
Pembangunan Rumah Singgah di Denpasar Mencapai 55,339 Persen
Pembangunan Rumah Singgah di Denpasar saat ini sedang berlangsung dan telah mencapai progres sebesar 55,339 persen. Proyek yang dimulai pada 21 Juli 2025 ini berada di Jalan Gatot Subroto VI, Denpasar.
Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menjelaskan bahwa Rumah Singgah ini akan difungsikan sebagai tempat perlindungan sementara bagi masyarakat korban kekerasan. Menurutnya, kehadiran fasilitas ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah terhadap kelompok rentan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Rumah singgah ini disiapkan bagi masyarakat yang mengalami kekerasan. Seperti ada KDRT dalam rumah tangga atau kekerasan pada orang tua, bisa ditampung di Rumah Singgah,” ujarnya.
Jika korban adalah anak-anak, mereka akan ditampung, dididik, dan mendapat konseling sampai kondisi keluarga membaik. Setelah itu, kasus akan ditindaklanjuti melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Denpasar.
Selain itu, Jaya Negara menekankan bahwa pembangunan infrastruktur publik harus menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat. “Kami ingin semuanya lengkap, ada sekolah, jalan, pura, hingga rumah singgah untuk pemberdayaan masyarakat. Ini upaya agar seluruh kebutuhan masyarakat Denpasar bisa terlayani,” katanya.
Penyesuaian Desain Fasilitas Rumah Singgah
Wali Kota juga menyoroti penyesuaian desain fasilitas Rumah Singgah agar lebih efektif dan ramah pengguna. “Tadinya satu kamar hanya satu pintu, sekarang kami buat dua agar bisa dibedakan antara kamar laki-laki dan perempuan. Detail seperti ini penting agar fungsinya maksimal,” ujarnya.
Pembangunan Rumah Singgah ini menggunakan anggaran sebesar Rp 2,748 miliar. Kontraktor pembangunan Rumah Singgah ini adalah CV Perama Dewata. Diperkirakan, pembangunan Rumah Singgah ini bisa rampung pada 17 Desember 2025.
Fasilitas yang Menyentuh Kebutuhan Masyarakat
Selain menjadi tempat perlindungan sementara, Rumah Singgah juga dirancang untuk memberikan layanan komprehensif kepada masyarakat yang membutuhkan. Fasilitas ini tidak hanya berfokus pada kebutuhan fisik, tetapi juga psikologis dan sosial.
Beberapa layanan yang akan diberikan antara lain: * Konseling dan bimbingan psikologis untuk para korban kekerasan. * Pendidikan dan pelatihan untuk anak-anak yang menjadi korban. * Bantuan dari dinas terkait untuk menyelesaikan masalah secara hukum dan sosial.
Dengan adanya Rumah Singgah ini, pemerintah kota berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan terhadap korban kekerasan. Selain itu, fasilitas ini juga diharapkan mampu menjadi contoh dalam pembangunan infrastruktur publik yang inklusif dan berkelanjutan.
Tantangan dan Solusi dalam Pembangunan
Meski progres pembangunan sudah cukup baik, masih ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah keterbatasan anggaran dan waktu. Namun, pihak terkait berkomitmen untuk memastikan semua target tercapai sesuai rencana.
Selain itu, proses koordinasi antara berbagai pihak juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembangunan. Dari awal hingga akhir, semua stakeholder terlibat dalam memastikan bahwa Rumah Singgah dapat berfungsi optimal.
Keberlanjutan dan Manfaat Jangka Panjang
Setelah selesai dibangun, Rumah Singgah diharapkan menjadi pusat pelayanan yang berkelanjutan. Dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, fasilitas ini akan terus beroperasi dan memberikan manfaat jangka panjang.
Pemerintah kota juga berencana untuk melakukan evaluasi berkala guna memastikan bahwa Rumah Singgah tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, fasilitas ini tidak hanya menjadi tempat perlindungan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem perlindungan sosial yang kuat.