Anak Kampung Citamiang Berjuang Melalui Hutan Gelap Setiap Hari untuk Sekolah, Ingin Dunia Melihat K

admin.aiotrade 12 Nov 2025 3 menit 24x dilihat
Anak Kampung Citamiang Berjuang Melalui Hutan Gelap Setiap Hari untuk Sekolah, Ingin Dunia Melihat K
Anak Kampung Citamiang Berjuang Melalui Hutan Gelap Setiap Hari untuk Sekolah, Ingin Dunia Melihat Kebenarannya

Perjalanan Ekstrem Anak-Anak Kampung Citamiang Menuju Sekolah

Anak-anak di Kampung Citamiang, Desa Cikondang, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, harus menjalani perjalanan yang sangat ekstrem setiap hari untuk menuju sekolah. Meskipun kondisi perjalanan ini penuh tantangan dan bahaya, mereka tetap menunjukkan semangat luar biasa dalam mengejar pendidikan.

Kondisi Perjalanan yang Mengancam Jiwa

Perjalanan dimulai sejak subuh, ketika adzan subuh berkumandang. Di ujung kampung yang berbatasan dengan Sungai Cisanggiri, beberapa bocah sudah berkumpul mengenakan seragam sekolah. Mereka duduk sambil sarapan nasi yang dibungkus plastik, sambil menunggu orang tua mereka membawa senter untuk memandu perjalanan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Setelah menyeberangi jembatan rawayan sepanjang 70 meter yang hanya dibatasi tali seling baja, anak-anak menghadapi jalan berbatu basah sisa hujan dengan kontur menanjak dan panjang. Medan ini harus mereka lalui sekitar tiga kilometer untuk menuju SDN Cikondang 1 yang berada di pusat desa.

Jalur yang Lebih Berbahaya

Siswa SMP dan SMA melanjutkan perjalanan lebih jauh melewati jalan desa yang sudah dirabat beton. Namun, jalur yang paling menantang adalah melalui hutan kecil dan kebun yang masih gelap. Para siswa selalu berangkat bersama-sama karena merasa lebih aman.

Setelah satu jam perjalanan, mereka tiba di saung kecil di tepi sawah untuk beristirahat sejenak. Dari titik ini, rombongan mulai terpecah menjadi beberapa kelompok.

Penggantian Sepatu dan Keberanian

Tiba di ujung kampung Cikondang, para siswa mengganti sandal yang sejak dari rumah dibungkus plastik dengan sepatu sekolah. Sandal mereka ditata rapi di sebuah saung berukuran kecil dan baru dipakai kembali setibanya mereka pulang.

Nazwa (15), siswi kelas delapan SMPN 4 Cisompet, mengatakan dirinya tetap berkeinginan melanjutkan sekolah hingga SMA meski harus berjalan jauh. Hal serupa disampaikan Aos (13), siswa kelas enam SDN Cikondang 1. Ia mengaku tetap bersemangat berangkat sekolah bersama teman-temannya meski harus berjalan saat hujan.

Harapan Orang Tua dan Warga Setempat

Anita (27), orangtua siswa, hampir setiap hari mendampingi para anak berangkat sekolah. Ia kerap membuat rekaman perjalanan mereka dan membagikannya di media sosial hingga mendapat perhatian warganet. “Saya ingin orang di luar melihat dan berharap jalannya bisa diperbaiki, kasihan anak-anak,” kata Anita.

Ayat Hidayat (32), anggota BPD Cikondang, mengatakan perjuangan anak-anak Citamiang sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Pada 2014, pemerintah membangun jembatan rawayan baru menggunakan bantuan luar negeri, dan beberapa tahun terakhir jalan mulai diperkeras, meski belum seluruhnya.

Prestasi yang Menjanjikan

Kepala SDN Cikondang 1, Neli Andriany, mengatakan siswa dari Citamiang dikenal memiliki prestasi yang baik, termasuk seni tradisional pupuh Sunda. “Rata-rata masuk sepuluh besar. Semangat mereka bagus,” ujar Neli.

Namun, ia mencatat dalam beberapa tahun terakhir prestasi akademik menurun sejak mulai adanya akses listrik dan jaringan telepon yang memungkinkan anak-anak menggunakan telepon genggam. Meski begitu, semangat mereka untuk tetap bersekolah disebut tidak surut.

Penyebab Sulitnya Akses ke Sekolah

Akses buruk anak-anak di pedalaman Indonesia menuju sekolah setiap hari disebabkan oleh kombinasi faktor geografis, infrastruktur, ekonomi, dan sosial. Secara geografis, banyak wilayah pedalaman terletak di daerah pegunungan, hutan lebat, atau pulau terpencil yang sulit dijangkau.

Kondisi alam seperti sungai besar tanpa jembatan, jalan berlumpur saat musim hujan, dan jarak antarpermukiman yang jauh membuat perjalanan ke sekolah menjadi sangat sulit.

Dari sisi infrastruktur, pembangunan jalan, transportasi umum, dan fasilitas pendidikan di daerah-daerah terpencil masih sangat terbatas karena minimnya anggaran dan sulitnya akses logistik.

Faktor ekonomi juga berperan, karena banyak keluarga di pedalaman hidup dalam keterbatasan sehingga tidak mampu menyediakan sarana transportasi yang layak bagi anak-anak mereka.

Selain itu, faktor sosial seperti rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan dan kekurangan tenaga guru di daerah pedalaman turut memperparah kondisi tersebut.

Berita yang Viral dan Dibaca Banyak

Banyak orang yang terkesan dengan kisah perjuangan anak-anak Kampung Citamiang. Rekaman perjalanan mereka yang diunggah ke media sosial mendapat banyak respons positif. Mereka berharap perhatian ini dapat membuka pintu bagi perbaikan akses menuju sekolah.



Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan