Analisis: Rupiah Diperkirakan Melemah di Kisaran Rp 16.730-Rp 16.770

admin.aiotrade 17 Nov 2025 3 menit 11x dilihat
Analisis: Rupiah Diperkirakan Melemah di Kisaran Rp 16.730-Rp 16.770

Rupiah Melemah di Akhir Pekan, Prediksi Kenaikan Harga Berlanjut

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore hari ini, Senin, 17 November 2025, ditutup melemah sebesar 29 poin ke level Rp 16.736 per dolar Amerika Serikat. Melemahnya nilai tukar rupiah ini merupakan kelanjutan dari tren sebelumnya yang turun 40 poin ke level Rp 16.707 per dolar AS.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi bahwa rupiah pada perdagangan besok masih akan ditutup melemah. “Mata uang rupiah cenderung fluktuatif namun secara keseluruhan akan berada dalam rentang Rp 16.730 hingga Rp 16.770,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin, 17 November 2025.

Faktor Internal yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah

Dari faktor internal yang memengaruhi nilai tukar rupiah, Ibrahim menyebutkan bahwa Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 mencapai 5,33 persen. Angka ini lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,4 persen. Proyeksi ini dibuat dengan mempertimbangkan kebijakan moneter BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Meskipun proyeksi ini lebih rendah dari target APBN 2026, kemungkinan besar target pemerintah dapat tercapai, tergantung pada kecepatan dan efektivitas realisasi belanja pemerintah.

BI optimistis bahwa pengeluaran fiskal dapat direalisasi lebih cepat dari tahun ini, sehingga peluang pertumbuhan ekonomi 2026 mencapai 5,4 persen sebagaimana target APBN 2026 dapat terwujud. Selain itu, BI memproyeksikan inflasi pada 2026 akan berada di level 2,62 persen. Angka ini masih dalam kisaran sasaran inflasi BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen, namun sedikit di atas asumsi dasar APBN 2026 yang sebesar 2,5 persen.

Perbedaan Antara Target BI dan Menteri Keuangan

Berbeda dengan proyeksi BI, Menteri Keuangan menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2026 mencapai 6 persen secara tahunan. Optimisme ini didasarkan pada keyakinan bahwa fondasi perekonomian Indonesia akan membaik seiring waktu, dimulai dari kuartal IV 2025, dengan pertumbuhan hingga lebih dari 5,5 persen secara tahunan.

Sebagai landasan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 6 persen, berbagai indikator perekonomian terkini menunjukkan pemulihan. Misalnya, indeks penjualan ritel pada September 2025 tumbuh 3,7 persen dan diperkirakan tumbuh lebih tinggi pada Oktober 2025 sebesar 4,3 persen. Selain itu, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur pada Oktober 2025 berada di level ekspansif yaitu 51,2 atau naik dari 50,4 pada bulan sebelumnya.

Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Rupiah

Dari faktor eksternal, Ibrahim menyebutkan bahwa investor semakin yakin bahwa Federal Reserve kemungkinan besar tidak akan melonggarkan kebijakan dalam waktu dekat. Hal ini disampaikan oleh beberapa pembuat kebijakan The Fed yang menekankan bahwa inflasi masih tetap tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja belum melemah secara signifikan.

Sentimen pasar semakin terpukul oleh penutupan pemerintah AS yang membuat investor kehilangan indikator makro utama selama berminggu-minggu. Penutupan tersebut menunda rilis data dari Biro Statistik Tenaga Kerja, termasuk laporan pengkajian non-pertanian bulan September, yang kini akan dirilis pada hari Kamis.

Hari ini, para pedagang akan mengambil lebih banyak isyarat dari pidato beberapa pejabat The Fed. John Williams, Philip Jefferson, Neel Kashkari, dan Christopher Waller dijadwalkan akan berpidato hari ini.

Kekhawatiran dari Serangan di Ukraina

Selain itu, Ukraina melancarkan serangan besar-besaran terhadap Novorossiysk dan terminal Konsorsium Pipa Kaspia (CPC) di dekatnya, yang menyebabkan kerusakan dan menghentikan ekspor yang setara dengan sekitar 2 persen pasokan global. Namun, pada Minggu, laporan media mengatakan bahwa data pelacakan kapal tanker menunjukkan kapal tanker kembali memuat minyak mentah di pelabuhan.

Ibrahim menyebutkan bahwa meskipun dimulainya kembali pemuatan membantu meredakan krisis pasokan, pasar tetap berhati-hati. Militer Ukraina mengatakan telah menyerang kilang Ryazan Rusia pada Sabtu dan kilang Novokuibyshevsk di wilayah Samara pada Minggu. “Menimbulkan kekhawatiran baru atas gangguan jangka panjang,” ujar Ibrahim.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan