
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Memberikan Manfaat Besar bagi Orang Tua Siswa
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh pemerintah telah memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat, khususnya bagi para orang tua siswa. Banyak dari mereka merasa lebih lega dalam mengatur pengeluaran harian setelah program ini diluncurkan. Salah satu contoh nyata adalah Selamet Hidayat (45 tahun), seorang warga Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Selamet memiliki dua anak yang sedang duduk di bangku sekolah dasar. Anak pertamanya, Fatih (12 tahun), duduk di kelas 6 SD, sedangkan anak keduanya, Aqila (7 tahun), masih duduk di kelas 1 SD. Sebelum adanya MBG, setiap pagi Selamet harus mengeluarkan uang sebesar Rp 15 ribu untuk membeli sarapan bagi kedua anaknya. Menu sarapan biasanya berupa nasi kuning atau nasi lengko, yaitu makanan khas daerah Indramayu.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Namun, setelah program MBG diberlakukan, kedua anaknya kini dapat mengonsumsi makanan bergizi di sekolah mereka. Menurut Selamet, MBG dibagikan pada jam pertama sekolah, sekitar pukul 09.00 WIB. Dengan demikian, anak-anak tidak perlu lagi membawa bekal sarapan dari rumah. Hal ini membuat pengeluaran keluarga menjadi lebih hemat.
Selamet mengaku tidak tahu pasti menu yang diterima anak-anaknya dalam program MBG. Pihak sekolah tidak memberikan informasi detail kepada orang tua siswa. Namun, ia percaya bahwa makanan yang disajikan cukup bernutrisi karena setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyalurkan MBG dilengkapi dengan ahli gizinya.
Untuk makan siang, kedua anak Selamet tetap makan di rumah. Anak yang duduk di kelas 1 SD pulang sekolah pukul 10.30 WIB, sedangkan anak kelas 6 SD pulang pukul 12.00 WIB. Meskipun begitu, Selamet merasa lebih tenang karena anak-anaknya sudah mendapatkan makanan bergizi di sekolah.
Menurut Selamet, anak-anaknya sejauh ini menyukai MBG yang mereka terima. Namun, Aqila (7 tahun) tidak menyukai telur ayam. Oleh karena itu, jika MBG menyajikan lauk telur ayam, maka telur tersebut tidak akan dimakan. Untuk menghindari pemborosan, Selamet selalu membawa kotak makan kosong dari rumah sebagai wadah makanan yang tidak disukai anaknya.
Selamet sangat berterima kasih atas program MBG yang telah membantu mengurangi beban keuangan keluarganya. Meski demikian, ia juga sempat khawatir akibat peristiwa keracunan makanan yang terjadi di beberapa daerah. Untuk mengantisipasinya, ia memberikan edukasi kepada anaknya tentang ciri-ciri makanan basi. Sampai saat ini, tidak pernah ada kejadian keracunan makanan di sekolah anaknya.
Pengalaman Orang Tua Lain: Lebih Tenang dan Hemat Biaya
Hal senada juga diungkapkan oleh Sri (43 tahun), salah satu orang tua siswa di Kelurahan Margadadi, Kecamatan Indramayu. Anaknya yang duduk di kelas VII salah satu SMP swasta di Desa Pekandangan Jaya, Kecamatan Indramayu, juga setiap hari menerima MBG di sekolahnya.
Menurut Sri, MBG dibagikan kepada para siswa saat jam istirahat kedua, sekitar pukul 12.00 WIB. Meskipun anaknya pulang sekolah pada pukul 15.30 WIB, Sri merasa lebih tenang karena makan siangnya sudah tersedia melalui program MBG.
Sri mengatakan, dulu ketika anaknya masih duduk di kelas 6 SD, ia sering kerepotan mengantarkan makan siang ke sekolah. Jika tidak sempat memasak, ia akan membeli makanan matang sebagai bekal. Kini, dengan adanya MBG, ia tidak perlu lagi repot-repot mengantarkan makanan ke sekolah.
Meski begitu, Sri juga sempat khawatir dengan maraknya peristiwa keracunan makanan di sejumlah daerah. Ia pun memberi pesan kepada anaknya untuk teliti memeriksa kondisi makanan. Sampai saat ini, belum pernah terjadi kejadian keracunan makanan di sekolah anaknya.
Sri berharap agar program MBG dapat terus berlanjut karena memberikan manfaat yang besar, baik bagi anak maupun orang tua. Ia juga berharap pihak SPPG terus memperhatikan kualitas dan kondisi makanan yang disajikan kepada anak-anak.