Rp1,92 triliun, pengalihan saham CCT senilai Rp388,89 miliar, serta pengalihan piutang senilai Rp970,75 miliar.
Manajemen Waskita menyatakan bahwa aksi ini menjadi bagian dari strategi restrukturisasi dan transformasi bisnis. Selain itu, langkah ini juga memperkuat fokus pada bisnis inti perusahaan. Dana hasil divestasi akan menambah likuiditas dan arus kas bagi operasional perseroan.
Divestasi Saham oleh PT PP (Persero) Tbk. (PTPP)
Sementara itu, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) berencana melepas 47,81% kepemilikan sahamnya di PT Celebes Railway Indonesia (CRI) kepada PT Solra Energi Terbarukan dengan nilai transaksi mencapai Rp282,1 miliar. Aksi ini dilakukan melalui perjanjian jual beli saham bersyarat sebagai bagian dari langkah penataan portofolio dan penguatan fokus bisnis inti.
Manajemen PTPP menyebut bahwa transaksi ini sejalan dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025–2029 bertema back to core. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi operasional dan pertumbuhan berkelanjutan sambil menyelaraskan portofolio investasi.
Divestasi Aset oleh PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL)
Selain itu, emiten dari sektor telekomunikasi, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL), juga melakukan aksi divestasi. EXCL menjual seluruh kepemilikan sahamnya di PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) sebanyak 4,33 miliar lembar saham.
Dalam keterbukaan informasi di BEI, manajemen EXCL menyebut bahwa tujuan dari penjualan ini adalah divestasi. Dengan harga transaksi sebesar Rp432 per saham, EXCL meraup dana segar senilai Rp1,87 triliun. Setelah transaksi ini, EXCL tidak lagi memiliki porsi saham langsung di MORA.
Kesimpulan
Aksi korporasi seperti penjualan aset dan divestasi saham semakin marak di akhir tahun 2025. Langkah-langkah ini tidak hanya membantu perusahaan dalam meningkatkan likuiditas dan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat posisi keuangan serta memfokuskan bisnis pada intinya. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.
