
Kekerasan di Papua: Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Terus Berulang
Amnesti Internasional Indonesia kembali mengungkapkan kekhawatiran terhadap maraknya kasus penembakan warga sipil di wilayah Papua, baik di Provinsi Papua Pegunungan maupun Papua Barat. Organisasi ini menilai bahwa tindakan aparat keamanan yang menembak mati warga tanpa identifikasi jelas merupakan bentuk pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia.
Direktur Eksekutif Amnesti Internasional Indonesia, Usman Hamid, menyampaikan bahwa penembakan terhadap warga sipil di Papua sudah terjadi berulang kali tanpa ada penyelesaian hukum yang adil. Ia menegaskan bahwa hal ini menjadi masalah serius yang perlu segera ditangani.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Penembakan warga sipil di Papua sudah terlalu sering terjadi. Sayangnya, seluruh penembakan tersebut tidak berujung dengan koreksi dan pertanggungjawaban hukum, apalagi keadilan,” ujarnya dalam pesan WhatsApp kepada aiotrade, Selasa (21/10/2025).
Menurut Usman, salah satu penyebab utama sulitnya penegakan keadilan di Papua adalah kebijakan pemerintah pusat yang terus mengeksploitasi sumber daya alam tanpa persetujuan masyarakat adat setempat. Ia menyoroti pentingnya prinsip free, prior, and informed consent dari orang asli Papua.
"Pemerintah pusat mengabaikan pentingnya prinsip free, prior, and informed consent dari orang asli Papua. Lebih parah lagi, pengurasan kekayaan alam itu dilakukan dengan cara pengamanan yang melibatkan pengerahan militer besar-besaran,” tegasnya.
Usman menilai bahwa praktik pengerahan militer untuk menjaga kepentingan ekonomi di wilayah dalam negeri bertentangan dengan prinsip demokrasi. Menurutnya, tidak ada negara demokrasi di dunia ini yang mengerahkan militernya terhadap rakyatnya sendiri. Cara seperti ini hanya menempatkan rakyat sebagai musuh negara.
Tantangan Penegakan Hukum di Papua
Kekerasan yang terjadi di Papua bukanlah hal baru. Namun, upaya untuk menegakkan hukum dan memberikan keadilan bagi korban masih terasa sangat lemah. Hal ini memicu kekecewaan dari berbagai pihak, termasuk organisasi hak asasi manusia seperti Amnesti Internasional.
Amnesti Internasional menyerukan agar pemerintah Indonesia segera mengevaluasi pendekatan keamanan di Tanah Papua. Organisasi ini juga menekankan pentingnya pertanggungjawaban hukum atas setiap tindakan aparat keamanan.
"Operasi militer yang tidak terkendali hanya akan memperburuk penderitaan warga sipil dan memperpanjang lingkaran kekerasan di wilayah tersebut," tegas Amnesti Internasional.
Kebijakan Pemerintah dan Dampaknya pada Masyarakat
Pemerintah pusat dinilai kurang memperhatikan kepentingan masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya alam. Hal ini menciptakan ketidakpuasan di kalangan masyarakat lokal, yang merasa diperlakukan sebagai objek tanpa suara.
Selain itu, pengerahan militer yang terus-menerus untuk menjaga kepentingan ekonomi juga menimbulkan ketegangan di wilayah tersebut. Masyarakat merasa bahwa pemerintah lebih memprioritaskan kepentingan ekonomi daripada keselamatan dan kesejahteraan rakyat.
Perlu Ada Solusi yang Berkelanjutan
Untuk menghentikan siklus kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di Papua, diperlukan solusi yang berkelanjutan. Ini termasuk evaluasi kebijakan pemerintah, peningkatan partisipasi masyarakat adat, serta penegakan hukum yang adil dan transparan.
Amnesti Internasional berharap pemerintah Indonesia dapat segera mengambil langkah-langkah nyata untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan warga Papua. Dengan begitu, harapan akan perdamaian dan keadilan bisa terwujud di wilayah tersebut.