
IHSG Masih Berpotensi Naik Meski Fundamental Dinilai Rapuh
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencatatkan rekor-rekor baru, namun kinerjanya masih belum cukup kuat. Hal ini disebabkan oleh ketidakstabilan fundamental pasar saham yang dipengaruhi oleh kebijakan asing yang cenderung menjual saham secara besar-besaran. Meskipun demikian, indeks ini masih memiliki peluang untuk kembali menguat, didukung oleh sentimen aksi window dressing dan rilis kinerja kuartalan perusahaan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kinerja Historis IHSG di Kuartal IV
Berdasarkan data historis, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menyebut bahwa IHSG sering menunjukkan kinerja positif di kuartal IV. Pada bulan Oktober, indeks rerata naik sebesar 1%, November relatif stabil, sedangkan Desember menguat antara 2,3% hingga 3,1%. Kombinasi ini menghasilkan return kuartalan sekitar 2% hingga 4% dengan rata-rata sekitar 3%.
Katalis Positif yang Masih Ada
Sebelumnya, IHSG telah mendapat dorongan dari berbagai katalis positif seperti stimulus ekonomi, injeksi likuiditas perbankan, tren penurunan suku bunga global dan domestik, serta rebalancing MSCI. Namun, meskipun ada katalis-katalis tersebut, investor asing masih cenderung menjual saham di pasar modal Indonesia. Hingga Jumat kemarin, asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp 56,93 triliun sejak awal tahun.
Dua Sentimen Utama yang Masih Menjadi Harapan
Menurut Liza, investor masih bisa berharap pada dua sentimen utama, yaitu perbaikan kinerja kuartalan emiten, terutama bank besar, dan aksi window dressing. Tradisi Desember sebagai masa window dressing tetap menjadi faktor pendorong utama bagi IHSG menjelang akhir tahun.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus juga setuju bahwa kedua katalis tersebut masih berpeluang menjadi bahan bakar bagi laju IHSG di sisa tahun ini. Hal ini akan diperkuat jika The Fed benar-benar memangkas tingkat suku bunganya pada Oktober dan Desember.
Pengaruh Sentimen Global
Sentimen global yang muncul dari penutupan pemerintahan AS, pertemuan OPEC+, dan forum COP 30 di Brazil juga turut memengaruhi pasar saham. Penutupan pemerintahan AS dapat memengaruhi kondisi perekonomian dan pasar saham Amerika Serikat. Sementara itu, pertemuan OPEC+ berpotensi meningkatkan produksi minyak mentah, sedangkan COP 30 akan membahas isu komoditas hijau seperti nikel dan tembaga.
Sektor yang Berpotensi Pulih
Liza memprediksi sektor perbankan besar seperti BBCA dan BBNI akan membukukan laba yang lebih baik secara kuartalan karena adanya perbaikan pada net interest margin (NIM). Sementara itu, sektor konsumer seperti ICBP dan MYOR juga akan tumbuh karena didukung oleh penurunan harga komoditas.
Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee menambahkan bahwa sektor properti seperti CTRA, BSDE, dan PWON juga akan berpeluang pulih. Selain itu, sektor teknologi akan diuntungkan jika ada katalis kontrak atau orderbook yang terdorong oleh peristiwa tertentu. Kinerja sektor transportasi dan logistik pun kerap terangkat saat terjadinya periode puncak permintaan jelang akhir tahun.
Rekomendasi Saham
Di sektor konsumer non siklikal, investor bisa mengincar saham JPFA, ICBP, dan SSMS dengan target harga masing-masing Rp 2.330, Rp 11.450, dan Rp 2.400. Di sektor energi, AKRA bisa dilirik dengan target harga Rp 1.630.
Untuk sektor infrastruktur, HGII, IPCC, dan PGEO bisa jadi pilihan dengan target harga masing-masing Rp 210, Rp 1.330, dan Rp 1.800. Sementara itu, di sektor keuangan, BBRI dan BMRI dijagokan Liza dengan target harga masing-masing Rp 4.720 dan Rp 6.300.
Dari sektor barang baku dasar, ANTM bisa diincar dengan target harga Rp 4.000. Untuk sektor konsumer siklikal, HRTA dengan target harga Rp 1.100, dan CYBR untuk sektor teknologi dengan target Rp 1.450 per saham.
Rekomendasi Jangka Panjang
Hans mengunggulkan saham-saham blue chips seperti BBCA, ASII, dan BBRI. "Lakukan akumulasi beli kalau terjadi koreksi di saham atau pasar saham," sarannya.
Sementara itu, Harry Su merekomendasikan saham BBCA, TLKM, ICBP, AMRT, dan JPFA dengan target harga masing-masing Rp 9.600, Rp 3.900, Rp 12.800, Rp 3.000, dan Rp 2.000. "Kami menilai emiten ini defensif, memiliki fundamental kuat, dan berpotensi memberi kontribusi pada pergerakan IHSG di tengah volatilitas saham laggard," tutupnya.
BBRI Chart
by TradingView