
Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera: Potensi Serupa di Jambi?
Rangkaian banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi bencana serupa yang bisa terjadi di wilayah lain. Salah satu daerah yang menjadi perhatian adalah Jambi, karena memiliki bentang alam yang relatif mirip dengan tiga provinsi tersebut.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa hingga Selasa (16/12), korban meninggal lebih dari 1.000 orang, ratusan masih belum ditemukan, serta ratusan ribu warga terdampak dan kehilangan tempat tinggal. Ketiga wilayah yang dilanda bencana ini berdekatan dengan Provinsi Jambi, sehingga muncul pertanyaan apakah kondisi serupa bisa terjadi di sana.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Manager Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi, Ginda Harahap, memberikan penjelasan mengenai potensi bencana di Jambi. Ia menjelaskan bahwa secara potensi, bencana yang terjadi di provinsi tetangga sangat mungkin terjadi di Jambi.
Degradasi Lingkungan dan Kehilangan Tutupan Hutan
Saat ini, proses degradasi lingkungan dan kehilangan tutupan hutan di Jambi berlangsung sangat masif. Berdasarkan analisis Walhi Jambi, sejak tahun 2001 hingga 2024, Jambi telah kehilangan tutupan hutan hampir satu juta hektare, tepatnya sekitar 990 ribu hektare.
Kerusakan terbesar terjadi di Kabupaten Sarolangun. Selain itu, kerusakan juga terjadi di kawasan yang seharusnya dilindungi, seperti Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Di TNKS saja, kehilangan tutupan hutan mencapai sekitar 39 ribu hektare dalam rentang 2001-2024.
Dampak Kerusakan Hutan di Hulu pada Wilayah Tengah dan Hilir
Kerusakan di hulu, seperti Kerinci, Merangin, Sarolangun, Bungo, dan Tebo, akan berdampak langsung ke wilayah tengah dan hilir, seperti Muaro Jambi, Batanghari, Kota Jambi, hingga Tanjung Jabung. Contoh nyata terjadi pada 2024 lalu, ketika banjir melanda Kerinci, Merangin, Tebo, dan Muaro Jambi selama lebih dari sepekan. Salah satu penyebab utamanya adalah hilangnya tutupan hutan di wilayah hulu.
Perizinan Kehutanan dan Deforestasi
Dari total kerusakan tutupan hutan, sekitar 53 persen terjadi di kawasan yang dibebani izin PBPH (Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan). Luasnya mencapai sekitar 530 ribu hektare, bahkan lebih besar dari luas Kabupaten Muaro Jambi. Hutan alam digantikan tanaman monokultur, yang tetap dianggap sebagai kehilangan hutan karena ekosistem alaminya hilang.
Pertambangan dan Kerusakan Lingkungan
Baik tambang berizin maupun ilegal, keduanya sama-sama merusak. Luas pertambangan di wilayah APL di Jambi mencapai sekitar 711 ribu hektare. Untuk tambang ilegal, yang terbesar berada di Sarolangun, sekitar 14 ribu hektare. Bekas tambang yang tidak direklamasi terus melebar dan mengubah bentang alam secara permanen.
Perasaan Saat Melihat Kerusakan di Lapangan
Ginda Harahap menyampaikan bahwa ia merasa sedih saat melihat langsung kerusakan di lapangan. Alam yang seharusnya menjadi rumah dan pelindung manusia justru dirusak demi kepentingan ekonomi jangka pendek. Ketika alam rusak, ia berubah menjadi ancaman bagi warga di sekitarnya.
Proyeksi Krisis Ekologis di Jambi
Meskipun Walhi belum membuat proyeksi waktu secara spesifik, laju deforestasi saat ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan akan semakin cepat dan risiko bencana ekologis semakin besar. Selain itu, masih ada sekitar 32 ribu hektare kawasan yang menunggu izin PBPH baru.
Langkah Mitigasi yang Perlu Dilakukan
Rekomendasi Walhi antara lain: * Moratorium perizinan kehutanan, sawit, dan tambang di Jambi. * Evaluasi menyeluruh perizinan yang ada. * Penindakan tegas terhadap PETI dan mafia lingkungan tanpa tebang pilih. * Pemulihan kawasan hutan dan daerah aliran sungai berbasis ekosistem.
Pesan untuk Masyarakat
Walhi mengucapkan belasungkawa atas bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Itu adalah luka mendalam akibat pengelolaan sumber daya alam yang tidak adil. Bencana serupa bisa terjadi di Jambi jika kita tidak bersama-sama menjaga lingkungan. Jika rimba terakhir hilang, maka ruang hidup manusia ikut hilang. Ini tanggung jawab kita bersama demi generasi mendatang.