
Kondisi Industri Manufaktur di Tengah Ramadan 2026
Pelaku industri manufaktur masih belum menambah produksi meskipun sudah menjelang bulan Ramadan. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian kebijakan pemerintah yang terus berlangsung. Kondisi ini terlihat dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mengalami penurunan signifikan. Pada November 2025, IKI mencapai 53,45, namun pada bulan ini turun menjadi 51,9.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni, menyatakan bahwa peningkatan permintaan untuk pasar Ramadan 2026 telah masuk, tetapi masih dalam tahap industri kemasan. Ia menjelaskan bahwa industri makanan dan minuman akan meningkatkan produksi sebulan sebelum Ramadan. Hal ini juga akan dilakukan oleh sektor manufaktur lain seperti garmen dan mungkin kendaraan pribadi.
Variabel Produksi dalam IKI Desember 2026
Febri menyebutkan bahwa variabel produksi dalam IKI Desember 2026 naik sebesar 92 basis poin, namun masih dalam kondisi kontraksi dengan posisi 48,41 poin. Selain itu, variabel pesanan baru mengalami penurunan menjadi 52,76 poin, sedangkan persediaan baru turun ke 54,99 poin.
Penurunan variabel persediaan produk merupakan langkah pelaku industri untuk mengosongkan gudangnya dalam menghadapi lonjakan permintaan Ramadan 2026. Febri menegaskan bahwa pelaku industri saat ini sedang bersiap untuk memenuhi pasar bulan puasa.
Penyebab Penurunan Pesanan Baru
Penurunan variabel pesanan baru disebabkan oleh ketidakpastian kebijakan insentif oleh pemerintah. Survei IKI menunjukkan bahwa beberapa insentif yang ditunggu oleh pelaku industri adalah penurunan suku bunga pinjaman, insentif kredit investasi, stimulus ekspor, maupun insentif pembelian di tingkat konsumen.
Akibatnya, pelaku industri menunda kontrak pembelian bahan baku, sementara konsumen menunda pembelian barang jadi. Febri menjelaskan bahwa kejadian ini bersifat musiman, sehingga membuat pelaku industri menunggu dan melihat situasi pada akhir tahun.
Upaya Pemerintah dalam Menggairahkan Pasar Otomotif
Meski demikian, pemerintah mulai mengkaji kelanjutan insentif fiskal otomotif pada 2026 di tengah lesunya penjualan mobil nasional. Sinyal tersebut menguat setelah Kementerian Perindustrian mengirimkan surat usulan insentif ke Kementerian Keuangan hari ini, Selasa (30/12).
Febri masih enggan mengumumkan isi surat tersebut, baik insentif yang diberikan maupun jenis produk otomotif yang akan mendapatkan stimulus. Untuk diketahui, pemerintah telah memberikan diskon pajak pertambahan nilai dan pajak pertambahan nilai barang mewah untuk kendaraan elektrik dan hybrid pada tahun ini.
Perspektif Menteri Perindustrian
Febri menyampaikan bahwa kebutuhan insentif pada industri otomotif semakin tinggi akibat lesunya penjualan kendaraan baru di dalam negeri. Alhasil, pelaku industri otomotif eksisting mulai mempertimbangkan keberlanjutan usahanya di dalam negeri.
Karena itu, pemerintah berupaya menempuh berbagai cara untuk menggairahkan pasar mobil baru. Dengan memberikan dukungan berupa insentif pada 2026, masyarakat maupun para pelaku industri dapat terbantu.
“Tidak adanya intervensi kebijakan akan membuat tekanan ini semakin dalam,” ujar Febri Hendri Antoni, Juru Bicara Kemenperin di laman resmi Kemenperin, Selasa (2/12).