
Fakta Baru Terkait Pembunuhan Ibu oleh Anak di Jember
Sebuah kasus tragis kembali terjadi di Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Seorang anak, Imam Gujali, tega membunuh ibunya sendiri dengan menggunakan besi tambal ban atau alat vulkanisir. Kasus ini mengejutkan masyarakat setempat dan memicu banyak pertanyaan mengenai penyebab yang melatarbelakangi perbuatan tersebut.
Dalam rilis pers Polres Jember pada Jumat (7/11/2025), disampaikan bahwa pelaku sebelum melakukan aksinya telah mengonsumsi obat antidepresan dalam jumlah besar. Hal ini diketahui dari pengakuan tersangka sendiri. Kasatreskrim Polres Jember, AKP Angga Riatma, menjelaskan bahwa obat tersebut membuat tubuh pelaku merasa nyaman, namun justru meningkatkan sensitivitas emosinya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Angga, kemungkinan besar saat kejadian, ibu korban sedang menegur pelaku karena tidak bekerja dan sering meminta uang. Dalam kondisi emosi yang tidak terkendali akibat pengaruh obat, pelaku memukul ibunya dengan besi vulkanisir. Peristiwa ini terjadi di rumah mereka di Dusun Kertonegoro Selatan, Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, Jember Selatan, pada Selasa malam (4/11/2025) sekitar pukul 20.00.
Pelaku memukul kepala dan perut korban menggunakan besi vulkanisir, lalu menginjak tubuh ibunya yang sudah terkapar di lantai rumah. Korban tewas di tempat akibat luka berat di bagian kepala dan tubuh.
Kondisi Mental Pelaku
Meskipun perbuatan pelaku sangat keji, polisi menilai bahwa pelaku tidak mengalami gangguan kejiwaan. Selama pemeriksaan, Imam mampu berkomunikasi dengan baik dan mengakui semua perbuatannya. Menurut Angga, ketika diperiksa, pelaku dapat menjawab pertanyaan dengan jelas dan sadar penuh dengan tindakannya.
“Ketika diperiksa pelaku nyambung diajak bicara dan sadar penuh dengan tindakannya,” tegas Angga. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku tidak dalam kondisi mental yang tidak stabil, meskipun konsumsi obat antidepresan dalam jumlah besar bisa memengaruhi emosinya.
Latar Belakang Pelaku
Selama lima tahun terakhir, Imam tinggal bersama ibunya setelah bercerai dari sang istri. Selama itu pula, kebutuhan hidupnya bergantung sepenuhnya pada keluarga. “Pelaku tidak bekerja dan semua kebutuhan, termasuk makan, selalu meminta pada ibunya,” tambah Angga.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi perilaku pelaku. Meskipun tidak ada indikasi gangguan jiwa, konsumsi obat antidepresan dalam jumlah besar bisa menjadi pemicu emosional yang ekstrem.
Kesimpulan
Kasus pembunuhan ini menunjukkan betapa pentingnya pengawasan terhadap penggunaan obat-obatan psikotropika. Meskipun pelaku tidak mengalami gangguan mental, pengaruh obat dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak. Dari segi hukum, pelaku akan diadili sesuai dengan prosedur yang berlaku.