
Upaya Pemkab Sidoarjo Menghadapi Musim Hujan
Mendekati musim hujan, pemerintah kabupaten (Pemkab) Sidoarjo terus melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi banjir. Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah normalisasi sungai dan penyediaan pompa air. Dengan langkah ini, diharapkan potensi banjir dapat diminimalisir, terutama di wilayah-wilayah yang sering terdampak.
Normalisasi Sungai sebagai Langkah Utama
Salah satu proyek normalisasi yang sedang berlangsung adalah di Afvoer Kedung Peluk, yang berada di Kecamatan Candi. Proyek ini ditargetkan mencapai tiga kilometer, namun sampai saat ini baru sekitar 600 meter yang telah terealisasi. Kepala Dinas PU BMSDA Sidoarjo, Dwi Eko Saptopo, menyatakan bahwa pihaknya berharap pekerjaan bisa lebih cepat selesai agar semua sungai sudah dinormalisasi sebelum musim penghujan tiba.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Dwi, Pemkab Sidoarjo saat ini fokus pada pengerjaan normalisasi di wilayah Timur Sidoarjo. Dengan pengerukan yang dilakukan, kapasitas sungai akan meningkat, sehingga mampu menampung lebih banyak air. Ada empat titik pengerjaan normalisasi yang menuju wilayah hilir atau ke laut.
Selain itu, Pemprov Jawa Timur juga akan melakukan normalisasi sungai dengan total panjang sekitar tujuh kilometer. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas juga akan melakukan normalisasi di wilayah Selatan Sidoarjo sepanjang enam kilometer. Rencananya, BBWS Brantas juga akan melanjutkan normalisasi sungai di wilayah Utara Sidoarjo yang berada di Kecamatan Waru.
Peran Pompa Air dalam Antisipasi Banjir
Selain normalisasi sungai, Pemkab Sidoarjo juga mensiagakan 34 pompa air. Salah satunya ditempatkan di empat desa di Tanggulangin yang mengalami penurunan tanah. Di kawasan tersebut, banjir kerap terjadi saat musim hujan tiba. Pompa-pompa ini siap digunakan jika terjadi genangan air di wilayah tersebut.
“Total kita punya 34 unit atau 34 rumah pompa, semuanya sudah ready difungsikan jika terjadi genangan sewaktu-waktu,” ujar Kepala Dinas PUBMSDA.
Tanggapan Warga atas Proses Pengerukan
Warga di sekitar sungai Kedungpeluk, khususnya di Perumahan Bumi Cabean Asri, mengaku senang dengan proses pengerukan yang sedang berlangsung. Mereka menyatakan bahwa selama ini, kawasan perumahan tersebut sering terkena banjir, bahkan sempat menggenang hingga 40 sentimeter.
“Kalau ada pengerukan sungai seperti ini, tentu potensi banjir lebih kecil. Dan semoga sudah tidak ada banjir lagi,” ujar warga setempat.
Beberapa warga juga menjelaskan bahwa sungai Kedungpeluk menjadi titik kumpul aliran air dari berbagai arah. Aliran sungai dari atas sering membawa tumbuhan liar seperti enceng gondok, yang menyumbat aliran air dan berdampak pada banjir.
Tantangan dalam Proses Normalisasi
Meskipun proses normalisasi sedang berlangsung, masih ada tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah adanya tumbuhan liar yang menyumbat aliran air. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pemeliharaan rutin agar aliran air tetap lancar.
Selain itu, perlu adanya koordinasi antara Pemkab Sidoarjo, Pemprov Jawa Timur, dan BBWS Brantas agar semua proyek normalisasi dapat berjalan secara efektif dan saling mendukung.
Kesimpulan
Dengan upaya normalisasi sungai dan pemasangan pompa air, Pemkab Sidoarjo berusaha meminimalisir risiko banjir menjelang musim hujan. Meski masih ada tantangan, langkah-langkah ini diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah rawan banjir.