Analisis Biaya Whoosh Lebih Mahal dari Kereta Cepat Arab Saudi

admin.aiotrade 24 Okt 2025 4 menit 15x dilihat
Analisis Biaya Whoosh Lebih Mahal dari Kereta Cepat Arab Saudi

Perbandingan Biaya Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) dan Haramain High Speed Rail (HHR)

Biaya pembangunan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh yang mengalami pembengkakan biaya sering kali dibandingkan dengan proyek kereta cepat di negara lain, termasuk Haramain High Speed Rail (HHR) di Arab Saudi. Dalam artikel ini, akan dibahas perbedaan biaya antara kedua proyek tersebut serta faktor-faktor yang memengaruhi tingginya biaya konstruksi di Indonesia.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Biaya Konstruksi Proyek Whoosh dan HHR

Sampai saat ini, biaya konstruksi kereta cepat HHR diproyeksikan sekitar 7 miliar dolar AS atau ekuivalen Rp 116 triliun untuk trase sepanjang 1.500 kilometer. Sementara itu, biaya konstruksi Whoosh menembus 7,26 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 119,79 triliun (kurs Rp 16.500 per dolar AS).

Menurut Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Taufik Widjojono, perbedaan biaya ini sangat wajar karena karakteristik dan kompleksitas proyek di setiap lokasi atau negara berbeda secara signifikan.

Faktor-Faktor Penentu Biaya Proyek Kereta Cepat

Taufik menjelaskan bahwa ada beberapa faktor utama yang memengaruhi total investasi sebuah proyek kereta cepat:

  • Biaya umum penyelenggara: Biaya operasional perusahaan proyek.
  • Biaya perencanaan atau feasibility study (FS): Biaya untuk kajian atau studi kelayakan.
  • Pengadaan kontraktor/tender: Biaya yang terkait dengan proses lelang dan penunjukan kontraktor.
  • Pembebasan tanah (lahan): Biaya untuk akuisisi lahan, yang sangat sensitif terhadap risiko pembengkakan biaya.
  • Biaya konstruksi: Biaya pembangunan fisik infrastruktur seperti jalan rel, jembatan, terowongan, dan stasiun.
  • Biaya operasi: Ongkos energi, komunikasi, dan gaji tim operasional.
  • Biaya pemeliharaan: Biaya untuk perawatan infrastruktur.
  • Biaya keuangan: Bunga bank dan kewajiban finansial lainnya.
  • Area komersial: Ongkos dikembalikan melalui tarif dan konsesi komersial di stasiun/lokasi lain.

Perbandingan Kompleksitas Whoosh vs HHR

Perbedaan biaya per kilometer antara Whoosh dan HHR sangat dipengaruhi oleh jenis struktur yang mendominasi lintasan.

Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh)

  • Panjang Trase: ± 142,3 km
  • Kompleksitas Trase: Sangat tinggi
  • Jenis Konstruksi: Didominasi struktur layang (elevated) dan terowongan (tunnel).
  • Proporsi Konstruksi:
  • Elevated (jembatan layang): 83,30 km (sekitar 58,5 persen)
  • Tunnel (terowongan): 16,82 km (sekitar 11,8 persen)
  • Subgrade (di atas tanah): 41,68 km (sekitar 29,3 persen)
  • Kondisi Geologis & Terrain: Melewati kawasan padat penduduk (Jakarta-Bekasi), pegunungan, lembah, dan kondisi geologis yang rawan bencana gempa (Sesar Lembang, Baribis, dan Cimandiri) serta risiko longsor.
  • Kebutuhan Stasiun: 4 stasiun utama yang mencakup Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar.

Bangunan jalan rel dengan struktur jembatan/layang jauh lebih mahal dibandingkan pembangunan di atas tanah (subgrade). Karena Whoosh sebagian besar dibangun melayang dan menembus bukit atau gunung, biaya konstruksi per kilometer menjadi sangat tinggi.

Haramain High Speed Rail (HHR-Mekkah-Madinah)

  • Panjang Trase: 450 km
  • Kompleksitas Trase: Relatif rendah
  • Jenis Konstruksi: Didominasi pembangunan di atas tanah (subgrade).
  • Kondisi Geologis & Terrain: Sebagian besar melintasi wilayah gurun (datar) dengan kepadatan penduduk yang sangat rendah di sepanjang jalur, dan risiko gempa yang minimal. Jalur rel dibangun di atas median jalan raya (Haramain Road) untuk sebagian segmen.
  • Kebutuhan Stasiun: 5 Stasiun mencakup Mekkah, Jeddah, Bandara Jeddah, Kota Ekonomi Raja Abdullah, dan Madinah.

Meskipun panjang trase HHR jauh lebih panjang, mayoritas konstruksi dilakukan di atas tanah datar di wilayah gurun. Hal ini secara signifikan menghemat biaya konstruksi karena struktur layang atau terowongan yang mahal tidak banyak dibutuhkan.

Faktor Non-Teknis yang Mempengaruhi Biaya Whoosh

Selain kompleksitas konstruksi, terdapat faktor-faktor non-teknis yang memperburuk biaya proyek Whoosh. Pembebasan tanah proyek Whoosh sangat rumit dan kompleks, melewati 9 kabupaten/kota dengan kepadatan tinggi. Kondisi geologis juga sangat rentan gempa, longsor, dan tanah lunak, membutuhkan struktur anti-gempa dan fondasi yang sangat dalam, tahan dan kuat.

Semua ini meningkatkan risiko cost overrun yang signifikan karena negosiasi, ganti rugi, proses administrasi terkait lahan, juga kajian teknis teknologi konstruksi yang panjang.

Nilai cost overrun yang disepakati adalah sekitar 1,2 miliar dolar AS. Sebagian dari cost overrun ini didanai melalui pinjaman dari China Development Bank (CDB). Porsi utang yang ditanggung oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) konsorsium Indonesia dalam tubuh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai pengembang Whoosh untuk cost overrun ini mencapai 542,7 Juta dolar AS melalui pinjaman Fasilitas A dan Fasilitas B.

Biaya per km proyek Whoosh juga sering menjadi sorotan karena mencapai sekitar 51 juta dolar AS. Angka ini bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan proyek kereta cepat di China yang disebut berkisar antara 17 Juta hingga 30 Juta dolar AS per km, yang menjadi salah satu alasan munculnya isu dugaan inefisiensi biaya.

Namun, sebagaimana dijelaskan Taufik sebelumnya, kompleksitas konstruksi yang didominasi elevated dan tunnel, di Indonesia adalah faktor utama pendorong tingginya biaya per km. Sementara HHR relatif lebih mudah karena sebagian besar trase melewati wilayah gurun dengan kepadatan rendah. Dengan demikian, kondisi geologi relatif stabil dan minim risiko gempa. Selain itu, tidak dilaporkan adanya masalah serupa dalam skala besar dari proyek jumbo HHR ini.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan