Aktivis Gelar Pemungutan Suara Tolak Pengangkatan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional

admin.aiotrade 12 Nov 2025 3 menit 15x dilihat
Aktivis Gelar Pemungutan Suara Tolak Pengangkatan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional

Peringatan Hari Pahlawan dan Kritik terhadap Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional

Sehari setelah peringatan Hari Pahlawan, puluhan aktivis, akademisi, dan korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berkumpul dalam acara Rapat Oemoem Meluruskan Sejarah Indonesia pada Selasa pagi (11/11) di Langgeng Art, Yogyakarta. Acara ini secara eksplisit menolak penetapan mantan Presiden Soeharto sebagai pahlawan nasional, yang dianggap sebagai puncak dari kembalinya ideologi militerisme dan pengaburan sejarah kekejaman Orde Baru.

Ketua panitia acara, Marsinah (bukan nama sebenarnya), menjelaskan bahwa rapat umum ini dilatarbelakangi oleh kegelisahan berulang menjelang Hari Pahlawan dan makin diperkuat dengan munculnya nama Soeharto sebagai salah satu calon pahlawan nasional tahun ini. "Ini adalah persoalan untuk membangun narasi-narasi pengaburan sejarah kekejaman yang dilakukan oleh Orde Baru," tegas Marsinah.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Penetapan Soeharto sebagai pahlawan nasional, yang diumumkan tepat pada 10 November, dianggap sebagai upaya memperkuat militerisme di ruang sipil. Marsinah memaparkan sejumlah dosa besar Soeharto yang dilupakan oleh rezim hari ini. Misalnya, kata dia, ada lebih dari 30.000 orang tewas akibat daerah operasi militer (DOM) di Papua dan Aceh, ada 152 perempuan korban perkosaan pada Mei 1998 dan 20 korban di antaranya meninggal dunia, serta pembunuhan dan membungkam ratusan aktivis, termasuk Moses, mahasiswa yang tewas di Yogyakarta pada masa reformasi.


Acara Rapat Oemoem menolak Soeharto sebagai pahlawan nasional. Foto: Januardi/JPNN

Gelar Pahlawan sebagai Alat Kuasa Politik

Marsinah menegaskan bahwa pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto saat ini tidak lebih dari alat untuk melakukan peneguhan kuasa politik dan melegitimasi militerisme. Hal itu juga dianggap sebagai bentuk kebohongan publik yang mengaburkan sejarah keadilan dan pelanggaran HAM. “Hari ini menunjukkan bahwa kami tidak tinggal diam. Kami semua di sini adalah korban kebohongan terhadap pengaburan sejarah Soeharto sebagai pelanggar HAM,” kata dia.

Rapat umum tersebut juga mengkritik keras pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut Soeharto tidak terlibat dalam peristiwa kemanusiaan pada 1965. Marsinah menyebutkan bahwa ibu-ibu korban tragedi 1965 hadir menyatakan diri sebagai korban nyata dari kejahatan kemanusiaan yang dilakukan terstruktur oleh rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto. “Gerakan akan terus dilakukan untuk menggagalkan Soeharto sebagai pahlawan nasional dan melawan dokumen-dokumen seperti proyek Sejarah Nasional Indonesia yang ingin mencuci dosa Soeharto,” ujarnya.

Penetapan Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengukuhkan gelar pahlawan nasional kepada sepuluh tokoh di Istana Negara pada Senin (10/11). Sepuluh tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan nasional, yaitu Abdurrahman Wahid, Jenderal Besar TNI Soeharto, Marsinah, Mochtar Kusumaatmaja, Hajjah Rahma El Yunusiyyah, Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih dan Zainal Abidin Syah. Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Presiden RI No 116/TK Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Tanggapan dari DPRD DIY

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto menilai Soeharto tidak layak menyandang gelar pahlawan nasional. "Sebagai bagian dari sejarah yang ikut melihat, merasakan dan mendengar suasana batin gerakan reformasi, kami harus menyampaikan bahwa hati rakyat mengatakan bahwa Soeharto tidak pantas menjadi pahlawan," kata Eko. Eko menegaskan bahwa pemerintah berkewajiban menjaga etika dan moral dalam memberikan gelar pahlawan. "Soeharto memiliki rekaman kekuasaan kelam dalam kepemimpinan dirinya kala menjabat sebagai presiden yang akhirnya harus mundur karena tak lagi dipercaya rakyat," ujarnya.

Menurutnya, selama 32 tahun duduk di kursi presiden, Soeharto meninggalkan catatan buruk.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan