Aliran Buah Ilegal Ancam Industri Sawit Sumsel, Gapki: Tatanan Bisa Kacau

admin.aiotrade 11 Des 2025 2 menit 17x dilihat
Aliran Buah Ilegal Ancam Industri Sawit Sumsel, Gapki: Tatanan Bisa Kacau

Penanggulangan Pencurian TBS dan Brondolan di Industri Sawit Sumsel

Pencurian tandan buah segar (TBS) dan brondolan di wilayah Sumatra Selatan (Sumsel) terus menjadi isu yang mengkhawatirkan bagi industri kelapa sawit. Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumsel, tindakan pencurian ini dapat mengganggu tata kelola industri yang telah berjalan selama ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Ketua Gapki Sumsel, Alex Sugiarto, menyampaikan bahwa aparat penegak hukum di Sumsel telah menangani ratusan kasus pencurian TBS. Ia menjelaskan bahwa jumlah kasus mencapai lebih dari 400, sementara keputusan hukum yang dikeluarkan sekitar 200-300 keputusan. Beberapa kasus bahkan sudah masuk ranah pidana.

Alex menekankan bahwa pendekatan utama yang harus dilakukan adalah sosialisasi. Dengan demikian, upaya pencegahan bisa dilakukan sebelum tindakan hukum diperlukan. Namun, jika pencegahan tidak lagi efektif, maka tindakan hukum harus dilakukan.

Dampak Pencurian TBS pada Struktur Industri Sawit

Menurut Alex, pencurian TBS memiliki potensi untuk merusak tata kelola industri sawit. Hal ini karena pencurian dapat membuka aliran buah ke pabrik pengolahan sawit (PKS) tanpa melalui kebun yang sah. Akibatnya, struktur persaingan dunia usaha menjadi tidak sehat dan operasional pabrik legal yang memiliki kebun juga terganggu.

“Tatanan industri sawit jadi kacau. Kami dari perkebunan yang memiliki pabrik membutuhkan buah tersebut,” ujar Alex.

Selain itu, pencurian brondolan juga menjadi masalah serius bagi perusahaan kelapa sawit. Brondolan merupakan komponen penting dalam menentukan rendemen CPO (crude palm oil). Dalam ketetapan harga yang dirilis oleh Dinas Perkebunan Sumsel setiap dua minggu sekali, komponen brondolan diperhitungkan sebesar 8–12% agar rendemen CPO bisa mencapai 22%.

Namun, jika brondolan dicuri dan dijual keluar, rendemen CPO akan turun di bawah 20%. Hal ini berdampak langsung pada biaya produksi, karena perusahaan harus membayar lebih mahal kepada plasma atau masyarakat untuk mendapatkan buah yang dibutuhkan.

Klasifikasi Kasus Pencurian dan Kerugian yang Diakibatkan

Alex mengakui bahwa selama ini, kasus pencurian dianggap sebagai tipiring karena nilai kerugiannya di bawah Rp2,5 juta. Namun, jika nilai total kerugian dari beberapa kasus dikumpulkan, angkanya bisa sangat besar.

“Kalau di bawah Rp2,5 juta itu tipiring, tapi kalau terjadi berkali-kali, misalnya 10 kali bisa jadi Rp25 juta. Kalau 100 kali tentu lebih besar lagi,” tambahnya.

Upaya untuk Mencegah Pencurian

Untuk menghadapi ancaman pencurian TBS dan brondolan, Gapki Sumsel menyarankan adanya kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Sosialisasi tentang dampak negatif pencurian harus terus dilakukan agar kesadaran masyarakat meningkat.

Selain itu, penguatan pengawasan dan penegakan hukum juga diperlukan. Dengan kombinasi pencegahan dan penindakan yang tepat, diharapkan industri sawit di Sumsel dapat tetap berjalan dengan baik dan berkelanjutan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan