Anaknya Tertimbun Reruntuhan, Wali Santri Berani Menyeberangi Laut ke Surabaya

admin.aiotrade 01 Okt 2025 3 menit 16x dilihat
Anaknya Tertimbun Reruntuhan, Wali Santri Berani Menyeberangi Laut ke Surabaya

Kondisi Kecemasan di Lokasi Tragedi

Di tengah upaya tim SAR yang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan korban dari reruntuhan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, ratusan wali santri menunggu keajaiban dengan wajah penuh harap dan cemas. Salah satu dari mereka adalah Saputro, 57 tahun, warga Kecamatan Kemal, Bangkalan. Ia menantikan kabar baik dari anak ketiganya, yang diduga terjebak dalam reruntuhan bangunan saat Salat Ashar.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Putra saya sampai saat ini belum ketemu. Padahal malam Sabtu kemarin (26/9) masih komunikasi dengan keluarga," ujar pria paruh baya yang mengenakan peci putih itu kepada aiotrade, Rabu (1/10). Saputro mengungkapkan bahwa ia baru menerima kabar ambruknya bangunan Pondok Pesantren tempat anaknya belajar pada Senin malam (29/9). Esok harinya, Selasa (30/9), ia bersama keluarga langsung menuju Sidoarjo.

"Selasa pagi, sekitar jam 7.00 WIB saya ke sini. Dari Kemal, Bangkalan naik perahu ke Surabaya, lalu ke sini," tambahnya ketika ditemui di posko darurat wali santri korban tragedi runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny.

Anak Saputro yang masih hilang bernama Muhammad Anas Fahmi, 15 tahun. Dari penuturan Saputro, Anas sudah mondok di Pondok Pesantren Al Khoziny sejak tiga tahun terakhir. Kali terakhir berkomunikasi dengan keluarga, santri yang duduk di bangku kelas 2 MTS Al Khoziny tersebut meminta dikirimi sejumlah makanan dan peralatan pondok.

“Memang kami setiap tiga minggu sekali kirim ke pondok. Minggu depan ini waktunya kirim. Saya nggak berdoa neko-neko, cuma satu, mudah-mudahan anak saya dan semua santri selamat,” tutur Saputro lirih, menahan tangis.

Kronologi Tragedi dan Korban yang Dievakuasi

Insiden tragis ini terjadi pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB. Bangunan empat lantai tersebut ambruk saat para santri Pondok Pesantren Al Khozini sedang melakukan Salat Ashar dua rakaat di lantai 1. Akibatnya, banyak santri yang terjebak dalam puing-puing bangunan.

Berdasarkan data sementara yang dikeluarkan Kantor Basarnas Surabaya, Selasa malam (30/9) sebanyak 100 orang santri menjadi korban tragedi ini. Dari jumlah korban tersebut, 3 orang dilaporkan meninggal dunia. Mereka adalah Maulana Affan Ibrahimafic, 15 tahun, warga Surabaya; Mochammad Mashudul Haq, 14 tahun, warga Surabaya; dan Muhammad Soleh, 22 tahun, warga Bangka Belitung.

Hingga berita ini ditulis, Rabu (1/10) pukul 12.30 WIB, Tim SAR gabungan terus berjibaku untuk menyelamatkan korban. Alat berat sudah siap standby sejak Senin (29/9), namun hingga kini belum digunakan karena struktur bangunan rapuh.

Proses Evakuasi yang Memakan Waktu

Proses evakuasi korban yang terjebak dalam reruntuhan bangunan sangat rumit dan memakan waktu. Tim SAR harus bekerja dengan hati-hati agar tidak semakin merusak struktur bangunan yang sudah rusak parah. Meskipun alat berat telah disiapkan, penggunaannya masih ditunda hingga kondisi bangunan lebih stabil.

Kemungkinan besar, proses pencarian dan penyelamatan akan berlangsung beberapa hari ke depan. Para petugas SAR terus berupaya keras untuk menemukan korban yang masih tertimbun di bawah puing-puing. Namun, setiap detik yang berlalu menjadi sangat berharga dalam usaha menyelamatkan nyawa manusia.

Perasaan Keluarga dan Harapan

Para keluarga korban terus berada di posko darurat, menunggu kabar tentang keberadaan anggota keluarga mereka. Banyak dari mereka yang tidak bisa tidur dan hanya bisa berdoa agar santri mereka dapat selamat. Beberapa dari mereka bahkan membawa barang-barang pribadi seperti baju, buku, atau mainan untuk dibawa ke lokasi kejadian sebagai bentuk dukungan moral.

Dalam situasi seperti ini, kebersamaan dan dukungan antar sesama menjadi hal yang sangat penting. Rasa kepedulian dan solidaritas terlihat jelas dari para wali santri yang terus berada di lokasi kejadian, meski harus menghadapi rasa cemas dan ketidakpastian.

Kesimpulan

Tragedi runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny menimbulkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat luas. Proses pencarian dan penyelamatan korban berjalan dengan penuh kesadaran dan hati-hati. Semoga keajaiban terjadi, dan semua korban dapat segera ditemukan serta diberi kesembuhan.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan